Tokoh Awam Sonny Keraf Tegaskan Perlu Karya Pastoral Baru di Keuskupan Ruteng - FloresPos Net

Tokoh Awam Sonny Keraf Tegaskan Perlu Karya Pastoral Baru di Keuskupan Ruteng

- Jurnalis

Selasa, 9 Januari 2024 - 13:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RUTENG, FLORESPOS.net-Ketika berbicara pada sidang pastoral post Natal Keuskupan Ruteng,  tokoh awam yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup RI, Dr. Alexander Sonny Keraf, menegaskan bahwa dewasa ini dibutuhkan teologi dan karya pastoral baru.

“Zaman ini diperlukan banyak perubahan fundamental karena situasi dunia,” ujar mantan Menteri Sonny Keraf di hadapan sidang pastoral post Natal yang bertempat di Rumah Retret Putri Karmel Ruteng, Manggarai, Flores, NTT, Selasa (9/1/2024) siang.

Dalam konteks kehidupan gereja, Sonny Keraf mengatakan, mendesak akan kebutuhan teologi dan karya pastoral baru, termasuk di Keuskupan Ruteng ini.

Untuk itu, dalam eko-teologi/ekopastoral, maka konsep keselamatan harus diubah, yakni bukan tunggu di surga, tetapi mulai dari bumi ini.

Lalu, bukan hanya seperti teologi pembebasan, melainkan  pembebasan dan keselamatan dari belenggu-belenggu kemiskinan, keterbelakangan, eksploitasi manusia, pemberantasan ketidakadilan.

Yang juga dibutuhkan adalah eko-teologi: menyelamatkan bumi dan segala kehidupan, termasuk kehidupan manusia, mulai dari sekarang ini dari  ancaman perubahan iklim.

Dan  ancaman bencana ekologi seperti  kerusakan, pencemaran, kepunahan, perubahan iklim, dan bencana sosial ikutannya seperti penyakit, kelaparan, kemiskinan, gizi buruk dan seterusnya.

Menurutnya, konsep dosa juga harus berubah, yakni bukan hanya dosa konvensional: rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, melainkan juga penting dosa terhadap bumi, alam semesta, lingkungan hidup.

Baca Juga :  Tim SAR Labuan Bajo Bergeser ke Reok Barat--Mencari Siswa Tenggelam di Tiwu Pai

“Karena perilaku dan gaya hidup tamak, rakus, eksploitatif, dan menganggap alam sekedar alat pemuas kepentingan ekonomi belaka,”katanya.

Dosa ekologis tidak kalah dahsyatnya dengan dosa konvensional: karena mengancam bumi dan kehidupan di dalamnya.

Kemudian, konsep pertobatan juga harus berubah. Tidak hanya pertobatan dalam arti konvensional, yakni pemulihan hubungan  manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesama.

Tetapi yang tidak kalah pentingnya: pemulihan hubungan dengan alam dan itu berarti perubahan perilaku terhadap alam secara nyata, konkret.

Penitensi bukan lagi sekedar doa Salam Maria 3 kali, tapi tindakan konkret memulihkan bumi dengan aksi nyata (penitensi ekologis).

Ketika itu, Sonny Keraf juga mengatakan, ada banyak kelompok yang perlu melakukan perubahan-perubahan, termasuk  gereja sebagai organisasi dan pemerintah.

Untuk gereja, dari sekarang harus sudah dipikirkan agar gedung gereja zero emission. Itu bisa dilakukan dengan menggunakan bahan lokal dari bambu dan kayu, atap daun.

Bukan bahan industri yang dibawa dari luar seperti semen, seng, baja yang boros energi dalam produksi dan pengangkutan, tanpa dinding atau dibiarkan terbuka untuk masuk keluar angin.

Baca Juga :  Belum Terkoneksi Listrik, Warga Rabo-Reok Manggarai Masih Memakai Lampu Pelita

Sekolah-sekolah Katolik: mengajarkan perilaku ramah lingkungan dengan contoh nyata, membiasakan gaya hidup murid ramah lingkungan, ramah iklim, dan lain-lain.

Di tingkat Pemerintah, lanjut Sonny Keraf, peraturan sudah sangat banyak, komitmen global khususnya terkait negosiasi perubahan iklim, sangat kuat dan jelas, kesadaran bahwa ekonomi penting, tapi tidak ada gunanya kalau bumi terancam; Pembangunan berkelanjutan harus jadi komitmen politik.

Tetapi itu saja tidak cukup, yang sangat dibutuhkan adalah  konsistensi pelaksanaan, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, pemberantasan pungli, dan stop penyalahgunaan kekuasaan.

“Di sini, dibutuhkan juga integritas pejabat publik,” katanya.

Sebelumnya Ketua Komsos Rm.Erik Ratu Pr, mengatakan, para pakar dan ahli yang membawakan materi dalam sidang pastoral ini, selain tokoh awam Sonny Keraf, juga Direktur Puspas Rm. Marthin Chen Pr,  Rm. Fery Sutrisna Wijaya dari Bandung, dan Rm. Ino Sutam Pr.

“Para pakar berbicara pada hari kedua sidang pastoral post Natal yang dalam tahun ini, Keuskupan Ruteng memprogramkannya sebagai Tahun Ekologi integral,” katanya. *

Penulis: Christo Lawudin I Editor: Anton Harus

Berita Terkait

182 Calon Rebut 64 Kursi Kepala Desa, Dua Srikandi, Satu Kotak Kosong
Gerakan Satu ASN Satu Buku, Disarpus Sikka Terima Dukungan Buku Bahan Bacaan
Peringati HUT Ke-81 TNI, Dandim 1603 Sikka Pimpin Ziarah Kenang Jasa Para Pahlawan
Berharap Pendapatan RSUD, Target APBD-P Flores Timur Tahun 2026 Naik Rp 5,7 Miliar
Huntap Buat Warga Terdampak Gempa Flores di Sikka Segera Dibangun untuk Tahap Pertama
Bantuan Stimulan Pembangunan Rumah Rusak di Sikka Dampak Gempa Flores Siap Dikucurkan
Kemenpar Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Wisata Bahari melalui Sertifikasi Pemandu Snorkeling Level III
Elnino, Padi Sawah Manggarai Barat Terancam Gagal Panen, Apen: Mata Air Kering
Berita ini 248 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 19:47 WITA

182 Calon Rebut 64 Kursi Kepala Desa, Dua Srikandi, Satu Kotak Kosong

Senin, 28 September 2026 - 13:42 WITA

Gerakan Satu ASN Satu Buku, Disarpus Sikka Terima Dukungan Buku Bahan Bacaan

Senin, 28 September 2026 - 13:39 WITA

Peringati HUT Ke-81 TNI, Dandim 1603 Sikka Pimpin Ziarah Kenang Jasa Para Pahlawan

Sabtu, 26 September 2026 - 21:20 WITA

Berharap Pendapatan RSUD, Target APBD-P Flores Timur Tahun 2026 Naik Rp 5,7 Miliar

Sabtu, 26 September 2026 - 18:35 WITA

Huntap Buat Warga Terdampak Gempa Flores di Sikka Segera Dibangun untuk Tahap Pertama

Berita Terbaru

Opini

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 Sep 2026 - 16:27 WITA

Opini

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Senin, 28 Sep 2026 - 11:36 WITA