Oleh: Damianus Dionisius Nuwa
Di Flores, pesta adalah bagian dari kehidupan masyarakatnya. Ada berbagai macam pesta syukuran, mulai dari pesta perkawinan, pesta wisuda, hingga Pesta Sambut Baru. Ketika seorang anak menerima Komuni Pertama, keluarga merasa bersyukur dan ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar, sahabat, dan tetangga.
Makan bersama, musik, tarian, dan kegembiraan menjadi warna yang tidak terpisahkan dari perayaan. Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah. Yang perlu direnungkan adalah ketika pesta yang seharusnya menjadi ungkapan syukur justru berubah menjadi beban.
Di sinilah imbauan tentang penyederhanaan Pesta Sambut Baru menjadi penting. Penyederhanaan tidak berarti kita dilarang berpesta. Tidak juga berarti bahwa sukacita harus dimatikan.
Tidak semua keluarga harus mengadakan pesta dengan bentuk dan biaya yang sama sebab kemampuan setiap keluarga berbeda-beda. Yang sederhana bagi keluarga yang berkecukupan belum tentu sederhana bagi keluarga yang penghasilannya pas-pasan. Karena itu, yang perlu disederhanakan bukan pertama-tama angka rupiahnya, melainkan cara berpikir kita tentang pesta.
Pesta tidak lebih penting daripada pendidikan anak
Kita perlu jujur mengakui bahwa pesta membutuhkan biaya. Ada makanan, pakaian, undangan, dekorasi, musik, minuman, dan berbagai kebutuhan lainnya. Masalah muncul ketika keluarga mulai mengeluarkan uang di luar kemampuan hanya karena takut pesta mereka dianggap kurang meriah.
Ada keluarga yang rela berutang demi pesta. Ada juga yang menghabiskan tabungannya. Bahkan tidak jarang kebutuhan lain harus ditunda. Di sinilah kita perlu bertanya, setelah pesta selesai, apa yang tersisa? Makanan habis, musik berhenti, tamu pulang dan tenda dibongkar. Namun yang pasti anak-anak masih harus bersekolah.
Pendidikan anak bukan kebutuhan sehari, melainkan perjalanan yang panjang. Uang sekolah, buku, seragam, transportasi, kebutuhan kuliah, dan berbagai kebutuhan pendidikan lainnya akan terus datang. Karena itu, sangatlah penting bagi orang tua untuk berpikir jauh ke depan.
Hal ini bukan berarti pesta besar selalu salah dan pesta sederhana juga tidak otomatis selalu benar. Ukurannya adalah kemampuan dan prioritas. Jangan sampai kita sanggup membuat pesta satu malam, tetapi kesulitan membiayai pendidikan anak selama bertahun-tahun.
Pesta bukan perlombaan gengsi
Kadang-kadang tanpa disadari pesta menjadi semacam perlombaan sosial. Orang selalu mengukur sebuah pesta dengan pertanyaaan, siapa yang paling banyak tamunya, siapa yang paling mewah makanannya, siapa yang paling lama pestanya, siapa yang paling besar musiknya.
Padahal, anak yang menerima Komuni Pertama tidak sedang menerima penghargaan karena keluarganya mampu membuat pesta yang besar. Ia sedang belajar mengenal Kristus dan mengambil bagian dalam kehidupan Ekaristi.
Maka, jangan sampai pesta lebih besar daripada makna Ekaristinya. Untuk itulah, penyederhanaan justru dapat menjadi kesempatan untuk mengembalikan pusat perhatian kepada anak, iman, keluarga, dan kebersamaan.
Ketika musik kebahagiaan mengganggu yang lain
Ada persoalan lain yang juga perlu dibicarakan secara jujur yakni kebiasaan pesta dengan dentuman musik yang keras dan berlangsung hingga larut malam serta konsumsi minuman keras yang berlebihan. Musik dan tarian tentu merupakan bagian dari ekspresi budaya dan kegembiraan masyarakat Flores.
Yang menjadi persoalan bukan musik atau tariannya. Persoalannya muncul ketika kegembiraan satu keluarga berubah menjadi gangguan bagi banyak orang.
