Uskup Ewald Titip Tiga Pesan Bagi Politisi Keuskupan Maumere Jelang Pemilu Serentak 2024 - FloresPos Net

Uskup Ewald Titip Tiga Pesan Bagi Politisi Keuskupan Maumere Jelang Pemilu Serentak 2024

- Jurnalis

Jumat, 6 Oktober 2023 - 17:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE, FLORESPOS.net-Uskup Keuskupan Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu atau yang akrab disapa Uskup Ewald menitipkan tiga pesan penting bagi kerasulan awam (kerawam) khususnya yang terjun ke arena politik praktik menjelang Pemilu serentak pada 14 Februari 2024.

Pesan Uskup Ewald ini disampaikannya dalam sambutan saat membuka Seminar bertajuk “Pendidikan Politik Kritis Warga/Umat Keuskupan Maumere” di Aula Kherubim Center Hall (KCH) Maumere, Jumat (6/10/2023).

Seminar diselenggarakan oleh Seksi Kerawan Politik Paroki Katedral Santo Yoseph Maumere.

Tiga pesan penting Uskup Ewald untuk kerawam dan politisi. Pertama, politik sebagai kesempatan untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bersama.

Memilih dunia politik sebagai ladang perjuangan kita, berarti memilih sebuah cara hidup untuk melawan lingkaran ketidakadilan, kemiskinan dan kekerasan yang melanda kehidupan masyarakat kita.

Dengan mengambil jalan politik praktis ini, setiap kita membawa panggilan kemuridan Yesus di tengah dunia, dalam segala kemajemukannya.

Kita harus berjuang, dan cita-cita kesejahteraan umum, harus sungguh dikawal dalam sebuah kesinambungan program hidup berbangsa dan bernegara kita.

Kedua, jadilah terang dan garam, dalam seluruh suka duka karier politikmu, baik ketika nanti terpilih atau pun ketika kita belum terpilih.

Mengelola pikiran, perasaan dan keyakinan menjadi sangat penting, agar kita tidak merusakkan makna politik yang baik dan benar.

Jati diri kita pun ditentukan sejauh mana kita memaknai kekuasaan, apakah sebagai tujuan ataukah sebagai sarana.

Kekuasaan itu berwajah ganda, baik ketika menarik dan memikat maupun ketika merusak dan menghancurkan kepribadian dalam tata kelola yang salah dan bobrok.

Mulanya kita merindukan kekuasaan, namun kadang setelah kita masuk di dalamnya, kita kehilangan jati diri dan kita menceburkan serta menjerumuskan diri dalam jurang otoritarianisme yang memilukan.

Tetaplah baik dan benar, dalam dinamika perpolitikan berbangsa dan bernegara, dan itulah jati diri seorang murid Yesus dalam etika politik kristiani.

Ketiga, panggilan kaum awam menjadi tumpuan hidup Gereja dalam dunia politik. Teruslah mengawal kehidupan yang baik dan benar, dalam setiap tahapan proses pemilihan hingga pada puncaknya nanti, saat pemilihan di bilik suara.

Budaya kompetisi yang sehat dan budaya mengelola konflik, harus menjadi bagian penting dari pemikiran dan penghayatan nilai dari kita sekalian.

Tanpa kaum awam yang tangguh, militan dan beriman, kita mungkin akan kehilangan roh kesaksian (martyria) dalam Gereja kita.

Berani bersaksi di tengah kancah politik nasional dan lokal, hendaknya senantiasa menyadarkan kita betapa kesetiaan akan kebenaran itu jauh lebih penting daripada kesuksesan dan kegemilangan kekayaan karena kerja kotor penuh manipulasi.

Baca Juga :  Perkuat Literasi Pelajar, Disarpus Sikka Kunjungi Sekolah di Daerah Pedalaman

“Demikian satu dua pokok refleksi yang bisa saya berikan dalam diskusi bersama kita pada hari ini, dan saya tetap berharap kita tetap menyadari panggilan sebagai rasul awam yang tangguh, militan dan beriman teguh pada Kristus. Semoga Tuhan memberkati,” kata Uskup.

