Koperasi, Ketahanan Pangan, dan Martabat Sosial (Catatan Sosiologis atas Kunjungan Menko Pangan di Maumere) - FloresPos Net

Koperasi, Ketahanan Pangan, dan Martabat Sosial (Catatan Sosiologis atas Kunjungan Menko Pangan di Maumere)

- Jurnalis

Jumat, 1 Agustus 2025 - 22:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

KUNJUNGAN Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan ke Maumere bukanlah sekadar rangkaian protokoler kenegaraan, melainkan sebuah momen kontemplatif yang mengundang kita untuk menafsir ulang makna pembangunan dalam lanskap sosial Indonesia.

Di balik pidato dan seminar, tersirat sebuah kegelisahan. Bahwasanya, pembangunan selama ini terlalu sering menjadikan rakyat sebagai objek, bukan subjek.

Pernyataan Zulhas agar masyarakat “jangan jadi koperasi KUD” dan “jangan dilatih jadi dhuafa” bukan sekadar kritik terhadap model ekonomi lama, tetapi juga seruan untuk membongkar struktur ketergantungan yang telah lama membelenggu daya hidup masyarakat desa.

Dalam perspektif sosiologi, kata-kata tersebut menggugah kesadaran akan pentingnya agensi sosial yakni kemampuan individu dan komunitas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Ketika rakyat dilatih untuk bergantung, maka yang tumbuh bukanlah kemandirian, melainkan ketakutan akan kehilangan bantuan.

Sistem politik elektoral yang transaksional dan distribusi ekonomi yang timpang telah melahirkan relasi sosial yang tidak sehat, di mana martabat manusia sering kali dikorbankan demi stabilitas semu. Maka, pembangunan sejati harus dimulai dari pembebasan mentalitas subordinatif, dari desa yang berani berkata: kami mampu, kami berdaya.

Baca Juga :  Arnoldus Janssen: ‘Si Kepala Batu’ yang Jadi Santo

Koperasi Desa Merah Putih yang digagas pemerintah, jika dijalankan dengan visi yang jernih, dapat menjadi ruang sosial baru yang menghidupkan kembali semangat kolektif.

Di sana, rakyat tidak hanya menjadi penerima sembako atau pupuk, tetapi juga pengelola, pemilik, dan penjaga nilai-nilai kebersamaan.

Koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan wadah peradaban lokal yang tumbuh dari akar budaya dan solidaritas.

Ketika koperasi menjadi alat untuk mengatur distribusi pangan dan kebutuhan dasar, maka desa tidak lagi menjadi titik pinggiran, tetapi pusat dari gerakan sosial yang bermartabat.

Ketahanan pangan, dalam kerangka ini, bukanlah sekadar soal ketersediaan beras atau jagung, melainkan tentang keadilan dalam akses, partisipasi dalam pengelolaan, dan keberanian untuk mandiri.

Ia adalah cermin dari relasi sosial yang sehat, di mana negara hadir bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai mitra. Ketahanan pangan yang sejati lahir dari tanah yang diolah dengan cinta, dari komunitas yang saling percaya, dan dari sistem yang menghargai kerja keras petani sebagai fondasi bangsa.

Di sinilah pembangunan menemukan makna spiritualnya: bukan sekadar angka statistik, tetapi wajah-wajah manusia yang hidup dengan harapan.

Baca Juga :  Catatan ETMC XXXIV Ende, Sepakbola Amatir NTT: Masih Bolehkah Kami Bermimpi?

Kunjungan Menko Pangan ke Maumere, jika dibaca dengan kaca mata sosiologis, adalah ajakan untuk melihat desa bukan sebagai beban, tetapi sebagai sumber kebijaksanaan.

Di tengah lahan kering dan tantangan iklim, tersimpan potensi besar yang selama ini terabaikan. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil harus bersatu dalam membangun ekosistem sosial yang mendukung kemandirian desa.

Pendidikan, teknologi, dan kebijakan harus berpihak pada rakyat kecil, bukan memperkuat dominasi elite. Di sinilah pembangunan menjadi gerakan moral, bukan sekadar proyek ekonomi.

Semestinya, pembangunan yang bermartabat adalah pembangunan yang memanusiakan. Ia tidak melatih rakyat menjadi dhuafa, tetapi membangkitkan mereka menjadi pemimpin di tanah sendiri. Ia tidak menjadikan koperasi sebagai simbol masa lalu yang stagnan, tetapi sebagai ruang masa depan yang dinamis.

Dan di Maumere, di tanah yang kering namun penuh harapan, kita menyaksikan benih-benih perubahan sosial yang sedang tumbuh, perlahan, namun pasti, menuju Indonesia yang lebih adil, mandiri, dan bermartabat.*

Penulis, adalah Staf Pengajar pada Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Berita Terkait

Obat Bagi Pasien ODGJ di Kabupaten Sikka Sudah Tidak Tersedia di Puskesmas
Baru 3 Paket Proyek di Flores Timur yang Ditender, Yudit Tulit: Lebih Banyak Mini Kompetisi
Yayasan Papha Gandeng AWAS Laksanakan Workshop Terkait Pemberitaan dan Masalah Kesehatan Jiwa
Wujudkan Mimpi Kerja di Luar Negeri, Hantarkan Para Mahasiswa Kuliah di Stikes Santa Elisabeth Keuskupan Maumere
Wakil Bupati Buka Turnamen Piala Bupati Ende U-17
Empat Jabatan Lowong, Pemkab Manggarai Timur Gelar Seleksi Terbuka
Pasar Pulau Ende Terbengkalai, Camat: Kami Siap Aktifkan dan Mulai dengan Pasar Murah
29 Tim Berlaga di Turnamen Sepak Bola Mini Watutura II U-12
Berita ini 208 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 11:43 WITA

Obat Bagi Pasien ODGJ di Kabupaten Sikka Sudah Tidak Tersedia di Puskesmas

Selasa, 9 Juni 2026 - 21:19 WITA

Baru 3 Paket Proyek di Flores Timur yang Ditender, Yudit Tulit: Lebih Banyak Mini Kompetisi

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:10 WITA

Yayasan Papha Gandeng AWAS Laksanakan Workshop Terkait Pemberitaan dan Masalah Kesehatan Jiwa

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:00 WITA

Wujudkan Mimpi Kerja di Luar Negeri, Hantarkan Para Mahasiswa Kuliah di Stikes Santa Elisabeth Keuskupan Maumere

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:45 WITA

Wakil Bupati Buka Turnamen Piala Bupati Ende U-17

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Wakil Bupati Buka Turnamen Piala Bupati Ende U-17

Selasa, 9 Jun 2026 - 19:45 WITA