RUTENG, FLORESPOS.net – Pemkab Manggarai, Flores, NTT, terus berupaya menurunkan atau membebaskan Balita dari predikat stunting agar pada waktunya nanti Manggarai bisa bebas dari persoalan gizi buruk.
Dihubungi wartawan, Senin (8/1/1024), Kadis Kesehatan Manggarai, drg. Bartolomeus Hermopan mengatakan, upaya menurunkan Balita stunting sudah menjadi gerakan bersama.
Artinya tidak saja pemerintah, juga lembaga lain, termasuk gereja berpartisipasi dalam upaya menghilangkan stunting.
“Hasilnya sudah terlihat, yakni ada penurunan angka stunting dari waktu ke waktu walaupun tidak terlalu signifikan,” katanya.
Pengukuran Agustus tahun lalu, terlihat adanya penurunan dari 14,2 persen menjadi 13,1 persen. Tidak besar sekali memang.
Datanya terjadi penurunan dari 4.314 Balita bermasalah dengan gizi menjadi 3.480 anak.
Balita yang masih berstatus gizi buruk dan kurang terus diupayakan penanganannya.
Hasilnya, bisa diketahui berupa turunnya angka stunting pada pengukuran Februari 2024.
Penurunan, demikian Kadis Hermopan, tidak ditargetkan muluk-muluk juga. Untuk pengukuran Februari nanti diharapkan turun menjadi 11 atau 12 persen.
Dikatakan, upaya menangani stunting sebetulnya tak berhenti sepanjang tahun seperti pemberian makanan tambahan, vitamin-vitamin.
Lalu, penggalangan promosi pemberian ASI eksklusif juga terus dilakukan kepada masyarakat, pasangan suami istri, dan ibu-ibu hamil dan menyusui.
Lalu, promosi hidup bersih, lingkungan yang bersih dan sehat juga tidak berhenti dilakukan hingga ke tingkat masyarakat paling bawah.
Dalam mengurus stunting, belakangan ini, lembaga keagamaan, seperti gereja juga terlibat aktif dalam upaya mengatasi stunting.
Demikian juga lembaga perbankan dan lembaga swadaya masyarakat yang perduli dengan persoalan sumber daya manusia masa depan daerah dan bangsa ini.
“Karena itu, kita optimistis, penanganan stunting akan berhasil nantinya. Angkanya terus kita ditekan hingga hilang nantinya,” katanya.
Sebelumnya, Sekretarisnya Marten Oman mengatakan, banyak faktor memang yang berpengaruh pada persoalan gizi bayi dan Balita. Bahkan sejak dalam kandungan idealnya diperhatikan asupan gizinya.
“Pasti, upaya menurunkan angka stunting terus dilakukan sehingga suatu saat nanti daerah ini bisa dinyatakan bebas stunting,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










