MAUMERE, FLORESPOS.net-Bertempat di Gereja Karmel, Biara Karmel Wairklau, Maumere, Kabupaten Sikka, Kamis (15/10/2026), dilaksanakan tahbisan imamat bagi 7 imam Ordo Karmel oleh Uskup Maumere, Mgr.Edwaldus Martinus Sedu, Pr.
Dalam kesempatan tersebut Uskup Maumere memberikan tahbisan kepada Rp Polikarpus Beda Kaha, O.Carm, RP Siprianus Bruto, O.Carm, RP Hirnonimus Nunde Nuru, O.Carm, RP George Mario Crystianus Amak Doni Soge, O.Carm, RP Eusabius Soa, O.Carm, RP Ambrosius Robertus Ratu, O.Carm dan RP Igansius Liberto S.Kota, O.Carm.
Dalam kotbahnya Uskup Maumere mengatakan,hari ini, pada pesta Santa Theresia Avilla, kita diingatkan akan keyakinan yang menjadi tema perayaan ini. “Tuhan Saja Cukup Bagiku”.
“Ungkapan ini menegaskan bahwa Tuhan adalah sumber dan tujuan hidup yang tidak dapat digantikan oleh apapun,” sebut Mgr.Edwaldus.
Uskup Maumere menyebutkan, dalam bacaan pertama, penulis Kitab Kebijaksanaan lebih memilih kebijaksanaan Allah daripada kekuasaan dan kekayaan.
Sebab kebijaksanaan memampukan manusia mengenali dan memilih apa yang sungguh berarti sehingga Mgr. Edwaldus berpesan kepada 7 imam baru Karmel ini agar berpedoman pada kebijaksanaan.
Bukan sekedar kepandaian atau kemampuan, melainkan kebijaksanaan untuk mendengarkan, mengambil keputusan, dan melayani umat dengan rendah hati sesuai kehendak Tuhan.
“Kebijaksanaan untuk melayani sesuai kehendak Tuhan tidak hanya yang kita peroleh melalui kebijaksanaan sendiri. Tetapi terutama melalui bimbingan Allah. Sebagaimana menegaskan Rasul Paulus dalam bacaan ini,” ungkapnya.
Uskup Edwaldus menegaskan, semua orang yang dibimbing oleh Allah adalah anak-anak Allah, dan ketika kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, roh sendiri membantu kita.
Uskup Edwaldus mengingatkan agar para imam baru ini, dalam perjalanan imamat kelak mungkin akan ada saat ketika pelayanan terasa tidak membuatkan hasil, keputusan yang diambil dianggap keliru atau kelelahan mulai melemahkan semangat.
Ia meminta agar dalam keadaan demikian, jangan merasa harus selalu kuat dan memiliki jawaban atas segala persoalan.
“Seorang imam mampu bertahan dalam panggilannya bukan karena kekuatannya sendiri. Melainkan karena kesediaannya untuk terus dibimbing dan dibentuk oleh roh kudus,” ucapnya.
Uskup Maumere menambahkan, dari bimbingan roh kudus inilah bertumbuh empat kualitas yang harus menyatu dalam hidup dan pelayanan seorang imam yakni menjadi imam yang baik, imam yang benar, imam yang santun, dan imam yang kudus.
Uskup Edwaldus sebutkan, kualitas pertama yang harus kalian temukan adalah menjadi imam yang baik yakni imam yang menghadirkan kasih Kristus melalui kedekatan dan pemberian diri kepada umat.
“Yesus bersabda, akulah gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-domba itu. Karena itu kebaikan seorang imam tidak diukur dari popularitas. Banyaknya kegiatan atau keberhasilan membangun fasilitas,” pesannya.
Melainkan tegas Edwaldus, dari kesediaannya mengenal, mendengarkan, dan menemani umat, terutama mereka yang sakit, miskin, dan membutuhkan perhatian.
Ia mengatakan, imam yang baik bukan sekadar imam yang banyak bekerja untuk umat tetapi imam yang kehadirannya membuat umat merasa dihargai dan dicintai.
Kebaikan seperti ini tumbuh dari hati yang dibimbing oleh roh kudus bukan oleh keinginan untuk dipuji dan dihormati.
Kebaikan yang lahir dari bimbingan roh khulus harus berjalan bersama kebenaran dan kesantunan yang merupakan kualitas kedua dan ketiga seorang imam.
“Sebagaimana ditunjukkan Yesus ketika menjumpai perempuan Samaria di Sumur Yakub. Meskipun terdapat perbedaan sosial dan keagamaan, Yesus menyampaikan dengan hormat dan menuntunnya untuk mengenalkannya pada sumber air hidup dunia sejati,” ucapnya.
Uskup Edwaldus menegaskan, Yesus tidak menyampaikan kebenaran demi menyenangkan perempuan itu tetapi menyampaikannya dengan penuh hormat sehingga perjumpaan mereka membuka jalan bagi iman dan mengubah hati.
Dari teladan Yesus ini seorang imam dipanggil untuk menjadi imam yang benar, yang tidak hanya mengajarkan kebenaran iman tetapi juga menghidupinya melalui kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan.
Uskup Maumere menambahkan, seorang imam juga dipanggil untuk menjadi imam yang sanggup, yang mampu menegur tanpa menghina, bersikap tegas tanpa berlaku kasar dan menghormati martabat setiap orang dalam perkataan maupun tindakan.
“Imam yang benar tidak merasa dirinya selalu benar. Imam yang santun tidak mengorbankan kebenaran demi menyenangkan orang lain. Kebenaran dan kesantunan harus berjalan bersama,” tegasnya.
Hal ini penting kata Uskup Maumere agar pelayanan imamat sungguh membawa umat semakin dekat kepada Kristus sebab kebenaran yang disampaikan tanpa kasih dapat menyakiti.
Tetapi kebenaran yang dihadirkan dengan kesantunan dapat menyentuh hati, membuka jalan bagi pertobatan dan mengubah kehidupan.
Uskup Edwaldus menegaskan, kebenaran yang menyentuh hati dan membawa orang kepada pertobatan harus lahir dari kehidupan yang dekat dengan Kristus dan disitulah kita menemukan kualitas keempat seorang imam yakni ketulusan.
Dirinya minta kepada para imam yang baru ditahbiskan agar jangan sampai tersibukkan berbicara tentang Tuhan kepada umat justru membuat seorang imam semakin jarang berbicara dengan Tuhan dalam kebenaran.
“Yesus bersabda tinggallah di dalam aku dan aku di dalam kamu.Karena itu kekudusan bukan terutama soal penampilan saleh, atau keindahan perayaan liturigi melainkan keselarasan antara apa yang dirayakan di altar dan apa yang dihidupi setiap hari,” pesannya.
Uskup Edwaldus menekankan, imam yang kudus terus membiarkan Kristus membentuk pikiran, keputusan dan pelayanannya serta dengan rendah hati mengakui kesalahan dan membaharui diri.
Ia meminta agar para imam yang ditahbiskan hendaklah jadi imam yang baik dalam hati, benar dalam prinsip, santun dalam relasi dan kudus dalam segala kehidupan.
Keempat kualitas ini harus bertemu bersama agar ada keselarasan antara iman yang diwartakan, kehidupan yang dijalankan dan kasih yang diberikan kepada umat.
Dirinya berpesan, semoga dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagalan pujian maupun kritik, kelimpahan maupun kekurangan, selalu berpegang pada keyakinan Santa Theresa Avilla ini, Tuhan Saja Cukup Bagiku.
“Marilah kita mendukung ketujuh imam baru ini dengan doa, kasih, dan persaudaraan.Sambil terus memperbarui iman kita sendiri agar dalam suka dan duka kehidupan, kita pun semakin percaya bahwa Tuhan saja sudah cukup bagiku,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










