Analisa Usulan Nama Kecamatan Baru Hasil Pemekaran dari Talibura, Nama Apa yang Paling Tepat? - FloresPos Net

Analisa Usulan Nama Kecamatan Baru Hasil Pemekaran dari Talibura, Nama Apa yang Paling Tepat?

- Jurnalis

Sabtu, 3 Januari 2026 - 15:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE, FLORESPOS.net-Perjuangan untuk pemekaran wilayah Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, yang digagas sejak tahun 2021 mulai memasuki tahapan krusial dengan digelarnya Musyawarah Antar Desa untuk penentuan nama dan ibu kota kecamatan baru.

Musyawarah Antar Desa Kecamatan Talibura digelar di Aula Kristus Raja Watubaing, Kamis (11/12/2025) yang dihadiri Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi, unsur pemerintah daerah, DPRD, serta tokoh masyarakat lintas desa.

Salah satu tokoh masyarakat etnis Tana Ai, Rafael Raga menjelaskan mengenai analisis perbandingan penamaan calon kecamatan Tana Ai, Tana Ai Timur, dan Talibura Timur dalam konteks PP 17/2018.

“Analisa ini juga mempertimbangkan aspek historis, kultural, sosiologis, identitas lokal, aspek politis, dan rasa memiliki generasi mendatang,” sebut Rafael sapaannya, Sabtu (3/1/2026).

Rafael menjelaskan, sesuai konteks regulasi PP Nomor 17 Tahun 2018 (Tentang Kecamatan) dimana dijelaskan pembentukan kecamatan harus memenuhi persyaratan dasar: jumlah penduduk minimal, luas wilayah, usia kecamatan, jumlah desa dan atau kelurahan.

Mantan Ketua DPRD Sikka 2 periode ini menyebutkan, persyaratan lainnya yakni persyaratan teknis (termasuk lokasi ibu kota kecamatan yang akan dibentuk)serta persyaratan administratif (kesepakatan musyawarah desa/kelurahan).

“Namun, PP 17/2018 tidak secara eksplisit memberi kriteria detail tentang cara menentukan nama kecamatan—apalagi tentang isi budaya atau historis—melainkan lebih ke prosedur dan persyaratan administratif/teknis pembentukan kecamatan,” urainya.

Rafael mengatakan, untuk kriteria nama geografis secara umum, aturan lain (Peraturan Geografis Indonesia) menyebut bahwa nama kawasan dapat menggunakan unsur bahasa Indonesia.

Mantan Ketua DPD II Golkar Kabupaten Sikka ini menambahkan, bisa juga menggunakan bahasa lokal jika memiliki nilai sejarah, budaya, adat, bahasa, atau religius, tanpa bertentangan dengan etnik, agama atau aturan penamaan geografis lainnya.

“Ada tiga nama yang diusulkan yakni Tana Ai, Tana Ai Timur dan Talibura Timur. Nama ini coba dianalisa dari berbagai aspek,” jelasnya.

Rafael memaparkan, nama Tana Ai bila dilihat dari makna historis–kultural, Tana Ai merujuk pada wilayah adat masyarakat Tana Ai, yang merupakan identitas budaya dan linguistik kuat di bagian timur Kabupaten Sikka.

Kata anggota DPRD Sikka 3 periode ini, nama ini sudah melekat sebagai identitas etnis dan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun, bukan hanya sebagai nama administratif.

Lanjutnya, dari aspek identitas dan rasa memiliki, lebih mudah memupuk rasa bangga dan kepemilikan karena langsung memuat istilah lokal yang familiar di hati masyarakat adat.

“Nama ini bisa menjadi simbol persatuan etnis Tana Ai, terutama generasi muda yang mencari akar budaya mereka,” ucapnya.

Rafael melanjutkan, dari aspek politis, mungkin bisa muncul pandangan bahwa nama ini mengunggulkan satu kelompok adat tertentu (Tana Ai) jika kecamatan mencakup masyarakat yang lebih heterogen. Perlu dialog luas untuk mitigasi konflik identitas.

Baca Juga :  Askab PSSI Sikka Ajukan Tuan Rumah ETMC dan Gelar Kompetisi

Singkatnya kata dia, kekuatan identitasnya kuat serta meningkatkan rasa memiliki generasi lokal dan menguatkan budaya tradisional.

Lanjutnya, untuk usulan nama Tana Ai Timur jika dikomparasi dengan Tana Ai maka akan memberi penegasan geografis (timur), cocok jika kecamatan baru berada di bagian timur area Tana Ai.

“Dengan demikian, penamaan ini akan memberi gambaran posisi wilayah secara langsung,” paparnya.

Sedangkan dari aspek historis–kultural kata Rafael, nama Tana Ai Timur tetap mempertahankan Tana Ai, sehingga nilai historis dan budaya masih kuat.

Sementara itu, unsur “Timur” bisa dipandang sebagai perluasan wilayah tradisional tanpa menghilangkan akar kultural.

Rafal menambahkan, dari aspek identitas dan dinamis,bagi generasi berikutnya, nama ini tetap memberikan ruang kultural (Tana Ai) sekaligus arah geografis yang jelas dan memudahkan orientasi administratif.

Risikonya, jika wilayah baru mencakup masyarakat dari tradisi lain yang tidak termasuk “Tana Ai”, ada kemungkinan rasa inklusivitas menjadi lebih rendah dibanding nama yang netral.

“Bila menggunakan nama Tana Ai Timur maka identitas budaya tetap terjaga. Lokasi ruangnya jelas,” ucapnya.

Nama terakhir kata Rafael yakni Talibura Timur dimana dari aspek historis, Talibura adalah nama kecamatan besar yang sudah ada (administratif).

Pendiri Yayasan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat untuk Pengembangan Wilayah Tana Ai (YLPM-BANGWITA) ini menambahkan, kata “Timur” merupakan pendekatan umum dalam administrasi Indonesia untuk memecah wilayah besar secara geografis untuk identifikasi.

Dari aspek identitas dan sosiologis, nama ini bersifat administratif dan netral secara kultural dibanding Tana Ai yang kental adat dan dapat memperkuat identitas administrasi pemerintahan tanpa menyentuh secara langsung identitas budaya tertentu.

“Nama ini cocok untuk wilayah multietnik. Sedangkan dari aspek politis, lebih sedikit risiko menimbulkan konflik identitas antar kelompok karena tidak mengangkat nama etnis tertentu,” terangnya.

Rafael melanjutkan, sementara dari aspek generasi mendatang nama ini menciptakan identitas baru berbasis administratif bisa efektif, tetapi mungkin kurang kuat secara budaya dibanding Tana Ai.

Singkatnya kata dia, nama Talibura Timur lebih netral dan inklusif secara sosial serta jelas secara administrasi.

Rekomendasi nama berdasarkan analisis kandidat,kekuatan dan tantangan yakni bila menggunakan nama Tana Ai maka identitas budaya kuat, symbol historis kental namun perlu dialog inklusif jika banyak kelompok lain.

“Bila menggunakan nama Tana Ai Timur maka secara budaya kuat dan arahnya jelas secara geografis. Risiko identitas parsial jika wilayahnya heterogen,” jelasnya.

Baca Juga :  Gereja Keuskupan Ruteng Ikut Aktif Tangani Stunting dan Bumil

Rafael menerangkan, jika menggunakan nama Talibura Timur, nama ini netral, dan inklusif serta secara sosial relatif kurang kuat dalam penguatan akar budaya lokal.

Saran utamanya kata dia, jika tujuan utama menciptakan kecamatan dengan identitas budaya kuat dan historis, maka nama Tana Ai atau Tana Ai Timur paling cocok.

Namun jika wilayah barunya cukup multi etnik atau luas dan beragam, maka nama Talibura Timur bisa menjadi pilihan paling inklusif dan aman secara sosial politik.

Faktor Final untuk pertimbangan yakni melalui musyawarah adat dan desa dan pastikan nama yang terpilih merupakan hasil musyawarah bersama antar semua desa atau komponen masyarakat untuk memaksimalkan legitimasi administratif dan kultural.

“Memilih nama yang sesuai kaidah nasional penamaan geografis menggunakan bahasa Indonesia atau daerah, tidak bernada diskriminatif, mencerminkan nilai sejarah dan budaya,” ungkapnya.

