MAUMERE, FLORESPOS.net-Pemilik Gloria Regency Etwar Atuna memanfaatkan lahan tidur yang ada di kompleks perumahannya untuk menanam sayuran dan semangka mengingat prospek penjualannya lumayan bagus.
Lokasi perumahan di Desa Waturia, Kecamatan Magepanda tersebut belum semuanya terpakai untuk pembangunan unit perumahan dan fasilitas umum sehingga tanah yang tersedia dimanfaatkan untuk kebun.
“Kami menggunakan sistem irigasi tetes dengan selang khusus.Pemupukan dan penyiraman dilakukan secara otomatis,” sebut Etwar Atuna saat ditemui di kebunnya di lokasi perumahan Gloria Regency. Jumat (6/2/2026).
Etwar mengakui,semua instalasi termasuk pemasangan sistem untuk pemupukan dan pengairan secara otomatis dilakukannya sendiri dengan belajar dari internet cara merakitnya.
Dirinya mengaku irigasi tetes yang dipasang di kebun buah dan sayurannya tidak menggunakan IoT (Internet of Things) meskipun dirinya mampu memasangnya namun petani yang menggarapnya belum terbiasa.
“Petani kita kan semuanya serba manual sehingga saya menggunakan sistem filter, ventury switch atau ventury injector untuk pemupukan dan pengairan.Air dari sumbernya di filter terlebih dahulu kotorannya,” ungkapnya.
Etwar menambahkan, untuk pemupukan setelah pupuk dicampur dengan air dan ditaruh di wadah sehingga saat air mengalir maka akan menyedot pupuknya untuk sekalian melakukan pemupukan secara otomatis.
Dirinya mengakui semangka yang ditanam bisa dipasok ke dapur gizi untuk Makan Bergizi Gratis sementara sayuran selain dikonsumsi sendiri juga untuk dijual juga ke dapur gizi.
“Semangka akita supply sampai ke luar kabupaten Sikka seperti ke Ende karena permintaannya lumayan banyak.Saya juga punya lahan di Nangarasong Magepanda yang juga ditanami semangka,” ucapnya.
Etwar menjelaskan, untuk menjaga kesinambungan produksi maka penanaman diatur sehingga hasil panen selalu tersedia meskipun dirinya mengaku belum terlalu banyak menanamnya.
Semangka kata dia, dijual per kilogramnya Rp8 ribu sampai Rp9 ribu dan terkadang harga jual meningkat bila persediaan di pasaran menipis sehingga ia tetap mengontrol agar panen bisa estafet.
“Lumayan lah pendapatannya. Daripada tanahnya dibiarkan terlantar, lebih baik saya manfaatkan untuk tanam semangka dan sayuran. Saya juga bisa mempekerjakan orang juga,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










