Pancasila, Jiwa Sosial dan Ruang Publik yang Menyatukan Perbedaan - FloresPos Net

Pancasila, Jiwa Sosial dan Ruang Publik yang Menyatukan Perbedaan

- Jurnalis

Rabu, 1 Oktober 2025 - 08:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

BAGI bangsa dan negara Indonesia, 1 Oktober menjadi hari yang spesial. Bangsa dan negara Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Sebuah ‘momen’ peneguhan bahwa Pancasila adalah jiwa kolektif bangsa yang tak tergantikan.

Bahwasanya, ia ‘sakti’ untuk bertahan sebagai fondasi etis dan pemersatu di tengah gelombang zaman yang terus berubah, sebagai kompas moral yang menuntun bangsa ini melewati badai ideologi, krisis kemanusiaan, dan godaan perpecahan.

Bagi saya, kesaktiannya terletak pada kemampuannya menjaga harapan, merawat keberagaman, dan menghidupkan semangat gotong royong dalam setiap denyut kehidupan rakyat Indonesia.

Dalam pandangan filsafat sosial, Pancasila bukan hanya dokumen ideologis, tetapi juga etika sosial yang hidup dalam keseharian masyarakat. Ia menjadi kontrak moral yang membimbing manusia untuk menolak kekerasan dan merawat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, serta solidaritas.

Baca Juga :  Paradoks Pembangunan Pesisir: Menakar Kesiapan Substantif Kampung Nelayan Merah Putih di Bumi Nian Sikka

Pancasila mengajarkan cara hidup bersama yang saling menghormati dan saling menjaga. Kesaktiannya tidak terletak pada keagungan yang tak tersentuh, tetapi pada kemampuannya bertahan sebagai ruang dialog dan rekonsiliasi. Di tengah perubahan zaman dan tantangan sosial, Pancasila tetap menjadi pelita yang menuntun bangsa menuju persatuan dan harapan.

Tragedi 1965 menjadi titik balik sejarah bangsa. Saat kekerasan ideologis mengancam keutuhan Indonesia, Pancasila tampil sebagai peneguh nilai kemanusiaan. Ia hadir bukan untuk membalas, tetapi untuk merawat persatuan.

Dalam pidatonya di Kongres Amerika Serikat tahun 1956, Presiden Soekarno berkata, “Mungkin Anda sudah tahu apa itu Pancasila. Ini merupakan lima prinsip bagi bangsa kami.” Tepuk tangan meriah menyambut kata-kata itu.

Baca Juga :  Caleg yang Membawa Perubahan dan Politik Tanpa Uang

Pidato itu seakan-akan membuat dunia melihat Pancasila sebagai milik ‘dunia’ sebagai panduan hidup yang relevan bagi umat manusia. Kesaksian ini menegaskan bahwa Pancasila mampu melampaui batas geografis dan menjadi inspirasi global.

Dalam sebuah diskusi internasional yang berlangsung pada 17 Maret 2016 di Universitas Indonesia, bekerja sama dengan Friedrich-Ebert-Stiftung, Profesor Thomas Meyer dari Universitas Dortmund, Jerman, menyampaikan pandangan yang menggugah tentang relevansi Pancasila di era modern.

Ia menyebut Pancasila sebagai ideologi terbaik abad ke-21, bahkan lebih unggul dibanding neoliberalisme dan fundamentalisme keagamaan yang kini mendominasi wacana politik global.

Berita Terkait

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 111 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Berita Terbaru

Advertorial

Camino Flores, Perjalanan Spiritual dan Karitatif

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:52 WITA