ENDE, FLORESPOS.net-Minimnya sarana dan prasarana atau fasilitas di daerah menjadi kendala bagi para atlet bersaing di ajang nasional.
Kondisi ini diharapkan menjadi perhatian khusus pemerintah daerah untuk mendukung anak-anak yang memiliki potensi mengembangkan bakat di cabang olahraga renang.
Hal tersebut dirasakan oleh 16 atlet renang dari Club Mbira Mera Ende, NTT yang mengikuti Semarang Open Championship 2024 baru- baru ini.
Club renang Mbira Mera Ende adalah satu-satunya dari Provinsi NTT yang mengikuti Semarang Open Championship bersama 179 club renang lainnya di Indonesia dan bersaing dengan 1.234 atlet renang di seluruh Indonesia.
Benediktus Ndolu, Ketua Club Renang Mbira Mera Ende ditemui pada sela – sela penjemputan kepulangan atlet renang Ende dari Semarang Open Championship, Sabtu (5/10/2024) mengatakan anak – anak Ende memiliki potensi namun kalah bersaing di tingkat nasional.
Kata dia atlet renang dari Mbira Mera Ende yang turun mengikuti kejuaraan ini kalah bersaing karena tidak berlatih dan terbiasa dengan fasilitas kolam standar nasional.
“Dari kejuaraan ini kita evaluasi anak- anak kita bisa. Tapi karena fasilitas seperti kolam tidak memenuhi standar nasional maka mereka sedikit mengalami kesulitan,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah mesti memperhatikan fasilitas ini agar atlet- atlet dari daerah terbiasa dengan fasilitas standar nasional dan memudahkan mereka saat mengikuti kejuaraan di tingkat nasional.
“Kami berharap pemerintah melalui Dispora atau KONI bisa perhatikan ini,” katanya.
Beni mengatakan meskipun dengan keterbatasan fasilitas latihan di daerah tetapi 16 atlet yang turun pada kejuaraan Semarang Open Championship mampu menyelesaikan lintasan di setiap gaya yang diikuti.
“Kita apresiasi mereka walaupun tidak dapat medali tetapi mampu menyelesaikan semua lintasan dengan durasi waktu yang tidak tertinggal jauh,” katanya.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Gaspar Rai, pelatih Club Mbira Mera Ende. Ia mengatakan kendala yang dihadapi para atlet Ende yang turun di kejuaraan ini yaitu tidak terbiasa dengan fasilitas yang sudah berstandar nasional.
“Di sini kita terbiasa dengan kolam renang ukuran pendek di sana sudah standar nasional yang ukurannya 50 meter. Ini akan berdampak pada penampilan atlet,” katanya.
Slora, atlet renang Mbira Mera Ende juga mengatakan ia tidak gugup turun pada kejuaraan ini. Ia mengatakan pada kejuaraan mereka turun pada lintasan panjang sedangkan di Ende latihan dengan kolam renang lintasan pendek.
“Kita kalah pada kecepatan waktu karena di sini kami latihan di kolam ukuran pendek di sana ukurannya panjang. Kita kalah karena tidak terbiasa. Kami harap ada perbaikan fasilitas di daerah,” katanya.
Humas Club Renang Mbira Mera, Oma Koko juga mengatakan keluhan ini mesti diperhatikan oleh pemerintah daerah untuk mendukung para atlet dari daerah.
“Kami akan berdiskusi dengan pemerintah daerah untuk perhatikan fasilitas seperti ini. Kita harapkan ada kolam renang standar nasional di Ende,” katanya.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










