LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pasca gempa bumi Flores, ratusan warga Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) terserang diare. Tidak ada yang meninggal dunia, stok obat Dinas Kesehatan (Dinkes) Mabar cukup tersedia. Gempa Flores terjadi 15 Agustus 2026, berkekuatan M 7,7.
Lely, Program Pengelola Diare pada Dinkes Mabar, mengungkapkan, jumlah warga Mabar yang terkena diare pasca gempa bumi Flores pada pertengahan Agustus 2026 lalu sebanyak 376 orang dan tak ada yang meninggal dunia.
“Ini kejadian per Agustus 2026 pasca gempa Flores. Dan tidak ada yang meninggal dunia,” kata Lely menanggapi media ini di kantornya Dinkes Mabar di Labuan Bajo, Selasa (22/9/2026), seizin Sekretaris Dinkes, Tarsi Cai.
Menurut Lely, angka 376 korban diare tersebut khusus kasus Agustus 2026,dan peningkatan lonjakan kasus terjadi pasca gempa. Diduga terjadi karena faktor kebersihan.
“Sepertinya masyarakat kurang menjaga kebersihan, di antaranya terkait makanan dan air minum yang dikonsumsi mungkin kurang higienis,” katanya.
“Ada juga laporan dari masyarakat, ada mata air setempat yang airnya keru,” ujar Lely.
Pada kesempatan yang sama, Cai menambahkan, terselamatkannya para penderita diare pasca gempa berkat kerja keras para petugas kesehatan di semua tingkatan, baik di Pustu-Pustu, Puskesmas-Puskesmas dan di Rumah Sakit-Rumah Sakit di seantero Mabar.
Stok obat-obatan diare di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mabar, dalam hal ini Dinkes, cukup tersedia, baik pada tingkatan Pustu, Puskesmas maupun di rumah sakit-rumah sakit setempat, cukup tersedia, katanya.
Cai membenarkan laporan masyarakat bahwa ada air yang mengalir dari sumber mata air setempat mengalami keru pasca gempa. Dinas (Dinkes) mengambil sampel air yang keru, uji laboratorium, dan hasilnya tak berpengaruh. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










