ADONARA, FLORESPOS.net-Cuaca hujan disertai angin kencang yang terjadi sejak pertengahan Desember 2025 hingga saat ini tidak menghentikan aktivitas nelayan di wilayah Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejumlah nelayan di wilayah tersebut masih tetap melaut. Sementara sebagian lainnya memilih tidak turun karena mempertimbangkan kondisi angin.
Seorang nelayan, Muhammad Umar mengatakan, sebagian nelayan masih turun melaut meskipun kondisi cuaca tidak menentu.
“Masih turun, semalam masih pergi. Ada yang turun, ada juga yang tidak karena angin kencang,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Umar menjelaskan, hasil tangkapan ikan tidak selalu sama setiap hari dan bergantung pada pergerakan ikan.
“Kadang-kadang tu tergantung rezeki, kalau memang malam ini banyak ya banyak, kadang juga kosong sampai pagi. Itu tergantung nasib rezeki,” katanya.
Ia menyebutkan, waktu melaut biasanya sekitar dua hingga tiga jam. Ia juga mengatakan cuaca tidak menjadi faktor penghambat dalam penangkapan ikan.
“Cuaca ini tidak jadi hambatan, tetap tergantung penangkapan dan nasib rezeki,” ujarnya.
Selain itu, Umar menyampaikan harga jual ikan tergantung kondisi pasar. “Kalau pasarnya sepi, harga mahal,” katanya.
Sementara itu, seorang penjual ikan di Pasar Waiwerang, Fatimah kepada media ini mengatakan kondisi cuaca saat ini tidak memengaruhi harga ikan.
“Tidak mempengaruhi,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Fatimah menyebutkan, harga ikan saat ini berkisar antara Rp700 ribu hingga Rp850 ribu per bak, dari sebelumnya bisa mencapai Rp 1 juta. Ia juga mengatakan pembeli tetap ramai meskipun harga ikan mahal.
“Kalau ikan mahal itu kebanyakan orang belinya rame, kalau murah jarang,” katanya.
Menurut Fatimah, pasokan ikan tetap tersedia. “Ada. Kalau satu bak 800, kalau habis untungnya bisa Rp100 lebih sampai Rp200 lebih,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendapatan penjual ikan bergantung pada kondisi pasar.
“Kalau habis, untungnya bisa Rp 200 ribu lebih. Kalau tidak habis juga kadang Rp100 ribu lebih. Tergantung pasar saja,” katanya.*
Penulis : Muhammad Timur Sulaiman (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando










