Menyiasati Mitos Bangsa Korup(tor) - FloresPos Net - Page 2

Menyiasati Mitos Bangsa Korup(tor)

- Jurnalis

Sabtu, 27 September 2025 - 12:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mentalitas korupsi sejatinya disinyalir oleh mental instan dalam pemenuhan kebutuhan pribadi. Ranah politik dari para elite politik tidak mampu membedakan mana ruang privat dan publik. Seolah-olah dengan kekuasaan politik, semua yang sifatnya kepentingan publik bisa seenaknya dipelintir menjadi kepentingan privat.

Boleh dikatakan bahwa mentalitas elite politik dewasa ini sejalan dengan pandangan Machiavelli, tujuan harus tercapai dengan segala cara, dengan korupsi dan mencuri uang rakyat sekalipun. Hal tersebut semakin didukung oleh sistem pemerintahan yang tidak transparan. Para koruptor ibarat kelelawar yang bekerja di dalam bayang-bayang gelap tanpa seorang pun yang mengetahuinya.

Mentalitas budaya korupsi yang mengaburkan batas ruang privat dan publik mengindikasikan rusaknya sendi-sendi moral dalam kehidupan bernegara. Ketika kepercayaan publik yang menyata dalam kekuasaan tidak digunakan untuk pelayanan maka jabatan publik berubah menjadi ladang praktik korupsi, transaksi dan negoisasi sesuka hati demi kebutuhan pribadi.

Baca Juga :  OPINI PENDIDIKAN: 5 Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru di Era Digital

Mentalitas seperti ini pada akhirnya menciptakan ruang kalkulasi para elite politik ketika harus bertanggung jawab dengan kebutuhan publik. Dengan kata lain, timbul prinsip perhitungan untung-rugi dalam “mengakomodasi” kebutuhan rakyat.

Mentalitas korupsi yang turut membentuk pribadi elite politik dapat ditengarai pula oleh persepsi publik yang menilai bahwa elite politik itu adalah orang yang memiliki modal keuangan yang cukup.

Selain itu mereka memperoleh status sosial yang tinggi. Elite politik cenderung bermental sombong karena dinilai lebih “tinggi”. Untuk menjaga pandangan bahwa status kepemilikan uang yang cukup, tak pelak mendorong mereka untuk meraup keuangan negara sebanyak-banyaknya. Jika hal itu tidak dilakukan, maka akan mengurangi pandangan publik terhadap mereka.

Patut diakui bahwa mentalitas elite politik bangsa ini sudah keropos karena pendidikan hanya menghasilkan manusia serba instan. Mental kerja keras, transparan dan berani hidup dalam persaingan belum menjadi bagian kultur bangsa ini. Apalagi tampil menderita demi bangsa ini.

Baca Juga :  Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

Justru sebaliknya, bangsa ini sedang mabuk mentalitas pengemis, mental menodong, dan menipu. Baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, kita berani menjadi perampok ruang publik. Mentalitas semacam ini amat ironis dimiliki oleh bangsa yang berbudaya dan beragama seperti Indonesia.

Menimbang persoalan korupsi yang sudah menjadi keresahan masyarakat Indonesia, sekiranya korupsi mesti dipandang sebagai musuh bersama (common enemy). Kolaborasi antara pemerintah dan rakyat sangat dibutuhkan untuk memerangi kasus korupsi.

Selanjutnya, penting sekali untuk memperbaiki sistem kenegaraan yang memunculkan peluang untuk korupsi. Tak lupa pula, perbaikilah mentalitas korupsi para koruptor dengan beriman kepada Tuhan.

Berita Terkait

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 117 kali dibaca
REDAKSI: Kami Menerima Artikel Opini Dilengkapi Biodata Singkat dan Foto Penulis. Dikirim Melalui Email: florespos@yahoo.co.uk atau redflorespos@gmail.com.

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Berita Terbaru

Nusa Bunga

John Tuba Helan Kritisi Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah

Rabu, 14 Okt 2026 - 11:08 WITA