RUTENG, FLORESPOS.net-Ecco Farm Green Kajong, Manggarai,. NTT, sudah mulai menghasilkan uang karena sebagian tanaman horti sudah bisa dipanen dan dijual ke masyarakat.
Kegiatan ekonomi yang dipusatkan di Paroki Kajong, Kevikepan Reo, Keuskupan Ruteng ini patut dicontoh dalam upaya memberdayakan ekonomi umat dengan mengedepankan budidaya horti tanpa pupuk kimia alias 100 persen menggunakan pupuk kompos/organik.
Dihubungi wartawan, Rabu (20/9/2023), Pastor Paroki Kajong, Rm. Bernad Palus Pr, mengatakan, beberapa waktu belakangan ini, pihaknya sudah mulai memanen beberapa jenis horti yang ditanam di sekitar pastoran, beberapa waktu lalu.
“Tanam horti yang bibitnya diberikan Bank NTT Cabang Ruteng ditandai seremoni penanaman perdana dilakukan Gubernur Viktor Laiskodat (kini sudah mantan, red),” katanya.
Dikatakan, horti yang mulai dipanen dan dijual sekarang ini seperti sayur asin, tomat, petsai/lombok, dan lain-lain.
Sayuran yang dipanen dijual ke masyarakat sekitar Paroki Kajong seperti di pusat Paroki, Wase Ajo, Lante, Sambi dan Wae Wua dengan harga yang terjangkau.
Untuk pucai/fombok untuk sementara terjual sudah mencapai Rp 3.750 ribu dengan harga Rp 10 ribu per pohon jika dibeli di lokasi dan Rp 15 ribu jika diantar. Yang terjual ini baru sebagian dari total yang ditanam 700 anakan.
Lalu, untuk jenis sayur asin hasil penjualan mencapai Rp 1,2 juta. Belum dihitung hasil penjualan tomat yang juga sudah mulai dipanen.
Menurutnya, jenis horti yang ditanam pada area seperempat hektar sekitar paroki, yakni tomat, fombok, brokoli, parea, kestela, bayam merah, dan lain-lain.
“Yang kerja ini, anak-anak di pastoran di bawah bimbingan seorang Frater yang sedang melaksanakan TOP di Paroki Kajong,” katanya.
Ecco Farm Green Paroki Kajong, nantinya tidak saja untuk pengembangan horti, juga ternak babi. Ternak babi sudah ada yang siap membantu menyusul proposal yang telah diberikan, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, seorang warga Vitalis Marung mengatakan, usaha horti yang dilakukan paroki memang pengaruhnya besar bagi umat. Umat bisa termotivasi untuk menanam untuk tujuan menghasilkan uang.
“Musim kemarau biasanya sulit dapat sayur. Tetapi karena teknologi, sayur bisa dengan mudah didapat walaupun harus dibeli,” katanya.
Apa yang dilakukan di Paroki Kajong bisa menjadi contoh untuk warga sekitar. Menanam sayuran dengan memanfaatkan kotoran hewan dan perawatan dengan penyiraman. Mudah dan praktis untuk ditiru. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










