Membaca Wajah Pilkades Manggarai Barat: Antara Politik Uang, Biaya Politik dan Residu Demokrasi Desa - FloresPos Net - Page 3

Membaca Wajah Pilkades Manggarai Barat: Antara Politik Uang, Biaya Politik dan Residu Demokrasi Desa

- Jurnalis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika pilihan politik berbeda, perbedaan itu terkadang masuk hingga ke ruang keluarga. Saudara dapat berbeda pilihan. Teman dapat berseberangan.

Tetangga dapat menjadi pendukung kandidat yang berbeda. Bahkan hubungan yang sebelumnya begitu dekat dapat menjadi renggang hanya karena pilihan politik.

Padahal Pilkades hanya berlangsung dalam satu momentum, sementara hubungan kekeluargaan dan kehidupan bermasyarakat berlangsung jauh lebih panjang. Karena itu, perbedaan pilihan seharusnya tidak menjadi alasan untuk memutus persaudaraan.

Demokrasi justru menjadi dewasa ketika masyarakat mampu mengatakan: kita boleh berbeda pilihan, tetapi kita tetap satu keluarga, satu kampung, dan satu masyarakat desa.

Baca Juga :  Paradoks Pembangunan Pesisir: Menakar Kesiapan Substantif Kampung Nelayan Merah Putih di Bumi Nian Sikka

Residu Pilkades: Ketika Pemilihan Selesai, Persoalan Belum Berakhir

Hasil Pilkades dapat diumumkan dalam satu hari, tetapi dampak sosialnya belum tentu selesai pada hari yang sama. Ada yang masih menyimpan kekecewaan. Ada yang merasa kalah. Ada yang merasa jasanya tidak dihargai. Ada pula hubungan sosial yang belum sepenuhnya pulih.

Inilah yang dapat disebut sebagai residu Pilkades—sisa-sisa ketegangan politik yang terbawa ke dalam kehidupan masyarakat setelah pemilihan selesai. Jika tidak dikelola dengan baik, residu tersebut dapat memengaruhi hubungan antara masyarakat dengan pemerintah desa. Bahkan dapat menghambat kerja sama dalam pembangunan.

Baca Juga :  Politik Identitas: Menguraikan Konflik dan Mencari Solusi Damai

Karena itu, setelah Pilkades berakhir, yang dibutuhkan bukan lagi bahasa kampanye, tetapi bahasa rekonsiliasi. Yang kalah perlu menerima hasil dengan lapang dada. Yang menang perlu merangkul, bukan membalas.

Tim pemenangan perlu kembali menjadi bagian dari masyarakat. Pemerintah desa harus bekerja untuk seluruh warga, bukan hanya untuk mereka yang memberikan dukungan.

Berita Terkait

Yance Maring Motivasi Peserta Yudisium Fakultas Pertanian Unipa Maumere Jangan Malu Jadi Petani
Masuk dan Menetap di Lahan HGU Nangahale Pengadilan Tinggi Kupang Putuskan Tiga Warga Bersalah, Apa Pertimbangannya?
Audiens dengan APDESI dan PPDI Ende, Bupati Yosef Katakan Ada Komunikasi yang Tersumbat
Satu Abad Paroki St. Martinus Bola–Songsong dengan Kegiatan Rohani, Sosio Karitatif Hingga Jasmani Menuju Puncak Perayaan 11 November 2027
Terseret Arus di TWAL Teluk Maumere, 4 Penyelam Berhasil Ditemukan Selamat
Sengkarut Program Big Push Peternakan Sapi di Flores Timur–‘Sewa Lahan, Persiapan Pakan Hingga Minta APH Jangan Diam’
Diving di Teluk Maumere, Tiga Penyelam WNA Belum Ditemukan Satu Lainnya Selamat
Rayakan HUT ke-25, Stipas KAK Gelar Futsal dan Bola Voly
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:18 WITA

Membaca Wajah Pilkades Manggarai Barat: Antara Politik Uang, Biaya Politik dan Residu Demokrasi Desa

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:26 WITA

Yance Maring Motivasi Peserta Yudisium Fakultas Pertanian Unipa Maumere Jangan Malu Jadi Petani

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:43 WITA

Masuk dan Menetap di Lahan HGU Nangahale Pengadilan Tinggi Kupang Putuskan Tiga Warga Bersalah, Apa Pertimbangannya?

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:48 WITA

Audiens dengan APDESI dan PPDI Ende, Bupati Yosef Katakan Ada Komunikasi yang Tersumbat

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:43 WITA

Satu Abad Paroki St. Martinus Bola–Songsong dengan Kegiatan Rohani, Sosio Karitatif Hingga Jasmani Menuju Puncak Perayaan 11 November 2027

Berita Terbaru