Perjuangkan Keadilan dan Kebaikan Bersama

Uskup dalam sambutannya juga menggarisbawahi pentingnya para kerawan Katolik yang maju dalam politik praktis untuk selalu memperjuangkan kebenaran dan kebaikan bersama di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, membawa setiap pemeluk agama yakni warga Gereja, untuk sungguh-sungguh memahami panggilannya sebagai terang dan garam dalam situasi ketidakadilan, kemiskinan dan kekerasan yang melanda kehidupan bangsa dan negara kita.

“Dalam konteks panggilan ini, Gereja memberikan tempat yang istimewa bagi kerasulan awam Katolik dalam kancah perpolitikan nasional dan lokal, untuk membawa nilai-nilai kristiani dalam dinamika demokrasi dewasa ini, melalui kendaraan politiknya masing-masing,” kata Uskup.

Uskup menggarisbawahi bahwa Diskusi tentang politik pada hari ini, membawa sebuah harapan iman, betapa kita semua yang terbaptis dan yang tertahbis pun yang mengucapkan kaul kebiaraan, terpanggil untuk setia pada jalan keadilan dan kebenaran.

“Kesetiaan kita pada rahmat pembaptisan dalam seluruh misteri iman akan Kristus Yesus, dinamika mendorong kita untuk terlibat dalam demokrasi untuk memperjuangkan politik yang baik dan yang benar, dan kitalah yang harus menyadari diri sebagai subyek yang aktif, insan beriman yang kritis, etis dan penuh cinta. Diskusi politik ini boleh jadi membawa kita pada sebuah pergolakan kejujuran hati nurani kita, apakah kita mau mengejar jabatan dan kekuasaan semata, ataukah kita sungguh membawa terang cinta Allah dalam suka duka perjalanan karier politik kita?” tanya Uskup.

Seminari selama dua hari ini menghadirkan narasumber, Pengurus Kerawam KWI, Dr. Ari Nuschayo yang juga Direktur Eksekutif PARA Syndicate membawakan materi “Membaca Peta Politik Nasional Menuju Pemilu 2024” dan Sekretaris Sidang Kode Etik Penyelenggara Pemilu (DKPP RI) Dr. Osbin Samosir, S.Ag., M.Si membawakan materi “Bangga Menjadi Bangsa Indonesia.”

Dr. KGD Gobang, S.Fil, M.A. membawakan materi “Dinamika Politik Lokal Menjelang Pemilu 2024”, RP. Hubert Thomas Hasulie, SVD membawakan materi “Mendorong Partisipasi Aktif  Umat Dalam Pemilu 2024” dan B. Dhey Ngebu (Ketua DPRD Ngada) membawakan materi “Kemitraan Pemerintah dan Gereja Sebuah Sharing Pengalaman.”

Moderator, yakni Dosen Unipa Indonesia Rini Kartini, J.A. Nong Baba; Seldy L. Utapara, Floridus Dionisius, dan Bernardus Teng Karwayu.

Baca Juga :  Perkelahian Berujung Pembunuhan di Pemana, Tersangka Ditahan di Mapolres Sikka

Peta Politik Nasional

Narasumber Dr. Ari Nuschayo dalam materinya “Membaca Peta Politik Nasional Menuju Pemilu 2024” antara lain menggambarkan pelbagai dinamika politik nasional, peluang para capres, peran partai politik, tahapan pemilu, dinamika pemilih orang muda, pelbagai tantang dan dinamika nasional serta peta politik lainnya.

Ari Nuscahyo pada kesempatan ini menyebut ada enam tantangan  sosial  dan politik menuju Pemilu serentak 2024.

Pertama, Tantangan Kebangsaan: konstitusi dan idiologi: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Kedua, polarisasi politik: politik identitas, politisasi SARA, dan pembelahan masyarakat.

Ketiga, demokrasi electoral: how to vote welt one man one vote, emotional vs rational, abundant of information vs lack of knowledge.

