LABUAN BAJO, FLOREPO.net-Sejumlah pedagang di Pasar Rakyat Batu Cermin Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) dikabarkan hengkang dari pasar harian tersebut. Diduga bangkrut akibat omzet turun karena daya beli masyarakat melemah.
Nurmaini, pedagang pakaian di pasar Batu Cermin Labuan Bajo mengatakan itu menanggapi Florespos.net belum lama berselang di pasar tersebut terkait tantangan bisnis pakaian di tengah kepungan kemudahan pesanan “barang online”. Ia ditemani suaminya Aharuddin.
Menurutnya, omzet jualannya tahun-tahun belakangan terus menurun. Penyebabnya bukan karena saingan barang online, yang pesan dan hantar langsung ke alamat pemesan, tetapi sepertinya akibat daya beli masyarakat yang melemah, rendah.
“Kalau saya bukan karena saingan online, tapi daya beli masyarakat rendah. Perputaran uang di masyarakat melambat. Kita tahu sendiri situasi negara akhir-akhir ini kaya bagaimana lagi, makin susah,” ujar Nurmaini.
Sesaat sebelumnya, di tempat yang sama (Pasar Rakyat Batu Cermin), sejumlah pedagang pakaian yang lain, Adi Nurdawi, Sri Lestari, dan Arni, mengatakan, pembeli pakaian di pasar tersebut selama ini sepi. Omzet mereka pun menurun drastis. Antara lain saingan dengan barang-barang yang dipesan melalu online.
Masih Nurmaini, penghasilannya menurun mulai Covid-19, orang yang beli pakaian di los/petak jualannya di Pasar Batu Cermin seolah terus menurun sampai sekarang.
Bahkan pada momen keagaman, seperti Natal, Sambut Baru, Lebaran dan lain-lain, jarang masyarakat belanja. Namun pada waktu-waktu tertentu banyak masyarakat yang belanja pakaian di los/petaknya. Sebelumnya konsumen yang belanja pakaian di lapaknya ramai.
“Menurut saya pengaruh online tidak terlalu. Tapi daya beli masyarakat rendah, turun sekali sejauh ini. Mereka mau beli dengan apa kalau tidak ada uang. Situasi negara sekarang juga, kita tahu, lagi susah, “ komentar Nurmaini lagi.
Belakangan, lanjut Nurmaini, sejumlah pedagang pakaian di pasar tersebut (Batu Cermin) sepertinya sudah hengkang. Diduga karena mereka mengalami kebangkrutan gegara omzet penjualan terus menurun tajam. Berarti daya beli masyarakat juga menurun, katanya.
Kalau sudah begitu, bagaimana mau menutup biaya belanja modal, sewa los/petak jualan di pasar tersebut. Belum lagi menutup pinjaman di bank, kalau ada, dan lain sebagainya.
“Beberapa bulan terakhir ini mereka-mereka itu sudah tidak kelihatan lagi jualan di sini (Pasar Batu Cermin). Mereka sekitar delapan orang. Mungkin istilahnya mereka itu bangkrut,” kata Nurmaini.
“Tidak juga begitu mungkin. Mungkin mereka jualan di tempat lain,” sambung Aharuddin yang berdiri disamping istrinya, Nurmaini yang saat itu sedang duduk. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Anton Harus










