Saat membuka festival, Menteri Widiyanti mengingatkan kembali pertanyaan yang diajukan Keuskupan Ruteng lima tahun lalu: bagaimana Labuan Bajo dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan masyarakatnya.
“Golo Koe menghadirkan jawabannya melalui sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja,” ujar Widiyanti.
Menurutnya, kekuatan festival ini terletak pada kemampuannya menghadirkan Labuan Bajo secara lebih utuh bagi wisatawan, sekaligus menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam memperkenalkan identitas daerahnya.
“Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia,” katanya.
Pengakuan terhadap Festival Golo Koe sebagai salah satu event unggulan nasional berjalan seiring dengan manfaat yang kian luas bagi masyarakat.
Pada penyelenggaraan 2025, Festival Golo Koe menarik lebih dari 45.000 wisatawan, melibatkan 173 UMKM, 883 pekerja seni, dan 1.473 tenaga kerja, serta menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp2,82 miliar.
“Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal,” ujar Menteri Pariwisata.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Keuskupan Labuan Bajo, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, dan seluruh pihak yang telah membesarkan Festival Golo Koe hingga menjadi salah satu event unggulan Indonesia. Harapannya, festival ini terus mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang maju bersama masyarakat dan tetap teguh pada akar budayanya.
Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan bahwa Golo Koe bukan semata perayaan iman. Festival ini juga menjadi penggerak nilai-nilai keberlanjutan ekologis dan kehidupan masyarakat setempat.
“Bagi kami, Festival Golo Koe merupakan bagian dari promosi kepariwisataan daerah, sekaligus menjadi motor penggerak bagi nilai-nilai keberlanjutan ekologis dan kehidupan di sini,” ujarnya.
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