Rafael mengatakan, libatkan generasi muda dalam debat penamaan agar rasa memiliki berkembang lebih kuat ke depan.

Sambungnya, setelah mempertimbangkan PP 17 Tahun 2018 serta aspek historis, kultural, sosiologis,identitas, politis, dan dampak rasa memiliki bagi generasi mendatang, maka Kesimpulan final yang paling kuat, rasional, dan berkelanjutan maka nama kecamatan yang direkomendasikan adalah kecamatan Tana Ai.

Alasan finalnya, dari aspek historis dan kultural, Tana Ai adalah nama wilayah adat dan identitas etnis yang telah hidup jauh sebelum pembagian administratif modern.

“Nama ini mencerminkan sejarah, bahasa, adat, dan sistem nilai masyarakat setempat,” ungkapnya.

Rafael menerangkan, dari aspek identitas dan rasa memiliki maka akan memberikan sense of belonging yang kuat, terutama bagi generasi muda, karena berakar pada identitas asli, bukan sekadar istilah administratif.

Juga dapat mendorong kebanggaan lokal dan pelestarian budaya dan dari aspek sosiologis digunakan dan diterima luas dalam percakapan sosial, adat, dan gerejawi di wilayah timur Talibura.

“Nama Tana Ai lebih “hidup” dalam kesadaran kolektif masyarakat dibanding istilah administratif seperti “Timur”,” terangnya.

Rafael menjelaskan, dari aspek politis dan keberlanjutan nama ini bersifat visioner dan jangka panjang, tidak bergantung pada kecamatan induk.
Selain itu, menghindari kesan “anak kecamatan” (subordinat) seperti pada nama Talibura Timur.

Dia memaparkan, soal kesesuaian dengan PP 17/2018, aturan ini tidak melarang penggunaan nama berbasis sejarah dan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan kepentingan umum dan disepakati masyarakat.

“Tana Ai memenuhi prinsip kearifan lokal dan legitimasi sosial. Dengan demikian, nama “Kecamatan Tana Ai” adalah pilihan paling tepat, kuat dan bermartabat,” pungkasnya. *

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Bupati: Saya Tidak Ada Hubungan dengan Akun Palsu, Tidak Bagus Wartawan Diserang
Setelah Pertemuan Tertutup Soal Sempadan Ndao, Ini Kata Pedagang dan Bupati Ende
Erosi Solidaritas Merusak Kemajuan Kehidupan Berkoperasi
Bangunan Sekolah Rusak Ringan Akibat Gempa, Kadis PKO Flotim: Upayakan KBM Tetap Berjalan
Kosmas Lawa Bagho Target Kopdit Serviam Tumbuh di Era Persaingan
RAT Koperasi Sinar Harapan Malapedho, Tinus Madha Terpilih Kembali Jadi Ketua Pengurus
Wabup Ende Apresiasi Komitmen Kopdit Serviam Perkuat Ekonomi Masyarakat
Sepuluh SMP di Ende Ikut Turnamen Mini Soccer Sanvin Cup 2026
Berita ini 221 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 16:58 WITA

Bupati: Saya Tidak Ada Hubungan dengan Akun Palsu, Tidak Bagus Wartawan Diserang

Selasa, 14 April 2026 - 16:20 WITA

Setelah Pertemuan Tertutup Soal Sempadan Ndao, Ini Kata Pedagang dan Bupati Ende

Senin, 13 April 2026 - 20:44 WITA

Erosi Solidaritas Merusak Kemajuan Kehidupan Berkoperasi

Senin, 13 April 2026 - 13:16 WITA

Kosmas Lawa Bagho Target Kopdit Serviam Tumbuh di Era Persaingan

Senin, 13 April 2026 - 10:06 WITA

RAT Koperasi Sinar Harapan Malapedho, Tinus Madha Terpilih Kembali Jadi Ketua Pengurus

Berita Terbaru

Opini

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:26 WITA

Opini

Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola

Selasa, 14 Apr 2026 - 09:35 WITA

Nusa Bunga

Erosi Solidaritas Merusak Kemajuan Kehidupan Berkoperasi

Senin, 13 Apr 2026 - 20:44 WITA