BENTARA NET: Euforia Petasan - FloresPos Net

BENTARA NET: Euforia Petasan

- Jurnalis

Sabtu, 27 Desember 2025 - 10:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

FENOMENA petasan dalam perayaan Natal dan Tahun Baru telah lama berdenyut sebagai bagian dari tradisi di banyak daerah, seakan menjadi gema kolektif yang menghubungkan generasi.

Dentuman yang memecah langit malam dan kilatan cahaya yang menari di udara bukan sekadar pesta bunyi dan warna, melainkan simbol sukacita yang meluap, tanda bahwa manusia ingin menegaskan keberadaannya di tengah waktu yang terus bergerak.

Petasan dapat dibaca sebagai metafora tentang kerinduan manusia akan momen transenden: ledakan sesaat yang menyala di langit lalu padam, mengingatkan kita pada kefanaan hidup sekaligus pada intensitas kebahagiaan yang ingin dirayakan.

Ia menjadi bahasa universal kegembiraan, diwariskan turun-temurun, namun juga menyimpan pesan bahwa setiap cahaya yang meledak di angkasa adalah peringatan akan keterbatasan, dan justru di sanalah manusia diajak untuk menemukan makna yang lebih dalam dari perayaan.

Baca Juga :  BENTARA NET: Dari Wae Sambi, Pelajaran Kecil yang Besar Artinya

Lebih dari ledakan bunyi dan cahaya, petasan menjelma menjadi ajang kebersamaan yang mempertemukan masyarakat dalam satu ruang pengalaman. Orang-orang berkumpul, menonton, dan merayakan secara kolektif, merasakan getaran yang sama dalam setiap dentuman yang mengisi udara.

Dalam momen itu, perayaan menjadi milik komunitas yang berbagi sukacita bersama. Dengan demikian, petasan hadir bukan sekadar benda yang meledak di langit malam, melainkan simbol perjumpaan, kebersamaan, dan semangat hidup yang menyala di tengah masyarakat.

Baca Juga :  BENTARA NET: Tatkala Merah Putih Berkibar

Namun, tradisi penggunaan petasan dalam perayaan Natal dan Tahun Baru juga sarat dengan risiko serta persoalan etis yang tidak bisa diabaikan.

Dentuman yang dianggap sebagai tanda sukacita sering kali berujung pada kecelakaan, terutama bagi anak-anak, yang bisa mengalami luka bakar, kehilangan anggota tubuh, bahkan kematian.

Suara ledakan yang keras mengganggu ketenangan, melukai keheningan malam, dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi bayi, lansia, orang sakit, maupun hewan peliharaan.

Dari sisi lingkungan, sisa pembakaran petasan menghasilkan asap dan partikel berbahaya yang menambah polusi udara, memperburuk kualitas hidup, dan meninggalkan jejak kerusakan yang tidak sejalan dengan semangat perayaan.

Berita Terkait

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis
BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’
BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah
BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan
BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing
BENTARA NET: Di Balik Status yang Berakhir
BENTARA NET: Menanti Aksi untuk ‘Ruang Suci’
BENTARA NET: Pancawindu Kemanusiaan
Berita ini 85 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:03 WITA

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:27 WITA

BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:29 WITA

BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah

Sabtu, 26 September 2026 - 10:59 WITA

BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan

Sabtu, 19 September 2026 - 11:05 WITA

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA