LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggandeng Bulog setempat-Mabar menggelar pasar murah beras. Hal dimaksud guna menekan harga beras di daerah itu yang harganya belakangan meningkat tajam.
Pantauan media ini di Pasar Rakyat Batu Cermin Labuan Bajo, Senin (2/10/2029), tampak masyarakat setempat antusias atas operasi pasar murah beras.
Mereka berebutan untuk mendapatkan beras murah yang diurus Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perindag) Mabar dan Bulog setempat.
“Terima kasih pemerintah (Pemkab dan Bulog Mabar) atas program pasar murah beras ini,” komentar Marta di sela-sela berebutan beli beras murah di Pasar Batu Cermin- Labuan Bajo ibu kota Mabar, Senin (2/10/2023).

Program ini lanjut Marta, sangat membantu warga Mabar yang miskin. Sebab harga beras di pasaran setempat akhir-akhir ini naik gila-gilaan.
“Harap pemerintah terus melakukan pasar murah sampai harga beras setempat benar-benar-normal,” katanya.
Kepala Dinas Perindag Mabar, Gabriel Bagung ketika itu mengatakan, pasar murah untuk menstabilkan pasaran beras setempat. Ini kerjasama Perindag dan Bulog Mabar. Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp.11.500 per kilogram (kg).
“Untuk sementara ketersediaan beras buat operasi pasar murah 21 ton dan ini yang pertama,” singkatnya.
Kepala Bulog Labuan Bajo Mabar, Pier Solissa, pada kesempatan yang sama menambahkan, pasar murah tersebut menghabiskan 6 ton beras.
Di Pasar Batu Cermin ludes 4 ton, dan di Pasar Baru Labuan Bajo habiskan 2 ton.
“Pasar murah selanjutnya kita tunggu koordinasi dari Dinas Perindag,” ungkap Solissa.
Di tempat yang sama, Umi Warsiti, pedagang beras setempat mengungkapkan, harga beras setempat akhir- akhir ini naik tajam dari sebelumnya. Tapi kenaikan itu bervariasi, tergantung jenis berasnya.
Contoh, beras ciherang dihargainya Rp.15.000/kg, dan beras membramo Rp.14.000/kg. Naik tajamnya harga beras setempat akhir- akhir ini karena stok sangat terbatas, ujar Umi Warsiti.
Beras-beras yang dijualnya, lanjut Umi Warsiti, didatangkan dari Sulawesi Selatan dan Sumbawa-Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan beras lokal Mabar tidak ada, sulit dapat di petani, katanya. *
Penulis: Andre Durung / Editor: Wentho Eliando