Ketika musik berdentum hingga larut malam bahkan dini hari, anak-anak tetangga tidak dapat beristirahat dengan aman. Orang tua yang harus bekerja keesokan harinya terganggu. Belum lagi orang sakit yang membutuhkan ketenangan dan Lansia yang memerlukan istirahat yang cukup.
Bahkan mereka yang tidak ikut berpesta akhirnya harus “menikmati” pesta tanpa pernah diundang. Pada titik inilah kita mesti menyadari bahwa kita boleh bergembira, tetapi kegembiraan itu tidak boleh mengambil hak orang lain untuk beristirahat dengan nyaman.
Demikian pula dengan minuman keras. Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat. Alkohol yang berlebihan menyebabkan orang mabuk, dan seringkali memicu pertengkaran, kecelakaan, atau tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Karena itu, pengendalian diri merupakan bagian dari tanggung jawab moral dalam sebuah perayaan pesta. Apalah artinya sebuah pesta yang berakhir dengan perkelahian, kerugian materi bahkan kematian.
Sederhana bukan berarti tidak bahagia
Mungkin sudah saatnya kita mengubah ukuran keberhasilan sebuah pesta. Pesta yang baik bukanlah pesta yang paling mahal, paling ramai, paling lama, atau paling keras musiknya.
Pesta yang baik adalah pesta yang membuat keluarga bahagia tanpa meninggalkan utang, membuat anak bersukacita tanpa mengorbankan biaya pendidikannya, dan membuat tamu bergembira tanpa mengganggu orang di sekitar. Inilah makna penyederhanaan yang lebih luas. Sederhana dalam pengeluaran, bijaksana dalam mengelola uang, terkendali dalam konsumsi, tahu batas dalam merayakan, dan menghormati kehidupan bersama.
Gereja tidak perlu memusuhi budaya pesta masyarakat Flores. Justru Gereja dipanggil untuk membantu budaya tersebut menemukan bentuk yang semakin manusiawi. Musik, tarian, makan bersama, dan kebersamaan tetap dapat dipertahankan. Yang perlu dikurangi adalah pemborosan, gengsi, tekanan sosial, konsumsi berlebihan, dan kebiasaan berpesta yang mengorbankan kenyamanan orang lain.
Pada akhirnya, Pesta Sambut Baru hanya menghabiskan waktu sehari dalam perjalanan hidup seorang anak. Tetapi pendidikan anak berlangsung bertahun-tahun dan menentukan masa depannya.
Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat pesta yang dikenang orang, tetapi lupa memikirkan bagaimana menyiapkan masa depan anak yang kita cintai.
Barangkali inilah saatnya kita berkata “pestanya boleh sederhana, tetapi iman anak harus semakin mendalam. Acaranya boleh tidak mewah, tetapi masa depan anak harus semakin cerah.” Merayakan Komuni Pertama bukan hanya tentang menjamu orang hari ini, tetapi tentang menemani anak berjalan menuju masa depannya.
Karena itu, sejatinya, budaya pesta di Flores, terutama pada momen sakramental seperti Sambut Baru, pada hakikatnya merupakan wujud inkarnasi iman, di mana kegembiraan Ekaristi (ucapan syukur) meluap keluar gedung gereja menjadi persekutuan konkret (komunio) melalui makan bersama, musik, dan tarian.
Namun, ketika perayaan tersebut berubah menjadi beban ekonomi akibat tekanan sosial atau gengsi, terjadi pergeseran teologis dari perayaan rahmat cuma-cuma (gratia) menjadi perhambaan pada standar duniawi yang justru bertentangan dengan spirit Injil.
Kristus senantiasa menegaskan bahwa rahmat-Nya membebaskan dan tidak membebani (Mat 23:4), sehingga dibutuhkan discernment (pembedaan roh) untuk memurnikan kembali tradisi ini dengan mengembalikan fokus utama pada kesucian hati sang anak yang menerima Tubuh Kristus, tanpa mengorbankan esensi ucapan syukur komunal menjadi suatu pemaksaan sosial. *
Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende










