Baron Rudolf, Manusia Pertama Dimangsa Komodo - FloresPos Net

Baron Rudolf,  Manusia Pertama Dimangsa Komodo

- Jurnalis

Senin, 3 Juli 2023 - 14:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Konflik manusia versus biawak Komodo di Taman Nasional Komodo (TNK) seakan tak pernah berkesudahan. Hingga kini banyak  orang menjadi korban binatang purbakala raksasa tersebut.

TNK kewenangan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Instansi lapangan yang mengelola TNK yakni BTNK. TNK bagian DARI Kabupaten Managgarai Barat (Mabar) Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berbagai sumber menyebutkan, sejak puluhan tahun silam lusinan orang sudah dimangsai Komodo di TNK. Baik yang mati maupun luka-luka, entah penduduk lokal, petugas maupun turis domestik dan asing.

Salah seorang yAng lenyap di TNK, tepatnya di Pulau Komodo, Baron Rudolf Reding Von Biberegg. Kisah akhir hidupnya di nusa mini savana tersebut (Pulau Komodo) tampak begitu singkat.

Pada 18 Juli 1974 dia melancong di Pulau Komodo. Namun seketika itu pula ajal menjemput. Dalam seper sekian detik Baron Rudolf Von Biberegg lenyap bagai ditelan bumi, dan tersangkanya hewan purbakala raksasa Komodo.

Dikala ajal tiba di Pulau Komodo 1974, Baron Rudolf Von Biberegg genap usia 74 tahun. Dia datang menggunakan kapal kayu dengan sekelompok wisatawan mancanegara lainnya asal benua biru-Eropa.

Baca Juga :  Kadis Babur Pastikan MPP Manggarai Barat Launching Akhir 2024

Bersama sekawanan turis asing itu, Baron Rudolf Von Biberegg, mendarat di Loh Liang Pulau Komodo. Komodo setempt diberi umpan seekor kambing. Hal itu demi menyaksikan keganasan dan kebuasan binatang purba Varanus Komodoensis alias Komodo.

Namun kala itu ada Komodo yang merasa terusik dan terganggu atas kehadiran Baron Rudolf Von Biberegg. Seketika itu pula pria asal Swiss tersebut hilang lenyap. Dicari tidak ditemukan.

Sesuai data BTNK, total serangan Komodo terhadap manusia di TNK sepanjang 1974-2023 ada 36 kasus. Korban luka-luka 31 orang, dan 5 sisanya mati, termasuk Baron Rudolf.

Florespos. net medapatkan data dimaksud dari Sekretaris BTNK Urbanus Sius belum lama berlalu di Labuan Bajo seizin Kepala BTNK Hendrik Rani Siga.

Tentang Baron, dalam data BTNK hanya tertulis Baron Rudolf. Tapi sumber lain menyebutkan Baron Rudolf Von  Baberegg.

Masih data BTNK, selama kurun waktu 1974-1984 ada 3 kasus serangan Komodo atas manusia di TNK. Seorang warga setempat asal kampung Rinca (TNK) luka sedang, dan 2 lainnya meninggal.  Satu orang asal kampung Rinca, dan seorang lagi turis bernama Baron Rudolf.

Dekade 1984-1994 ada 3 kasus. Korban meninggal satu orang, juga asal kampung Rinca, dan 2 lain alami luka ringan. Periode 1994-2004 ada 8 kasus, 2 luka sedang dan 6 luka ringan.

Baca Juga :  Hari Kelima Pencarian, Tim SAR Gabungan Temukan Serpihan Kapal KM. Putri Sakinah

Rentang waktu 2004-2014 makan korban 15 orang. Dua orang mati, masing-masing asal kampung Komodo (TNK) dan seorang dari pulau Messah (luar TNK/tetangga Pulau Komodo). Di masa waktu 2014-sekarang tercatat 7 kasus, 1 luka berat, 5 luka sedang, 1 luka ringan.

Data yang sama mencatat, bahwa kasus gigitan Komodo di TNK sebagian besarnya dialami oleh petugas dan masyarakat dalam kawasan TNK. Sedangkan kasus menyerang wisatawan hanya 2, termasuk Baron Rudolf.

Masih data BTNK, manusia pertama tercatat sebagai korban serangan Komodo adalah Baron Rudolf. Terhadap kasus ini tidak ada saksi mata, tak ada jejak kaki, tidak ada sisa tubuh korban di  tempat kejadian perkara (TKP).

Kasus ini dikenang sebagai catatan gigitan Komodo pertama kepada wisatawan. Atas hal itu pula dibangun sebuah monumen sebagai pengingat kejadian itu. Dan bukit tempat kejadian perkara dinamai bukit Rudolf, lokasinya di Loh Liang  Pulau Komodo.

Baron Rudolf Von Baberegg telah pergi dan tak pernah kembali. *

Penulis: Andre Durung/Editor:Anton Harus

Berita Terkait

Berharap Pendapatan RSUD, Target APBD-P Flores Timur Tahun 2026 Naik Rp 5,7 Miliar
Huntap Buat Warga Terdampak Gempa Flores di Sikka Segera Dibangun untuk Tahap Pertama
Bantuan Stimulan Pembangunan Rumah Rusak di Sikka Dampak Gempa Flores Siap Dikucurkan
Kemenpar Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Wisata Bahari melalui Sertifikasi Pemandu Snorkeling Level III
Elnino, Padi Sawah Manggarai Barat Terancam Gagal Panen, Apen: Mata Air Kering
Pendampingan Psikososial dan Bahan Bacaan Bagi Murid SDI Butata Nagekeo, Kerja Bareng Yaspora NTT dan PKBM Bintang Floresta
Wabup Ngada Terima Bantuan Rp1,2 Miliar dari Kemenko Pangan 
Tim Psikososial Kevikepan Bajawa Dampingi Anak dan Remaja Terdampak Gempa
Berita ini 333 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:20 WITA

Berharap Pendapatan RSUD, Target APBD-P Flores Timur Tahun 2026 Naik Rp 5,7 Miliar

Sabtu, 26 September 2026 - 18:35 WITA

Huntap Buat Warga Terdampak Gempa Flores di Sikka Segera Dibangun untuk Tahap Pertama

Sabtu, 26 September 2026 - 18:30 WITA

Bantuan Stimulan Pembangunan Rumah Rusak di Sikka Dampak Gempa Flores Siap Dikucurkan

Sabtu, 26 September 2026 - 16:21 WITA

Elnino, Padi Sawah Manggarai Barat Terancam Gagal Panen, Apen: Mata Air Kering

Sabtu, 26 September 2026 - 16:03 WITA

Pendampingan Psikososial dan Bahan Bacaan Bagi Murid SDI Butata Nagekeo, Kerja Bareng Yaspora NTT dan PKBM Bintang Floresta

Berita Terbaru

Opini

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Minggu, 27 Sep 2026 - 12:58 WITA