ENDE, FLORESPOS.net-Bupati Kabupaten Ende, Provinsi NTT, Yoseph Benediktus Badeoda memimpin upacara HUT RI ke-80 di lapangan Pancasila, Kota Ende, Minggu (17/8/2025) pagi.
Pada upacara tersebut Bupati Ende menyampaikan pidato perdana 17 Agustus setelah enam bulan dilantik bersama Wabup Domi Mere memimpin daerah ini.
Bupati Yoseph memaparkan capaian program dan pembangunan di daerah ini dalam rentang waktu enam bulan kepemimpinannya dan Dr Domi Mere.
Selain menyampaikan capaian pembangunan Bupati Yoseph Badeoda juga menyampaikan refleksi 80 tahun kemerdekaan RI untuk Kabupaten Ende.
Ia menguraikan dalam catatan statistik Kabupaten Ende masih tergolong dalam daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T) dan termasuk dalam sepuluh daerah termiskin di NTT dengan tingkat kemiskinan sebesar 22,7%.
Jika merefleksi bahwa Kabupaten Ende adalah kabupaten tertua di pulau Flores maka hari ini Ende masih tertinggal dari segala aspek perkembangan jika dibandingkan dengan daerah lain.
Bupati mengatakan fakta di Kabupaten Ende, khususnya di dusun dan desa masih terlihat atau ditemukan kehidupan masyarakat yang belum merdeka. Nyanyian sedih dari masyarakat soal akses jalan dan listrik masih terdengar, pada hal negara ini sudah 80 tahun merdeka.
Apabila direfleksikan 80 tahun kemerdekaan RI di Kabupaten Ende maka harus jujur mengakui bahwa batin, pikiran dan fisik masih sakit atau belum merdeka.
Kenapa Batin Kita Sakit?
Masyarakat Kabupaten Ende boleh berbangga Ende sebagai rahimnya Pancasila tetapi faktanya kehidupan toleransi masih belum pancasilais. Makna dari toleransi pancasila adalah memberikan ruang hidup dan memberi tempat bagi semua keyakinan untuk tampil secara otentik tanpa rasa takut atau bersalah.
Pancasila adalah harmoni dari warna – warna terang iman, budaya dan ekspresi masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu jangan takut simbol agama lain tampil ke ruang publik karena di bumi rahim pancasila semua agama diberikan ruang yang sama untuk tampil.
“Kita tidak perlu takut karena tidak ada yang dominasi, tidak ada yang dihapus atau dilarang. Kalau kita masih takut maka yang salah ada di pikiran dan otak kita,” kata Bupati Ende.
Melalui peringatan kemerdekaan, Bupati Yoseph mengajak warga Ende memaknai keberagaman. Keberagaman akan tumbuh sehat jika setiap ekspresi, setiap nama dan simbol bisa tampil dengan percaya diri. Jika masyarakat Ende belum menerima ini maka batin masih sakit atau belum merdeka.
Pikiran yang Sakit
Bupati Ende juga menyampaikan mengapa daerah ini masih miskin padahal setiap tahun mendapatkan anggaran sebesar Rp 1,3 triliun dari pemerintah pusat dalam bentuk APBD dan bantuan dari berbagai dermawan.
Menurutnya pada tiga level kemiskinan yang disoroti Bishop Justice Kojo Bentil, faktor yang pertama yaitu kemiskinan karena keadaan mental. Banyak orang hidup miskin bukan karena tidak ada uang tetapi karena masih berpikir cukup hari ini dan memiliki cara berpikir miskin, tidak memiliki visi masa depan dan jangka panjang. Masyarakat Ende masih sering hidup konsumtif dan tidak berpikir untuk investasi.
Faktor kedua, kemiskinan sebagai kerapuhan spiritual, level ini sangat dalam dan berbahaya. Orang- orang pada level ini tidak memiliki semangat juang atau percaya pada takdir. Mental tersebut akan menjadi virus menghancurkan dirinya serta komunitasnya.
Faktor ketiga yaitu kelemahan mengelola keuangan. Kemiskinan itu terjadi karena ketidakmampuan dalam mengelola keuangan.
Menurut Yoseph Badeoda kemiskinan di daerah ini terjadi karena dari pemerintah hingga masyarakat belum memiliki kemampuan mengelola keuangan. Ia berharap peningkatan SDM dalam pengelolaan keuangan harus dilakukan baik di pemerintah maupun masyarakat.
Fisik Juga Sakit
Bupati Yoseph mengatakan pada beberapa tahun terakhir politik anggaran di daerah ini sakit karena tidak berpihak kepada masyarakat. Kebijakan ini mengakibatkan kondisi fisik Kabupaten Ende semakin rapuh dan rusak. Pembangunan di daerah ini kalah dari kabupaten yang baru terbentuk.
Yoseph mengharapkan kedepannya setiap alokasi anggaran harus memenuhi kebutuhan masyarakat secara proporsional dan merata serta transparan. Proses perencanaan dan penggunaan anggaran harus terbuka dan diakses oleh publik.
Bupati Ende mengajak seluruh komponen di daerah ini agar bangkit dari kondisi ketertinggalan, mengubah pola pikir dan paradigma untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Upacara HUT RI di tingkat Kabupaten Ende dilanjutkan dengan acara hiburan seperti marching band dari beberapa sekolah dan devile antar sekolah dan instansi pemerintah.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










