Membaca Wajah Pilkades Manggarai Barat: Antara Politik Uang, Biaya Politik dan Residu Demokrasi Desa - FloresPos Net - Page 2

Membaca Wajah Pilkades Manggarai Barat: Antara Politik Uang, Biaya Politik dan Residu Demokrasi Desa

- Jurnalis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebab, pilihan dalam Pilkades bukan hanya menentukan siapa yang duduk sebagai kepala desa, tetapi juga menentukan arah kebijakan, pelayanan publik, pembangunan, dan kehidupan sosial masyarakat selama bertahun-tahun.

Biaya Politik Tinggi: Ketika Demokrasi Menjadi Mahal

Pilkades juga menghadirkan persoalan lain: tingginya biaya politik. Kandidat membutuhkan tim, sosialisasi, pertemuan, transportasi, logistik, komunikasi, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Dalam kondisi tertentu, biaya politik yang besar dapat menciptakan tekanan kepada kandidat maupun lingkungan sosial di sekitarnya.

Baca Juga :  Nagekeo: Hakikat Ada yang Belum Tuntas

Persoalannya bukan hanya berapa banyak uang yang dikeluarkan selama proses pemilihan, tetapi juga bagaimana biaya tersebut mempengaruhi kehidupan pemerintahan desa setelah kandidat terpilih.

Jika biaya politik terlalu tinggi, muncul pertanyaan penting: apakah kepala desa nantinya dapat bekerja sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat, atau justru terbebani oleh kepentingan dan biaya politik masa lalu?

Dokumen dalam perkara di Mahkamah Konstitusi bahkan mencatat adanya aspirasi kepala desa yang mengaitkan panjangnya masa jabatan dengan persoalan politik pascapemilihan serta tingginya biaya politik dalam Pilkades.

Baca Juga :  Bawaslu Ende Imbau ASN Jaga Netralitas di Pemilu 2024 

Karena itu, demokrasi desa membutuhkan model politik yang lebih sehat: kompetisi tetap ada, tetapi tidak berubah menjadi beban sosial dan ekonomi yang berkepanjangan.

Kekeluargaan Terbelah: Ketika Pilihan Politik Masuk ke Rumah

Inilah salah satu persoalan paling sensitif dalam Pilkades. Di desa, hubungan sosial tidak berdiri sendiri. Masyarakat saling mengenal, bertetangga, memiliki hubungan keluarga, hubungan adat, hubungan pekerjaan, dan hubungan sosial yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Berita Terkait

Yance Maring Motivasi Peserta Yudisium Fakultas Pertanian Unipa Maumere Jangan Malu Jadi Petani
Masuk dan Menetap di Lahan HGU Nangahale Pengadilan Tinggi Kupang Putuskan Tiga Warga Bersalah, Apa Pertimbangannya?
Audiens dengan APDESI dan PPDI Ende, Bupati Yosef Katakan Ada Komunikasi yang Tersumbat
Satu Abad Paroki St. Martinus Bola–Songsong dengan Kegiatan Rohani, Sosio Karitatif Hingga Jasmani Menuju Puncak Perayaan 11 November 2027
Terseret Arus di TWAL Teluk Maumere, 4 Penyelam Berhasil Ditemukan Selamat
Sengkarut Program Big Push Peternakan Sapi di Flores Timur–‘Sewa Lahan, Persiapan Pakan Hingga Minta APH Jangan Diam’
Diving di Teluk Maumere, Tiga Penyelam WNA Belum Ditemukan Satu Lainnya Selamat
Rayakan HUT ke-25, Stipas KAK Gelar Futsal dan Bola Voly
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:18 WITA

Membaca Wajah Pilkades Manggarai Barat: Antara Politik Uang, Biaya Politik dan Residu Demokrasi Desa

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:26 WITA

Yance Maring Motivasi Peserta Yudisium Fakultas Pertanian Unipa Maumere Jangan Malu Jadi Petani

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:43 WITA

Masuk dan Menetap di Lahan HGU Nangahale Pengadilan Tinggi Kupang Putuskan Tiga Warga Bersalah, Apa Pertimbangannya?

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:48 WITA

Audiens dengan APDESI dan PPDI Ende, Bupati Yosef Katakan Ada Komunikasi yang Tersumbat

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:43 WITA

Satu Abad Paroki St. Martinus Bola–Songsong dengan Kegiatan Rohani, Sosio Karitatif Hingga Jasmani Menuju Puncak Perayaan 11 November 2027

Berita Terbaru