LARANTUKA, FLORESPOS.net-Reaksi penolakan terhadap proyek strategis nasional (PSN) pengembangan energi panas bumi (geothermal) di wilayah Pulau Flores dan Pulau Lembata disuarakan pula dari Bukit Fatima Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mgr Fransiskus Kopong Kung, Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka yang ditemui wartawan dikediamannya di Bukit Maria Fatima, Larantuka, Jumat (9/10/2026) menyatakan dengan tegas menolak rencana pengembangan panas bumi di Pulau Flores dan Lembata.
“Ini suara dari Bukit Fatima, seruan moral dari Bukit Fatima. Saya menolak proyek Geothermal di Pulau Flores dan Lembata. Saya mendukung penolakan yang disampaikan Uskup Larantuka Mgr Hans Monteiro serta penolakan masyarakat,” katanya.
Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung setelah pensiun menetap di kawasan Taman Doa Bukit Maria Fatima berlokasi di Jalan Tiga San Dominggo Larantuka, Kecamatan Larantuka.
Mgr Frans Kopong bilang, ia tinggal menetap di Bukti Fatima mendengar dan menangkap suara manusia, serta alam, baik yang terucap maupun yang bersuara secara nurani, termasuk suara-suara penolakan proyek pengembangan energi panas bumi Oka Ile Ange di Flores Timur dan Atadei, Kabupaten Lembata.
“Secara nurani, saya mendengar dan menangkap suara masyarakat, suara 54 pastor paroki yang dekat dengan umat menolak proyek geothermal. Saya mendukung penolakan perorangan, kelompok masyarakat, masyarakat adat, para imam dan suara gembala Uskup Larantuka, Mgr Hans Monteiro,” katanya.
Mgr Frans Kopong mengatakan, Flores dan Lembata pulau yang sangat kecil. Pulau yang bentangannya penuh dengan gunung api yang sangat rentan bencana vulkanologi. Karena itu sangat tidak bijak menjadikan Flores dan Lembata sebagai Pulau Geothermal.
“Pulau Flores ini kecil. Flores dan Lembata, Pulau Vulkanik, bukan Pulau Geothermal. Dari ujung barat Manggarai Barat, hingga Flores Timur, Pulau Adonara, dan Pulau Lembata ada gunung api,’ katanya.
“Kita masih berada dalam bencana erupsi Lewotobi dan Ile Lewotolok. Bencana gempa bumi. Bencana alam lainnya. Sangat tidak bijak kalau masuk proyek geothermal. Itu sama dengan menambah penderitaan masyarakat akibat bencana alam,” tambah Mgr Frans Kopong.
Tambah Mgr Frans Kopong, “Alasannya tentu memang banyak yang harus kita lihat. Kita sedang ada dalam bencana Flores yang serius. Gempa bumi, masyarakat sedang berjuang mengatasi dampaknya. Kita sedang dalam kondisi yang berat erupsi gunung api. Jangan buat penderitaan baru. Kita musti berjuang bersama-sama mengatasi penderitaan ini.”
Ia mengatakan, Pulau Flores sangat kecil dan sedang dalam erupsi sejumlah gunung api. Letupan erupsi dari dalam perut bumi sedang terjadi di Pulau Flores dan Pulau Lembata.
*Pulau yang kecil seperti ini, lalu mulai secara alamnya dia sudah erupsi. Keluar dari bawah letupan erupsi dari dalam perut bumi. Lalu kita mau bongkar, kita mau gali, bor supaya panas bumi keluar,” kata Mgr Frans Kopong.
Mgr Frans Kopong mencontohkan Panas Bumi Mataloko. Setelah dibor, yang keluar justru tidak sesuai harapan.
“Siapa yang mau sumbat kembali yang dibor, digali itu. Kita sebagai masyarakat biasa melihatnya dengan kegelisahan. Pulau Flores sekecil ini di bongkar demi kepentingan energi,” katanya.
Solusi Energi Alternatif Flores dan Lembata
Lebih lanjut Mgr Frans Kopong menawarkan dan mendorong solusi energi alternatif untuk Pulau Flores dan Lembata. Menurutnya, cuaca Pulau Flores dan Lembata yang panas sangat berpotensi untuk pengembangan energi matahari atau tenaga surya.
Selain energi matahari atau tenaga surya, menurut Mgr Frans Kopong, khusus Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata ada arus laut yang bisa menjadi energi terbarukan sebagaimana yang pernah digagas oleh mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya.
“Apakah energi terbaru itu hanya lewat bor perut bumi? Bisa kita pikirkan alternatif lain. Kita ini daerah panas, energi matahari bisa dikembangkan. Ada arus laut, bisa jadi energi alternatif di wilayah ini,” kata Mgr Frans Kopong.
Boleh jadi, dua energi terbarukan sebagai solusi energi alternatif, tenaga matahari dan arus laut yang disuarakan dari Bukti Fatima oleh Mgr Frans Kopong cukup tepat dikembangkan di Pulau Flores dan Pulau Lembata. Maka pemerintah perlu melakukan kajian yang lebih mendalam. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










