MAUMERE, FLORESPOS.net-Kabupaten Sikka merupakan sebuah wilayah yang terdampak kekeringan bahkan sejak tanggal 8 Oktober 2026 mengalami fenomena Haze atau udara kabur dampak kebakaran hutan dan lahan di Papua dan terbawa angin ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kekeringan yang berkepanjang mengakibatkan beberapa wilayah kecamatan mengalami krisis air bersih dimana dari 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka, 20 kecamatan terdata mengalami krisis air bersih.
Beberapa kecamatan di Kabupaten Sikka warganya selama ini hanya mengandalkan air hujan sebagai konsumsi setiap hari karena wilayahnya tidak memiliki sumber mata air.
“Setiap tahun terdapat 20 kecamatan dai 21 kecamatan di Kabupaten Sikka yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih saat musim kemarau,” sebut Bupati Sikka, Juventus Proma Yoris Kago saat konferensi pers, Selasa (20/10/2026) sore.
Juventus mengatakan, hingga Oktober 2026 sudah beberapa kecamatan mengalami krisis air bersih seperti Kecamatan Doreng, Kangae, Hewokloang, Bola, Lela dan Palue.
Pemerintah Kabupaten Sikka melalui BPBD Sikka telah membantu pendropingan air bersih untuk beberapa wilayah desa di Kecamatan Doreng, Hewokloang, Kangae dan Palue.
“Saat ini sedang dilakukan pendropingan air bersih kepada lima kecamatan dan ada beberapa kecamatan lain yang nantinya juga akan dilakukan pendropingan air bersih,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Sikka Petrus Poling Wairmahing mengakui sudah beberapa wilayah yang meminta pendropingan air bersih karena warganya sangat kesulitan air bersih.
Petrus menambahkan, dalam pendropingan air bersih pihaknya selain menggunakan mobil tanki air milik BPBD Sikka juga mendapatkan bantuan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Sikka serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sikka.
“Kalau ada wilayah yang mengalami krisis air bersih dan meminta agar dilakukan pendropingan air bersih silahkan memberitahukan ke BPBD Sikka. Kalau ada mobil tanki air yang bisa dipergunakan silahkan disampaikan agar nanti dipergunakan untuk mendistribusikan air ke masyarakat,” pintanya.
Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi mengakui Pemerintah Kabupaten Sikka terus berusaha mengatasi krisis air bersih termasuk meminta bantuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Simon mengatakan, proposal sudah diajukan ke BRIN dan sudah ditindaklanjuti dengan mengirimkan tim ke Maumere dan menemui dirinya dan akan memberikan bantuan sarana air bersih.
“Untuk bantuan ini, ada dua kabupaten yang mendapatkannya yakni Kabuaten Sikka dan manggarai Timur. Setelah dilakukan survey oleh BRIN, merekaakan membangun tempat pengolahan air baku di Sikka tahun ini,” ungkapnya.*
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










