Ketika pilihan politik berbeda, perbedaan itu terkadang masuk hingga ke ruang keluarga. Saudara dapat berbeda pilihan. Teman dapat berseberangan.
Tetangga dapat menjadi pendukung kandidat yang berbeda. Bahkan hubungan yang sebelumnya begitu dekat dapat menjadi renggang hanya karena pilihan politik.
Padahal Pilkades hanya berlangsung dalam satu momentum, sementara hubungan kekeluargaan dan kehidupan bermasyarakat berlangsung jauh lebih panjang. Karena itu, perbedaan pilihan seharusnya tidak menjadi alasan untuk memutus persaudaraan.
Demokrasi justru menjadi dewasa ketika masyarakat mampu mengatakan: kita boleh berbeda pilihan, tetapi kita tetap satu keluarga, satu kampung, dan satu masyarakat desa.
Residu Pilkades: Ketika Pemilihan Selesai, Persoalan Belum Berakhir
Hasil Pilkades dapat diumumkan dalam satu hari, tetapi dampak sosialnya belum tentu selesai pada hari yang sama. Ada yang masih menyimpan kekecewaan. Ada yang merasa kalah. Ada yang merasa jasanya tidak dihargai. Ada pula hubungan sosial yang belum sepenuhnya pulih.
Inilah yang dapat disebut sebagai residu Pilkades—sisa-sisa ketegangan politik yang terbawa ke dalam kehidupan masyarakat setelah pemilihan selesai. Jika tidak dikelola dengan baik, residu tersebut dapat memengaruhi hubungan antara masyarakat dengan pemerintah desa. Bahkan dapat menghambat kerja sama dalam pembangunan.
Karena itu, setelah Pilkades berakhir, yang dibutuhkan bukan lagi bahasa kampanye, tetapi bahasa rekonsiliasi. Yang kalah perlu menerima hasil dengan lapang dada. Yang menang perlu merangkul, bukan membalas.
Tim pemenangan perlu kembali menjadi bagian dari masyarakat. Pemerintah desa harus bekerja untuk seluruh warga, bukan hanya untuk mereka yang memberikan dukungan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










