LARANTUKA, FLORESPOS.net-Childfund Internasional di Indonesia dan Yayasan FREN resmi menutup kemitraan pelaksanaan dan pendampingan program selama 37 tahun di wilayah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Acara resmi penutupan program dengan tajuk Perayaan Kemandirian “Merajut Perubahan, Menyerahkan Estafet” dimaksud berlangsung di aula Bruder Niko FICP Biara La Mennais-Weri, Larantuka, Rabu (25/6/2025.
Koordinator Progam Kemitraan Yayasan FREN, Maria M. Palapadi menjelaskan, Childfund Internasional di Indonesia dan Yayasan FREN sejatinya masuk wilayah Kabupaten Flores Timur sejak tahun 1989 di Kecamatan Ile Mandiri, tepatnya di Desa Riangkemie.
Dalam perjalanan, pada tahun 2000, Childfund dan Yayasan FREN masuk pada sejumlah desa di Kecamatan Adonara Barat, Kecamatan Wotan Ulumado, Kecamatan Solor Timur dan Kecamatan Solor Selatan.
Maria Palapadi menjelaskan berbagai latarbelakang hingga Childfund International di Indonesia dan Yayasan FREN masuk di Flores, khususnya Kabupaten Flores Timur.
Menurut dia, latar belakang sehingga Childfund dan Yayasan FREN melakukan intervensi, yakni, tingginya angka putus sekolah di pendidikan dasar dan menengah; tingginya gizi buruk, rendahnya kesadaran dan praktik perilaku hidup bersih dan sehat.
Keterbatasan akses terhadap air bersih, khususnya di daerah pedesaan, minimnya layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) pada sebagian besar wilayah; semakin marak kasus kekerasan terhadap anak, baik yang terjadi dalam lingkungan keluarga, di sekolah, maupun di masyarakat secara umum.
Kata Maria Palapadi, dari latar belakang itu, Yayasan FREN dan Childfund masuk melalui sejumlah phase. Pertama, membangun hubungan baik dan mobilisasi masyarakat, identifikasi pihak-pihak terkait untuk pelaksanaan program.
Phase kedua, mobilisasi masyarakat dan mereka diharapkan bisa berpartisipasi. Phase ketiga, pemberdayaan masyarakat. Fase empat program sudah bisa diserahterimakan ke pihak desa dan phase kelima serahterima atau pengalihan kemandirian 100 persen.
“Selama berada kami masuk di tahapan hidup anak terutama pengasuhan dan lembaga pendidikan PAUD. Pola komunikasi, pelatihan-pelatihan, literasi keuangan, melatih menabung, responsif terhadap bencana, penguatan melalui forum anak, dan lainnya,” katanya.
Maria Palapadi mengharapkan model pendampingan dan pemberdayaan serta cara-cara kerja yang selama ini diterima dari Childfund dan Yayasan FREN dapat terus berkelanjutan tidak hanya dari individu, pemerintah desa tapi juga pemerintah daerah meski tidak ada lagi pendampingan.
“Kami tentu punya harapan agar isu-isu dan program-program tersebut bisa telah menjadi dasar pijakan dalam merancang dan melaksanakan berbagai program transformasi sosial yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak secara holistik. Praktek baik ini dapat terus berkelanjutan,” katanya.
Selain itu, kata Maria Palapadi, juga agar program pendampingan dan pelayanan itu bisa terus ada dan bisa ada peraturan desa tetang perlindungan anak, pengurangan resiko bencana serta pemda mengoptimalkan fasilitator dalam pelaksanaan program-program.
“Kami mendorong dan harapkan agar keberlanjutan program dapat diambil alih oleh Pemda, Pemdes, dan pihak lain melalui kebijakan lokal, integrasi ke dalam RPJMD maupun RKPDes, serta pendanaan desa dan kemitraan multisektor,” tutup Maria Palapadi.
Perayaan Kemandirian “Merajut Perubahan, Menyerahkan Estafet” dihadiri para pemangku kepentingan baik Pemda, Pemdes, maupun pihak-pihak terkait lain. Hadir juga anak-anak pendampingan Childfund dan Yayasan FREN dari semua desa di Flores Timur. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










