Frans Teguh: BPOLBF Dengar, Catat dan Eksekusi - FloresPos Net

Frans Teguh: BPOLBF Dengar, Catat dan Eksekusi

- Jurnalis

Selasa, 19 Maret 2024 - 12:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pelaksana tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Fransiskus Saverius Teguh, menegaskan, untuk kemajuan pariwisata dan peningkatan ekonomi masyarakat melalu ekraf (ekonomi kreatif), tugas lembaganya jelas, yaitu dengar, catat, dan eksekusi.

Frans Teguh menyampaikan itu pada satu kesempatan di Taman Parapuar Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) belum lama berselang.

Ia ungkapkan itu menanggapi peserta diskusi “tantangan dan harapan” sektor pariwisata dan kemajuan ekonomi kreatif (ekraf) di wilayah “kekuasaan/kewenangan” BPOLBF.

Wilayah kerja BPOLBF meliputi 2 kecamatan di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dan 10 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencakupi Kabupaten Alor, Lembata, dan 8 Kabupaten di Flores, yaitu Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat/Mabar. BPOLBF berkantor di Labuan Bajo ibu kota Mabar.

Diskusi penuh persaudaraan itu melibatkan banyak pihak di Mabar, di antara lain sejumlah komunitas/UMKM/sanggar seni budaya, lembaga pendidikan, akademisi, petinggi hotel, perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mabar, disamping BPOLBF selalu penyelenggara.

Baca Juga :  DPP Tunjuk Hasanudin Jadi Pelaksana Tugas Ketua Partai Perindo Manggarai Barat
Diskusi bersama BPOLBF dan lain-lain di Taman Parapuar Labuan Bajo Mabar NTT dalam satu kesempatan belum lama berselang. Dokumen BPOLBF. Foto: Dok. BPOLBF

Hal-hal yang diangkat dalam diskusi tersebut di antaranya terkait pengoptimalan area Waterfront-Marina dan Batu Cermin. Dinilai kedua tempat itu selama ini kurang dimaksimal/dioptimal sebagai lokasi untuk pementasan aktivitas seni budaya dan lain-lain terkait kemajuan kepariwisataan setempat.

Sesuai kewenangan yang dimiliki, dengan memanfaatkan fungsi otoritatif dan fungsi koordinatifnya, harap BPOLBF dapat menjembatan hal-hal dimaksud kepada pengelola Waterfront dan Batu Cermin. Agar pementasan seni budaya serta lain-lain di 2 lokasi itu dilaksanakan reguler. Tinggal diatur jadwal pementasan bagi masing-masing komunitas, sanggar dan lainnya.

Peserta diskusi juga  menyoroti antara lain keterbatasan sumber daya manusia (SDM) setempat terkait pengelolaan kepariwisataan Mabar. Hingga kini posisi penting di hotel- hotel berbintang di Mabar ditengarai masih dominan ditempati orang dari luar Mabar, dari luar Flores, dari luar NTT.

Keindahan alam dan keunikan budaya setempat Mabar khususnya, sepertinya belum dieksplorasi/belum digarap secara maksimal. Jika itu dilakukukan dengan manajemen baik, bagus, itu bisa membuat wisatawan bisa betah tinggal lama di Mabar, long of stay.

Baca Juga :  Warga Terdampak Mengungsi Akibat Letusan Lewotobi Mencapai 5.816 Jiwa

Potensi lain seperti perparkiran juga belum dioptimalkan. Padahal itu bisa jadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang besar buat Mabar jika diurus professional.

Peserta diskusi juga menyoroti sampah di Labuan Bajo dan sekitarnya masih banyak ditemukan.Desa wisata di kabupaten ujung barat Flores itu (Mabar) juga belakangan disinyakir banyak yang mati suri.

Suara peserta diskusi juga sentil bahwa perkembangan pariwisata Labuan Bajo terlalu cepat, tetapi tidak dibangun di atas fundasi yang kuat. Persoalannya kompleks sekali.

Menanggapi suara peserta diskusi, Frans Teguh mengatakan, di Flores khususnya, pariwisata adalah ekonomi baru. Bagaimana tidak, penduduknya sudah turun temurun hidup dari petanian/agraris, dan juga turun temurun nelayan, lalu perlahan menuju pariwisata.

Tentu ini merupakan pekerjaan rumah bersama para pihak, bekerja profesional, termasuk BPOLBF. Sehingga pariwisata dan UMKM di kawasan ini kelak bisa maju, lingkungan lestari.

Semua bermuara pada kesejahteraan masyarakatnya. Pariwisata setempat harus memiliki karakter. Karenanya, kehadiran BPOLBF jelas, yaitu dengar, catat, dan eksekusi, ungkap Frans Teguh. *

Penulis: Andre Durung I Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Kunjungi Marga Ende, Delvis Rettob Tegaskan PMKRI Tetap Berjuang untuk Orang Kecil
Gerakan Pangan Murah di Ende, Bulog Layani 4 Ton Beras kepada Warga
137 Guru Agama di Kabupaten Sikka Dapat TPG, Kemenag Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan
Harumkan Nama Ende, Siswi SMAKN Ende Melaju ke Tingkat Nasional OSN Bidang Kimia
Kemenag Sikka Evaluasi Layanan TPG dan PPG, Tiga Guru Dimintai Pendapat
Guru Agama di Sikka Laporkan Kasus Dugaan Tindak Pidana Penghinaan ke Polres Sikka
Terapkan Tabela, Manggarai Barat Butuh Seribu Lebih Ton Benih Padi Berlabel
Kisah Raja Amanuban Usi Don Louis Nope Melawan Pendudukan Belanda
Berita ini 106 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:00 WITA

Kunjungi Marga Ende, Delvis Rettob Tegaskan PMKRI Tetap Berjuang untuk Orang Kecil

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:37 WITA

Gerakan Pangan Murah di Ende, Bulog Layani 4 Ton Beras kepada Warga

Kamis, 6 Agustus 2026 - 09:25 WITA

137 Guru Agama di Kabupaten Sikka Dapat TPG, Kemenag Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:42 WITA

Harumkan Nama Ende, Siswi SMAKN Ende Melaju ke Tingkat Nasional OSN Bidang Kimia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 14:45 WITA

Guru Agama di Sikka Laporkan Kasus Dugaan Tindak Pidana Penghinaan ke Polres Sikka

Berita Terbaru

Opini

Anatomi Krisis Keselamatan Angkutan Barang

Kamis, 6 Agu 2026 - 13:52 WITA