MAUMERE, FLORESPOS.net-Para pengecer atau penjual beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari kantor Badan Urusan Logistik (Bulog) dilarang menjual beras ini dengan harga melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Untuk beras SPHP ukuran 5 kilogram seharusnya dijual di pengecer dengan harga tertinggi Rp13.100 per kilogram sehingga sekarung beras SPHP ukuran 5 kilogram harus dijual dengan harga Rp65.500.
“Kalau ada pengecer yang menjual dengan harga Rp14 ribu per kilogram atau lebih tolong masyarakat melaporkannya kepada kami agar bisa ditindak,” sebut Kepala Bulog Cabang Maumere, Marten Luther Sesa saat ditemui di kantornya, Selasa (2/12/2025).
Marten menyebutkan, dengan jumlah personil atau Sumber Daya Manusia (SDM) Bulog Maumere terbatas maka pihaknya mengharapkan masyarakat, Satgas Pangan dan awak media untuk mengawasi.
Lanjutnya, jumlah pengecer beras Bulog termasuk SPHP di Kabupaten Sikka sebanyak 75 pengecer dan pihaknya berpesan agar pengecer jangan coba-coba menjual beras SPHP seharga Rp70 ribu untuk ukuran 5 kilogram.
“Pemerintah juga sudah membentuk Satgas Pengendalian Harga Beras sebab banyak pedagang kita mencari untung dengan menjual harga beras di atas Harga Eceran Tertinggi (HET),” ungkapnya.
Marten menjelaskan, Bulog Maumere hingga akhir November 2025 telah menjual beras sebanyak 1.975 ton atau setara dengan 54 persen dari target Bulog Maumere menjual beras terkait program Gerakan Pangan Murah (GPM).
Ia mengakui, target Bulog Maumere tergolong besar dan berada di peringkat ketiga setelah Kantor Bulog Kupang dan Kantor Bulog Atambua dan pihaknya optimis hingga akhir tahun 2025 bisa mencapai target 70 persen.
“Target kami hingga akhir tahun 2025 bisa mencapai 70 persen. Kami terbantu dengan penjualan beras SPHP oleh Polres Sikka, Kodim 1603 Sikka dan Lanal Maumere selain oleh Dinas Ketahanan Pangan Sikka dan PT.Pos dan Giro Maumere,” ungkapnya.
Marten menegaskan,penjualan beras SPHP di Kabupaten Sikka akan menurun ketika ada stok beras yang masuk dari Sulawesi namun dirinya mengaku tidak kuatir sebab harga jual berasnya pasti lebih tinggi.*
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










