Gabriela, mahasiswa semester IV, mengaku tertarik untuk mengikuti program tersebut karena melihat
masih adanya praktik penangkapan berbagai jenis ikan tanpa memperhatikan status perlindungannya di wilayah tempat tinggalnya.
Menurutnya, program ini dapat menjadi ruang belajar yang baik bagi generasi muda untuk memahami isu konservasi sekaligus berkontribusi dalam menjaga lingkungan.
Ano dari Program Studi Sastra Indonesia menyampaikan ketertarikannya untuk mendorong kolaborasi antara komunitas teater yang ia ikuti dengan kegiatan konservasi yang dijalankan oleh TSI dan Pokmaswas Sando Minggo.
Menanggapi berbagai hal yang berkembang dari peserta, Yodhikson menegaskan bahwa program ini terbuka bagi pemuda yang memiliki kemauan untuk belajar dan berkontribusi bagi lingkungan di daerahnya.
“Kami percaya bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu, keterlibatan anak muda menjadi sangat penting dalam membangun gerakan konservasi yang kuat dan berkelanjutan di tingkat komunitas,” ujarnya.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Thresher Shark Indonesia dan Pokmaswas Sando Minggo berharap semakin banyak pemuda Flores Timur yang terlibat dalam upaya konservasi laut dan pengelolaan sumber daya pesisir.
Keterlibatan generasi muda diharapkan dapat memperkuat gerakan konservasi
berbasis masyarakat serta menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keberlanjutan laut dan pesisir Flores Timur untuk generasi mendatang.
Tentang Thresher Shark Indonesia
Thresher Shark Indonesia merupakan sebuah inisiatif yang bergerak di bidang konservasi hiu tikus berbasis masyarakat.
Organisasi ini dipelopori oleh anak muda Indonesia pada tahun 2018 dengan tujuan untuk memahami kerentanan populasi dan habitat kritis hiu tikus melalui penelitian, edukasi, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Wall Abulat