Keempat, politik uang dan korupsi: transaksional, mahar politik dan membeli suara.

Kelima, disinformasi dan hoaks: beriata bohong, informasi keliru (tidak benar) yang sengaja direkayasa untuk membohongi.

Keenam, perlambatan ekonomi: politik nasional memamas di tengah perlambatan ekonomi akibat krisis globa; dan persaingan geopolitik-geoekonomi.

Ari meminta para kerawam yang hadir dalam kegiatan ini untuk menjalankan politik cerdas dan kritis, berhati nurani dan bermoral untuk kebaikan bersama.

Usai materi narasumber Ari Nurcahyo peserta di antaranya Melki, Nico Salo, Antonius Gaharpung, Siflan Angi, Vicky da Gomez, Huberta, Mayestati, Simon Subandi, Yoseph Ansar Rera, dan politisi memberikan beberapa masukan dan catatan kritis seputar stop hoaks, politik identitas, pentingnya validitas survei, politik transaksional, dan lainnya.

Terima Kasih

Ketua Seksi Kerawam Politik Paroki Katedral Santo Yoseph Maumere Bernardus Teng Karwayu dalam lapora menyampaikan terima kasih kepada Yang Mulia Uskup Maumere, para narasumber, utusan kerawam setiap paroki, para politisi, dan peserta seminar yang terlibat aktif dalam seminar selama dua hari itu.

Teng Karwayu menambahkan seminar ini dilaksanakan dalam upaya memaknai Perayaan 150 Tahun Paroki Katedral Santo Yoseph Maumere dan dalam upaya mewujudkan para politisi katolik yang berkualitas untuk maju dalam pemilu serentak 2024 atau pun para kerawan yang terlibat dalam politik praktis.

Hadir dalam rangkaian kegiatan ini di antaranya Ketua Biro Politik Keuskupan Maumere RD. Domi Dange, Ketua Umum Panitia Perayaan 150 Tahun Paroki Katedral Santo Yoseph Maumere Yoseph Ansar Rera, RP. Polce, CP (Nangahure), dan utusan kerawam dari pelbagai paroki di Keuskupan Maumere, dan Anggota Biro Politik KUM dan Paroki Katedral. *

Penulis: Wall Abulat/Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Jadikan Pulau Kelor Spot Unggulan Manggarai Barat
Pemkab Manggarai Barat Diminta Kelola Pulau Kelor, Wisatawan Kunjung 24 Jam
Pemda Flores Timur Sewa Lahan 200 Ha untuk Sentra Peternakan Sapi–Baru 30 Ha yang Dikelola
Universitas Flores Kembali Lepas Ratusan Sarjana dan 10 Lulusan Pasca Sarjana ke Masyarakat
WALHI Sebutkan Pembangunan Tambak Udang di Sumba Timur, Ancaman Serius Terhadap Ekologis
Bupati Sikka Ingatkan Bank NTT Bangun Komunikasi dengan Semua Pihak
Cross Way Putus, Akses ke Tiga Desa di Manggarai Timur Lumpuh
Pertemuan Koordinasi dan Advokasi Pelaksanaan PKG Flores Timur, Ogie Silimalar: Cek Kesehatan Gratis, Pintu Masuk Deteksi Penyakit
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:51 WITA

Jadikan Pulau Kelor Spot Unggulan Manggarai Barat

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:48 WITA

Pemkab Manggarai Barat Diminta Kelola Pulau Kelor, Wisatawan Kunjung 24 Jam

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WITA

Pemda Flores Timur Sewa Lahan 200 Ha untuk Sentra Peternakan Sapi–Baru 30 Ha yang Dikelola

Rabu, 13 Mei 2026 - 18:05 WITA

Universitas Flores Kembali Lepas Ratusan Sarjana dan 10 Lulusan Pasca Sarjana ke Masyarakat

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:46 WITA

WALHI Sebutkan Pembangunan Tambak Udang di Sumba Timur, Ancaman Serius Terhadap Ekologis

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Jadikan Pulau Kelor Spot Unggulan Manggarai Barat

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:51 WITA