MAUMERE, FLORESPOS.net-Keluarga siswi SMP MBC Ohe di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang mengaku kecewa terhadap kinerja Polres Sikka dalam mengusut kasus kematian yang dialami anak gadis mereka berusia 14 tahun.
Keluarga korban dalam audensi bersama Wakapolres Sikka dan jajarannya yang dihadiri Wakil Bupati Sikka, mahasiswa dari PMKRI Maumere, GMNI Sikka dan BEM Unipa Maumere menegaskan kekecewaan mereka.
“Keluarga korban mau mengatakan bahwa polisi sebenarnya tidak ada.Kenapa?, mulai dari awal sampai penemuan jasad korban hanya keluarga yang mencari dan menemukan,” tegas Fabianus Beto juru bicara keluarga korban STN siswi SMP MBC Ohe Desa Rubit, Kamis (5/3/2026).
Dalam audensi di aula Mapolres Sikka tersebut, Fabi sapaannya mengakui sampai detik ini pihak keluarga korban tidak melihat pro aktif dari Polres Sikka.
Dirinya bahkan mempersilahkan aparat kepolisian untuk ke lokasi kejadian untuk melihat dimana posisi rumah pelaku dan dimana jasad korban ditemukan supaya analisa berpikir polisi tajam.
Ia mengaku dari awal menahan keluarga korban untuk jangan melakukan tindakan anarkis supaya bersama aparat kepolisian bisa menemukan dimana barang-barang bukti.
“Apakah pernah mendengar orang membakar tempat kejadian? Saya orang yang termasuk menahan keluarga agar jangan melakukan itu karena keluarga mau bersinergi dengan kepolisian untuk mengusut kasus ini,” tegasnya.
Tetapi apa yang keluarga dapatkan berbanding terbalik, keluarga harus berjuang dengan mahasiswa agar mendesak Polres Sikka supaya kasus pembunuhan ini bisa diusut tuntas.
Keluarga mempersoalkan rilis yang dikeluarkan Polres Sikka yang menurut mereka sangat tidak masuk akal dimana dikatakan bahwa jenasah korban korban ditemukan di belakang rumah.
“Memangnya jasadnya bisa berjalan sendiri hingga ke kali?. Buka analisa berpikir kita pak.Saya bisa htung kok polisi siapa saja yang ke lokasi kejadian,” pintanya.
Fabi menegaskan pihak keluarga hanya menuntut keadilan,hanya mempunyai satu permintaan tersebut dan keluarga korban menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.
Dirinya mengatakan terjadinya pembunuhan dan jenasahnya dipindahkan ke tempat lain maka pelakunya bukan satu orang, perlu diusut keluarga pelaku yang lainnya.
Apabila pihak kepolisian meminta data maka dirinya mempersilahkan untuk menghubungi dirinya dan dia siap untuk memberikan data tersebut.
“Gara-gara SG masih berkeliaran warga di Desa Mamai tidak berani ke kebun. Saya menelepon keluarga di sana, meeka mengaku resah dengan kehadiran SG di kampung mereka,” ujarnya.
Fabi meminta polisi agar melacak orang lain yang mengancam orang-orang untuk bersaksi dalam kasus pembunuhan ini.
Ia mengaku miris membaca hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang sudah dirilis ke media dimana baginya itu keterangan dari pelaku dan mempertanyakan kenapa tidak gali dari BAP 3 orang saksi korban.
Kenapa tidak dibandingkan BAP dari saksi korban dengan BAP dari pelaku karena menurutnya belum tentu pelakunya cuma satu orang dan dia meyakini polisi lebih paham hal ini karena belajar ilmu kriminologi.
Kata dia, keluarga berharap setiap orang dalam kasus ini baik pelaku utama maupun yang turut serta meskipun perannya kecil tetap diseret.
“Kalau besok lusa ada keluarga yang melapor bahwa anak gadisnya hilang polisi jangan mengatakan cari dulu di rumah keluarga atau mengatakan dia lari ikut pacarnya,” pesannya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










