BAJAWA, FLORESPOS.net- Tim Psikososial Kevikepan Bajawa, Keuskupan Agung Ende aktif melakukan layanan Trauma Healing di wilayah kevikepan Bajawa.
Lidwina Dhiu, Ketua Tim Psikososial Kevikepan Bajawa kepada Florespos.net, Rabu (23/9/2026 ) menjelaskan, Tim ini terdiri dari Imam, Guru BK dan Pengurus Sekami dan JPA yang secara sukarela bergabung dan aktif melakukan layanan Trauma Healing di wilayah kevikepan Bajawa.
Tim melaksanakan rangkaian kegiatan Trauma Healing di sejumlah sekolah dan komunitas.
Lidwina mengatakan, kegiatan mulai dilaksanakan sejak tanggal 2 September 2026 di beberapa sasaran, yakni SMKN 1 Aimere, SMK Sanjaya Bajawa, SMAN 2 Bajawa, SD dan SMP Sayap Mengeruda, serta komunitas umat di Tasi Boba Fui dan Ngoranale, Paroki St. Yosef Bajawa dan masih terus berlangsung.
Pendampingan ini bertujuan membantu anak dan remaja mengenali serta mengelola berbagai reaksi emosional yang muncul setelah mengalami gempa, seperti rasa takut, cemas, khawatir, sulit merasa aman, maupun ketakutan ketika terjadi gempa susulan.
Menurut Sekretaris Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngada ini tim juga berupaya membangun kembali rasa aman, semangat, dan keyakinan bahwa mereka memiliki orang-orang di sekitar yang dapat menjadi sumber dukungan.
Kegiatan dikemas secara interaktif dan disesuaikan dengan usia peserta. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, permainan, gerak dan lagu, demonstrasi, sharing, serta refleksi.
Pada anak-anak SD, kegiatan lebih banyak menggunakan permainan dan aktivitas gerak yang menyenangkan.
“Anak-anak diajak bermain bersama, tertawa, bergerak, dan mengenali perasaan mereka dengan cara sederhana,” ungkapnya.
Suasana yang penuh kegembiraan menjadi bagian dari proses untuk membantu anak memperoleh kembali rasa aman setelah mengalami peristiwa yang menakutkan.
Sementara bagi peserta SMP, SMA, dan SMK, kegiatan diarahkan pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai respons psikologis setelah bencana. Para peserta diajak menyadari bahwa setiap orang dapat memberikan respons yang berbeda terhadap pengalaman gempa. Mereka belajar mengenali emosi, memahami respons tubuh ketika merasa takut atau cemas, serta mempraktikkan cara-cara sederhana untuk menenangkan diri.
Tim juga menekankan pentingnya dukungan sosial. Anak dan remaja didorong untuk tidak memendam sendiri ketakutan yang dirasakan, tetapi berani berbicara kepada orang tua, guru, guru BK, teman yang dipercaya, maupun pendamping lainnya.
Dikatakannya juga bahwa kegiatan ini juga menjangkau Sekolah hingga Komunitas Umat dimana pelayanan Tim Psikososial Kevikepan Bajawa tidak berhenti di lingkungan sekolah.*
Penulis : Wim de Rozari
Editor : Anton Harus










