Etwar berharap, Kadin Sikka dan Pemda Sikka bisa bekerjasama untuk meningkatkan perekonomian demi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sikka.
Sementara itu, Theresia Isidoris Fernandez, ketua Bidang UMKM Kadin Sikka mempersoalkan maraknya pungutan liar di lokasi-lokasi wisata yang ada di Kabupaten Sikka yang masih saja terjadi.
Isye sapaannya menegaskan, para pelaku wisata di Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) mengharapkan agar ada penertiban pungutan liar.
Ia mengatakan, pelaku wisata tidak keberatan adanya pungutan namun sebaiknya pungutan tersebut sesuai engan Peraturan Daerah (Perda) Retribusi yang sudah ditetapkan.
“Saya membawa tamu ekspatriat berkunjung ke Desa Egon Gahar untuk melihat potensi kopi dan kami mampir ke wilayah Egon Buluk.Kami diminta membayar per orang Rp 25 ribu,” ungkapnya.
Isye menambahkan, di Pantai Koka, Kecamatan Paga sudah sering terjadi pungutan liar kepada wisatawan yang berkunjung dan sudah ada 4 titik pungutan liar di lokasi pantai wisata ini.
Ia menyebutkan, kondisi ini membuat wisatawan jadi bertanya-tanya dan bingung, pemandu wisata juga bingung mau menetapkan paket wisata.
Selain itu kata dia,pelaku UMKM di Kabupaten Sikka berharap agar rumah produksi kemasan yang sudah dibangun Pemda Sikka dan bisa segera beroperasi.
“Selama ini banyak UMKM membuat kemasan produk mereka di Pulau Jawa sehingga biayanya lebih tinggi dibandingkan bila bisa diproduksi di Kabupaten Sikka,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










