Dalam kehidupan Gereja, ada persoalan nyata yang membutuhkan solusi, tetapi ada pula persoalan yang menjadi besar karena komunikasi yang buruk, prasangka, dan ketidakmauan untuk mendengarkan satu sama lain. Gereja tidak boleh membiarkan “hantu-hantu” tersebut menguasai perahu kehidupan umat.
Fenomena lain yang patut menjadi perhatian adalah semakin berkurangnya keterlibatan sebagian umat dalam kehidupan menggereja. Ada umat yang rajin mengikuti Misa, tetapi kurang tertarik terlibat dalam kehidupan komunitas. Ada yang aktif ketika membutuhkan pelayanan Gereja, tetapi menghilang ketika Gereja membutuhkan tenaga dan pengorbanannya.
Ada pula yang merasa bahwa urusan Gereja cukup ditangani oleh pastor, suster, dewan pastoral, ketua lingkungan, katekis, atau beberapa orang yang memang sejak dahulu aktif.
Cara berpikir seperti ini perlu dikritisi. Gereja bukan perusahaan yang memiliki pegawai dan pelanggan. Gereja adalah persekutuan umat Allah.
Karena itu, setiap orang yang telah dibaptis memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam kehidupan Gereja sesuai dengan kemampuan dan panggilannya. Tidak semua orang harus menjadi pengurus. Tidak semua orang harus berdiri di depan altar.
Tetapi setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk membangun Gereja: mendampingi anak-anak dalam iman, membantu kaum muda, mengunjungi orang sakit, terlibat dalam KBG, menjadi lektor, pemazmur, anggota koor, katekis, pelayan sosial, atau sekadar menjadi pribadi yang menjaga persaudaraan.
Gereja akan menjadi rapuh apabila hanya beberapa orang yang terus-menerus mendayung sementara sebagian besar umat hanya duduk sebagai penonton.
Kita tidak bisa terus bertanya, “Apa yang sudah dilakukan Gereja untuk saya?” tanpa pernah bertanya, “Apa yang sudah saya lakukan untuk Gereja?” Pertanyaan kedua jauh lebih penting karena mengubah posisi kita dari penerima menjadi pelayan.
Di zaman digital, persoalan ini semakin kompleks. Kita bisa sangat aktif membicarakan Gereja melalui media sosial, tetapi tidak hadir ketika komunitas membutuhkan kita.
Kita dapat membagikan kutipan Injil setiap hari, tetapi sulit memaafkan tetangga. Kita bisa mengomentari kesalahan pengurus Gereja, tetapi tidak bersedia mengambil bagian dalam pelayanan. Kita dapat mengkritik pastor atau sesama umat, tetapi enggan menawarkan diri untuk membantu.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










