LARANTUKA, FLORESPOS.net-Sejumlah bangunan sekolah di Kecamatan Adonara Timur dan Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kerusakan ringan, sedang dan berat.
Kerusakan tersebut terjadi akibat guncangan gempa 4,6 Skala Rigter yang terjadi pada Rabu (8/4/2026) diikuti dengan ratusan kali gempa susulan hingga Minggu (12/4/2026).
Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur menyebutkan secara fisik bangunan sekolah di wilayah Kecamatan Adonara Timur mengalami kerusakan ringan.
Sekolah-sekolah tersebut, yakni di Desa Terong; TK Al iman, SDN Terong. Sementara di Desa Lamahala Jaya, yakni TK RA Rahman, SDN 1, SDN 2 dan SDN 3 Lamahala, SDI Lamahala, SMPN 1 Adonara Timur, dan SMA Muhamadiyah.
“Bangunan sekolah-sekolah ini tidak mengalami kerusakan yang berarti. Retak kecil. Jadi mau bilang rusak berat, ringan dan sedang juga tidak,” kata Kepala Dinas PKO Flores Timur, Felix Suban Hoda kepada Florespos.net, di ruang kerjanya, Senin (13/4/2026)
Felix Suban mengatakan, berdasarkan pantauan langsung di lapangan, kerusakan sedang terdapat pada beberapa bangunan sekolah di Kecamatan Solor Timur, yakni SDN Lamakera dan SDI Wato Buku.
“Untuk di Kecamatan Solor Timur, hanya pada SDN Lamakera dan SDI Wato Buku. Dua bangunan ini retaknya cukup besar sehingga pada Kamis atau beberapa hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar,” katanya.
Felix Suban mengatakan, telah melakukan pendata sekolah di wilayah Kecamatan Adonara Timur dan Kecamatan Solor Timur yang mengalami kerusakan akibat bencana gempa bumi.
“Kami sudah turun melakukan pendataan. Khusus yang rusak kecil atau ringan, untuk sementara bisa gunakan dana BOS perbaiki. Untuk yang rusak sedang dan berat kami sudah laporkan ke Dikdasmen,” katanya.
Dia mengatakan, sejak terjadi gempa para Rabu malam atau Kamis dini hari diikuti dengan beberapa kali gempa susulan, lembaga pendidikan di dua wilayah kecamatan tersebut tidak diliburkan, tapi karena situasi dan kondisi maka tidak ada kegiatan belajar mengajar (KBM).
“Sekarang setelah gempa susulan semakin berkurang dan kekuatan gempa makin melemah, perlu diupayakan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Sambil melihat situasi dan kondisi. Mengingat saat ini sedang ujian akhir dan ujian akhir sekolah,” kata Felix Suban.
Dia mengharapkan sekolah-sekolah di lokasi bencana gempa dapat bekerjasama dengan instansi terkait lain seperti Dinas Sosial dalam hal ini Tagana untuk memberikan berbagai hal berkaitan mitigasi bencana.
“Ini penting agar anak-anak tidak trauma dan tahu bagaimana cara menghadapi bencana seperti gempa bumi. Kami sudah koordinasi dengan Korwil agar kegiatan belajar tetap berjalan dan perlu ada mitigasi bencana,” kata Felix Suban.
Gempa berkekuatan 4,6 Skala Rigter mengguncang Kabupaten Flores Timur pada Rabu (8/4/2026) kemarin. Titik gempa berada antara Pulau Solor dan Adonara. Gempa susulan terus terjadi bahkan berkali-kali hingga Minggu (12/4/2026) siang.
Gempa susulan yang terjadi berkali-kali ini membuat warga setempat semakin was-was. Sebagian besar bangunan rumah tinggal mereka dan fasilitas umum lainnya sudah retak bahkan ada sudah bergelantung.
Pantauan Florespos.net, sejak gempa hingga Minggu (12/4/2026), sebagian besar warga terdampak gempa memilih membuat secara mandiri dan tidur di tenda darurat dari terpal di halaman depan rumah.
Data yang dirilis BPBD Kabupaten Flores Timur per Minggu (12/4/2026), ada 12 desa di dua kecamatan terdampak langsung bencana gempa bumi tersebut.
Duabelas desa dimaksud, yakni Kecamatan Adonara Timur: Desa Lamahala Jaya, Desa Terong, Kelurahan Waiwerang Kota, Desa Karing Lamalouk, Desa Dawataa, Desa Ipi Ebang, Desa Bilal dan Desa Waiburak.
Kecamatan Solor Timur: Desa Moton Wutun, Desa Wato Buku, Desa Labelan, Desa Tanah Werang dan Desa Wato Hari.
Sebanyak 1.393 jiwa menjadi korban terdampak gempa bumi, 367 rumah dan fasilitas umum lainnya mengalami kerusakan. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










