MBAY, FLORESPOS.net – Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi NTT yang termasuk daerah rawan bencana, baik bencana alam, bencana non alam maupun bencana sosial yang tersebar di 7 kecamatan, meliputi kekeringan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, abrasi pantai, gelombang ekstrem, wabah penyakit dan konflik sosial atau konflik antar kelompok atau teror.
Demikan hal itu disampaikan Ketua Panitia Focus Group Discussion (FGD) dokumen rencana kontijensi ancaman bencana kekeringan, banjir, tanah longsor dan gempa bumi berpotensi tsunami, Marianus U. Dhaki Dae . Kegiatan tersebut di laksanakan di aula Setda Nagekeo, Kamis (8/6/2023).
Marianus Dhaki Dae yang juga Kabid pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Nagekeo dalam laporan menyatakan, dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi beragam bentuk ancaman bencana tersebut, maka Pemkab Nagekeo melalui kerjasama lintas sektor pentaheliks melakukan langkah-langkah antisipasi.
Salah satunya berupa penyusunan dokumen rencana kontijensi (renkon) sebagai bentuk rencana persiapan penanganan kedaruratan jika terjadi bencana.
Dijelakan pula bahwa tahun 2021 yang lalu, Pemda Nagekeo bersama forum penanggulangan bencana daerah telah melakukan penyusunan dokumen renkon versi 4.0 terhadap 3 jenis ancaman bencana nyata di Nagekeo yaitu, bencana kekeringan, banjir dan tanah longsor.
Dalam proses penyusunannya dilakukan secara terpisah oleh tiga tim yang berbeda. Selanjutnya di tahun 2022, melalui kerja sama dengan Yayasan Plan Internasional area Flores Cabang Nagekeo, BPBD bersama FPRB Nagekeo telah menyusun dokumen renkon versi 5.0 terhadap bencana kekeringan, banjir, dan tanah longsor.
Dalam rencana tersebut belum dilakukan uji coba atau simulasi atas dokumen itu sehingga belum dapat disahkan. Tahun 2023 ini, kembali dilanjutkan terhadap 3 jenis ancaman bencana sekaligus menyusun 1 dokumen renkon yang baru, yakni renkon gempa bumi berpotensi tsunami.
Lanjutnya, kegiatan FGD dokumen hari ini serta simulasi ruang dan gladi posko pada Jumat (9/6/2023) merupakan tahapan yang harus ditempu dalam proses penyusunan rencana kontijensi dan masih menyisakan 2 tahapan proses lagi.
Untuk diketahui, tujuan FGD dokumen renkon adalah untuk memperoleh interaksi data dari diskusi sekelompok partisan atau rensponden dalam hal meningkatkan ketajaman atau kedalaman data dan informasi untuk melengkapi dokumen.
Narasumber dan tim penyusun kegiatan FGD dan simulasi rencana kontijensi berasal dari BPBD Nagekeo, Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Nagekeo, Yayasan Mitra Tani Mandiri dan Yayasan WISE.
Sementara peserta yang mengikuti kegiatan FGD dan simulasi renkon hari ini sebanyak 80 orang yang berasal dari semua unsur pentaheliks penanggulangan bencana daerah, yakni dari unsur pemerintah, akademisi atau LSM, dunia usaha, masyarakat dan media.*
Penulis: Arkadius Togo/Editor: Anton Harus










