Bupati Simplisius juga mengklaim kebugaran anak penerima MBG meningkat.
“Yang dulunya dua minggu sekali, tiga minggu sekali flu dan pilek, hari ini tidak ada Bapak, jadi tingkat kebugarannya luar biasa untuk mereka yang mendapat jatah MBG ini,” tambahnya.
Bahkan Bupati Simplisius menyebut tingkat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di masyarakat turut menurun sejak MBG berjalan. Namun ia tidak memaparkan data statistik atau hasil penelitian sebagai dasar klaim tersebut.
Yang menjadi sorotan, dalam laporannya di hadapan Presiden, Bupati Simplisius tidak menyinggung soal jumlah pelajar di Nagekeo yang menjadi korban gempa, termasuk yang mengalami luka berat hingga patah kaki.
Di akhir penyampaian, Bupati Simplisius hanya meminta agar program MBG terus dilanjutkan dan jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditambah agar cakupan penerima meluas.
“Kami minta agar MBG ini tetap ada di Nagekeo ini,” tegasnya.
Rapat tersebut menjadi momen penting bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan kebutuhan riil pascabencana.
Namun minimnya data korban, khususnya pelajar, dalam laporan Bupati menuai catatan tersendiri di tengah fokus penanganan darurat. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










