Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung? - FloresPos Net - Page 2

Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam kehidupan Gereja, ada persoalan nyata yang membutuhkan solusi, tetapi ada pula persoalan yang menjadi besar karena komunikasi yang buruk, prasangka, dan ketidakmauan untuk mendengarkan satu sama lain. Gereja tidak boleh membiarkan “hantu-hantu” tersebut menguasai perahu kehidupan umat.

Fenomena lain yang patut menjadi perhatian adalah semakin berkurangnya keterlibatan sebagian umat dalam kehidupan menggereja. Ada umat yang rajin mengikuti Misa, tetapi kurang tertarik terlibat dalam kehidupan komunitas. Ada yang aktif ketika membutuhkan pelayanan Gereja, tetapi menghilang ketika Gereja membutuhkan tenaga dan pengorbanannya.

Ada pula yang merasa bahwa urusan Gereja cukup ditangani oleh pastor, suster, dewan pastoral, ketua lingkungan, katekis, atau beberapa orang yang memang sejak dahulu aktif.

Baca Juga :  Pandangan Gereja Katolik Tentang Perkawinan Menurut Amoris Laetitia

Cara berpikir seperti ini perlu dikritisi. Gereja bukan perusahaan yang memiliki pegawai dan pelanggan. Gereja adalah persekutuan umat Allah.

Karena itu, setiap orang yang telah dibaptis memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam kehidupan Gereja sesuai dengan kemampuan dan panggilannya. Tidak semua orang harus menjadi pengurus. Tidak semua orang harus berdiri di depan altar.

Tetapi setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk membangun Gereja: mendampingi anak-anak dalam iman, membantu kaum muda, mengunjungi orang sakit, terlibat dalam KBG, menjadi lektor, pemazmur, anggota koor, katekis, pelayan sosial, atau sekadar menjadi pribadi yang menjaga persaudaraan.

Gereja akan menjadi rapuh apabila hanya beberapa orang yang terus-menerus mendayung sementara sebagian besar umat hanya duduk sebagai penonton.

Baca Juga :  Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Kita tidak bisa terus bertanya, “Apa yang sudah dilakukan Gereja untuk saya?” tanpa pernah bertanya, “Apa yang sudah saya lakukan untuk Gereja?” Pertanyaan kedua jauh lebih penting karena mengubah posisi kita dari penerima menjadi pelayan.

Di zaman digital, persoalan ini semakin kompleks. Kita bisa sangat aktif membicarakan Gereja melalui media sosial, tetapi tidak hadir ketika komunitas membutuhkan kita.

Kita dapat membagikan kutipan Injil setiap hari, tetapi sulit memaafkan tetangga. Kita bisa mengomentari kesalahan pengurus Gereja, tetapi tidak bersedia mengambil bagian dalam pelayanan. Kita dapat mengkritik pastor atau sesama umat, tetapi enggan menawarkan diri untuk membantu.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Berita ini 109 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA