BAJAWA, FLORESPOS.net-Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Citra Bakti di Kabupaten Ngada, NTT, menggelar kegiatan pelatihan pendampingan anak berkebutuhan khusus untuk 56 mahasiswa tingkat akhir Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD).
Kegiatan tersebut dilakukan secara daring selama 8 hari mulai 15-26 September 2023, terselenggara atas kerjasama STKIP Citra Bakti Ngada melalui Unit P3AI dengan BBGP (Balai Besar Guru Penggerak) Kabupaten Jawa Barat.
“Tujuan dari kegiatan ini untuk membekali calon guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus,” kata Ketua STKIP Citra Bakti Ngada, Dr. Dek Ngurah Laba Laksana, M.Pd dalam penjelasannya.
Ia menjelaskan, bahwa pembelajaran dan perlakuan bagi kelas yang memiliki anak berkebutuhan khusus berbeda dengan kelas biasa. Sehingga memerlukan guru yang mampu untuk menguasai kelas, siswa, pembelajaran dan penangan yang bersifat khusus bagi anak inklusif.
“Pelatihan tersebut terdiri dari pemberian informasi, praktik penanganan, dan pembelajaran anak berkebutuhan khusus di kelas,” katanya.
Kepala Unit Pusat Pengembangan dan Peningkatan Aktivitas Instruksional (P3AI), Andi Nafsia, M.Pd mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah peserta memahami pendidikan inklusif, keberagaman peserta didik, melakukan identifikasi dan asesmen, akomodasi kurikulum, dapat menyusun strategi pembelajaran dan pengelolaan layanan, dan dapat merancang program kebutuhan khusus.
“Sasaran kegiatan pelatihan pendampingan ini adalah 56 orang mahasiswa PGSD dan PG-PAUD STKIP Citra Bakti Ngada. Diharapkan, dapat meningkatnya wawasan calon guru dalam penyelenggara pendidikan inklusif,” katanya.
Dia mengatakan, materi-materi yang disajikan dalam kegiatan tersebut bermuara dari kebutuhan mahasiswa untuk memperdalam ilmu tentang pelatihan dan pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus.
“Sebagai modal utama dalam mengembangkan kompetensi diri dan integritas kualitas lulusan STKIP Citra Bakti sehinggan mampu bersaing di bursa kerja nantinya,” katanya.
Kata dia, materi yang disampaikan di antaranya Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pendidikan Inklusif, Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Berdiferensiasi, Konsep Pendidikan Inklusif, Keberagaman Peserta Didik, Identifikasi dan Asesmen Peserta Didik, Akomodasi Kurikulum, Strategi Pembelajaran dan Pengelolaan Layanan Program Kebutuhan Khusus. *
Penulis: Wim de Rozari / Editor: Wentho Eliando










