RUTENG, FLORESPOS.net-Mobilitas pencuri sangat cepat begitu usai beraksi seperti kejadian di Manggarai, NTT. Curi di Reo, tetapi pelakunya dibekuk di Kota Ruteng.
Dihubungi wartawan, Rabu (14/6/2023), Kapolres AKBP Edwin Saleh melalui Humas Ipda I Made Budiarsa mengatakan, tiga pemuda dicokok polisi karena adanya laporan masuk hilangnya lima handphone penghuni asrama di Kota Reo, kemarin.
“Tim Jatanras segera bergerak pasca adanya laporan. Dalam hitungan jam, polisi menangkap tiga pemuda tidak di Reo, tetapi Kelurahan Pitak, Kota Ruteng, kemarin,” katanya.
Dikatakan, maling yang mencuri handphone itu, yakni SAV (18) pria yang berprofesi sebagai nelayan dan beralamat di Kampung Pandang Gaya, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok;
Lalu, HR (18) pria yang berpekerjaan sebagai petani dengan alamat di Boncu Kode, Desa Perak, Kecamatan Cibal; dan ASV (18), pria, pekerjaan petani yang beralamat di Kampung Wetok, Desa Langkas, Kecamatan Cibal.
Dalam penangkapan tiga pemuda, demikian Humas Budiarsa, ikut diamankan barang bukti handphone, yakni handphone Redmi 9c warna orange, handphone Vivo warna biru hitam, handphone Vivo warna biru putih, handphone Samsung J2 Prime warna silver, dan handphone Vivo warna hitam.
Ikut diamankan juga kendaraan yang digunakan para pencuri seperti sepeda motor Honda Revo warna biru dan sepeda motor Honda Supra Fit warna hijau.
Saat ini, para pelaku dan barang bukti diamankan di Polres Manggarai. Selanjutnya penyelidikan dan penyidikan diserahkan ke Unit Tindak Pidana Umum untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Menurutnya, sesuai dengan hasil interogasi, tiga pelaku beraksi dini hari Selasa (14/6/2023). Dua tempat berbeda yang dimasuki para pencuri di Kota Reo.
Lokasinya di Asrama Santika di Kelurahan Barang Kolong, Kelurahan Mata Air dan di Kampung Haji, Kelurahan Reo.
Sebelumnya, warga Kota Ruteng, Herman Radus mengatakan, pencurian itu memang selalu meresahkan. Kenyamanan siapapun sangat terusik karena khawatir barangnya dicuri kapan saja.
“Untuk kasus pencurian, baiknya pelaku dihukum berat agar yang lain jera. Kalau ringan saja, orang merasa biasa saja,”katanya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










