RUTENG, FLORESPOS.net-Masalah sosial anak baik berupa kenakalan atau motivasi belajar turun tidak terlepas dari kondisi keluarga. Ditemukan fakta bahwa aneka masalah terjadi akibat ditinggal orang tua.
Dalam laporannya di hadapan Wabup Heri Ngabut dan Kadis Pendidikan Frans Gero dalam kunjungan pemantauan ujian naik kelas di SMPN 1 Wae Rii di Timung, Manggarai, NTT, Selasa (13/6/2023), Kaseknya Alexander YB. Alitrabis mengatakan, dalam banyak kejadian anak-anak di sekolah ditemukan fakta-fakta.
“Kita telusuri mengapa anak itu nakal atau motivasi belajarnya turun atau bahkan hilang. Kita temukan sejumlah soal,” katanya.
Dikatakan, dalam penelusuran didapat fakta bahwa anak-anak itu ada yang ditinggal ayahnya yang merantau. Sehari-hari anaknya hanya dengan mamanya.
Lalu, ada juga anak yang ditinggal mamanya apakah merantau atau hal lainnya. Setiap hari sang anak hanya dengan ayahnya.
Atau bahkan ada anak yang ditinggal kedua orang tuanya. Anak-anak itu hanya diurus keluarga lainnya.
Menurutnya, apa yang terjadi sudah pasti berpengaruh secara psikologis anak baik berupa kenakalan-kenakalan maupun semangat belajar yang tidak sesuai dengan harapan.
Sekolah, demikian Kasek Alitrabis, berupaya menangani dan membina secara baik sesuai dengan protap yang ada. Dalam perkembangan, ada yang bisa berubah. Tetapi, ada yang sulit dan bahkan tidak bisa.
Yang sulit itu, demikian Kasek Alitrabis, umumnya anak sudah berumur di atas 16 tahun. Anak-anak itu sulit menerima pembinaan yang diberikan.
Kasek Alitrabis menjelaskan, dalam situasi apapun anak, pembinaan dan bimbingan terus dilakukan. Konseling diberlakukan pada anak-anak itu agar bisa berubah dan paling penting bisa bersekolah dengan baik.
Ketika itu, Wabup Heri Ngabut tidak merespons khusus soal masalah sosial pada anak-anak sekolah itu. Tetapi, Wabup Heri meminta perhatian sekolah terkait beasiswa.
“Beasiswa tolong diperhatikan betul. Utamakan anak orang yang betul-betul tidak mampu, anak yatim, anak piatu, dan anak yatim piatu,” katanya.
Dengan adanya beasiswa itu, orang tua tidak berpikir lagi biaya sekolah. Harapannya, hal itu memotivasi anak untuk bersekolah.
Hal yang sama juga dengan Kadis Pendidikan Frans Gero tidak merespon khusus. Kadis Gero hanya meminta sekolah untuk memberikan sertifikat kepada siapa saja anak-anak yang berprestasi tanpa pilih kasih.
“Prestasinya apa saja, kita beri dukungan berupa sertifikat. Saya selalu siap untuk teken tanda tangan,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin / Editor: Anton Harus










