MBAY, FLORESPOS.net-Aula PKBM Pelihara di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, sore itu tidak megah. Tidak ada panggung tinggi. Tidak ada lampu sorot. Hanya ada beberapa kursi plastik, meja kayu, dan amplop cokelat berisi kelulusan.
Tapi di situlah air mata jatuh tanpa malu. Karena yang berdiri di depan adalah Lia. Menggendong anaknya. Di sampingnya, seorang bapak tua dengan kemeja yang sudah pudar warnanya. Ayahnya.
Lima tahun lalu, Lia adalah angka dalam data Anak Tidak Sekolah (ATS). Putus sekolah, ekonomi sulit, lalu menikah muda dan menjadi ibu. Bagi banyak orang, itu titik. Habis sudah.
Senyum Lia sore itu sederhana, tapi menyimpan cerita panjang. Sambil menggendong buah hatinya dan didampingi sang ayah, Lia menerima amplop kelulusan Paket C tahun pelajaran 2025/2026 di PKBM Pelihara, Nagekeo.
Momen haru itu jadi penanda akhir dari 5 tahun perjuangan Lia menempuh pendidikan kesetaraan, dari Paket B hingga Paket C, di rumah belajar yang ia sebut rumah harapan.
Lia pernah berada di titik di mana pendidikan terasa jauh. Keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab sebagai ibu muda sempat membuat langkahnya tertahan. Namun ia memilih bangkit. Mulai dari Paket B, ia lanjut hingga menuntaskan Paket C.
“Hari itu, saat amplop kelulusan diberikan kepadanya, Lia tidak datang sendiri. Ia datang bersama dua cinta terbesar dalam hidupnya: anak yang digendongnya dengan penuh kasih, dan ayah yang sejak awal tidak pernah berhenti mendukungnya,” kata Oskar Meta, pengelola PKBM Pelihara, Sabtu (9/5/2026).
Sang ayah tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya di sisi Lia adalah bukti kasih yang tulus, mendampingi anaknya melewati perjalanan panjang penuh tantangan. Sementara Lia, dengan anak dalam gendongan, menjadi simbol bahwa seorang ibu tetap bisa bermimpi, belajar, dan meraih masa depan.
“Kisah Lia mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Bahwa seorang anak yang pernah putus sekolah tetap memiliki harapan. Bahwa seorang ibu muda tetap berhak memiliki cita-cita,” ujar Oskar, yang juga pernah maju sebagai calon wakil bupati jalur independen.
Kata Oskar, PKBM Pelihara berharap langkah Lia jadi inspirasi bagi anak-anak ATS, para ibu muda, dan siapa saja yang pernah merasa gagal dalam pendidikan.
“Perjuangan tidak diukur dari seberapa cepat kita sampai, tetapi dari keberanian untuk terus berjalan walaupun hidup penuh keterbatasan,” tutupnya.
Dari rumah harapan bernama PKBM Pelihara, Nagekeo hari ini punya satu lagi cerita bahwa pendidikan adalah cinta yang tidak pernah putus, meski sekolah sempat terputus. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando










