ADONARA, FLORESPOS.net-Curah hujan tinggi menyebabkan air kali (sungai) di sepanjang kawasan Jembatan Dua, Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), meluap ke kebun warga dan dalam beberapa kejadian juga merembes ke permukiman.
Seorang remaja SMP, Fiko, mengatakan air pernah masuk ke rumah warga pada bulan April 2021 dan kembali terjadi pada bulan Desember 2025.
“Pernah dua kali pas yang April 2021 itu dengan yang baru-baru ini Desember 2025 kemarin,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Ia menyebut ketinggian air mencapai mata kaki dan menggenangi kebun serta permukiman.
Menurutnya, rumah yang terdampak pada kejadian terbaru sekitar satu hingga tiga unit. Ia juga mengingat banjir sebelumnya yang menyebabkan kerusakan rumah dan peralatan rumah tangga.
Sementara itu, petani setempat Antonius Demon menjelaskan wilayah tersebut sebelumnya tidak mengalami banjir, namun berubah setelah adanya pekerjaan proyek di sekitar jembatan yang menyebabkan aliran sungai tersumbat.
“Dulu tidak. Hanya pengaruh ini, saya omong langsung, pada waktu mereka dari proyek itu, mereka tolak gusur ini ke sana, tapi sebelah jembatan mereka tidak ada gusur. Jadi, kali tersumbat di sebelah jembatan itu,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Ia mengatakan aliran air seharusnya mengarah ke pantai, namun karena saluran tersumbat, air justru meluap ke kebun dan jalan.
“Mereka harus gali sebelah sana ke pantai itu. Itu harus mereka korek lagi,” katanya.
Antonius mengaku telah menyampaikan hal tersebut kepada Kepala Desa Terong.
“Saya omong ke Kepala Desa Terong juga begitu. Harus korek ke sana, supaya dia tidak meluap ke sini,” ujarnya.
Akibat luapan air tersebut, dua kebun milik Antonius mengalami kerusakan total.
“Rusak, dua kebun rusak habis. Semuanya habis, tinggal sebelah sini juga. Semua semangka habis, tinggal ini jagung ini saja,” katanya.
Selain banjir, lahan pertanian juga mengalami gangguan hama. “Kebun ni juga kena gangguan hama, babi hutan, dan tikus,” ujarnya.
Antonius menyebut hingga kini belum ada tindak lanjut berupa pelaksanaan perbaikan saluran air. “Sampai kapanpun belum gali, tetap masuk,” katanya.
Ia menegaskan saluran air perlu segera dibuka kembali agar luapan tidak terus terjadi. “Jadi harus memang digali dulu,” ujarnya.
Ia menilai selama saluran belum digali kembali, air akan terus meluap saat hujan deras dan berpotensi merusak lahan pertanian maupun jalan umum. *
Penulis : Muhammad Timur Sulaiman (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando









