Lanjutnya, pada saat yang sama, salah seorang staf Seksi Pendidikan Katolik, Saudara Simon Petrus Supardi, berupaya mengarahkan Saudara Marsenilus Atapuken untuk meninggalkan ruangan sesuai arahan Kepala Seksi.
“Dalam proses tersebut terjadi adu argumentasi antara keduanya.Dalam perdebatan tersebut, Saudara Simon Petrus Supardi menyampaikan bahwa Saudara Marselinus Atapuken tidak menghormati pimpinan dan tidak menunjukkan etika.dalam berkomunikasi,” ucapnya.
Syafiuddin menambahkan, karena situasi semakin emosional, Simon kemudian mengucapkan kalimat yang pada intinya berbunyi kalau manusia satu kali bicara pasti mengerti.
Simon mengatakan, kalau sudah disuruh keluar ya pasti keluar”. Karena perdebatan terus berlangsung, maka terucap secara spontanitas oleh simon dengan kata “Monyet”.
“Ucapan yang mengandung kata “Monyet” tersebut kemudian menjadi pokok persoalan dan memicu kegaduhan serta kesalahpahaman yang berkembang setelah kejadian itu,” jelasnya.
Syafiuddin menambahkan, sebagai tindak lanjut atas kejadian tersebut, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka telah melakukan berbagai langkah.
Pertama,penanganan awal pasca kejadian dimana sesaat setelah kejadian, PLT Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka bersama Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam segera menemui Saudara Marselinus Atapuken untuk melakukan pendekatan persuasif, memberikan penjelasan, serta menenangkan situasi agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Kemenag Sikka melakukan koordinasi dengan Kantor Wilayah. Bidang Pendidikan Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Bapak Klemen Keu melakukan komunikasi secara langsung melalui sambungan telepon dengan Saudara Marselinus Atapuken sebagai upaya membangun komunikasi dan mencari penyelesaian secara damai.
Selain itu, pendekatan secara kekeluargaan. Saudara Simon Petrus Supardi bersama istri Kepala Seksi Pendidikan Katolik melakukan pertemuan dengan Kepala Sekolah tempat Saudara Marselinus Atapuken bertugas.
“Pertemuan tersebut bertujuan membangun komunikasi yang baik sekaligus mengupayakan penyelesaian persoalan secara kekeluargaan,” ujarnya.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










