Lahan di Tiweria Tidak Layak, Pemkab Ende Ajukan Lahan Baru di Desa Aemuri untuk Sekolah Rakyat - FloresPos Net

Lahan di Tiweria Tidak Layak, Pemkab Ende Ajukan Lahan Baru di Desa Aemuri untuk Sekolah Rakyat

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ENDE, FLORESPOS.net-Program sekolah rakyat di Kabupaten Ende hingga saat ini baru pada tahap pengajuan lahan dan  proposal ke pemerintah pusat melalui Kementrian yang menjadi stakeholder program tersebut.

Kabar terbaru dari Kabupaten Ende, bahwa lahan atau lokasi yang sudah dihibahkan oleh tokoh adat (Mosalaki) Suku Tiwe Desa Tiweria di Kecamatan Nangapanda tidak layak atau tidak  memenuhi syarat teknis pembangunan sekolah rakyat.

Lahan seluas 7 hektar yang diserahkan tokoh adat dan masyarakat kepada pemerintah pada Mei 2026 lalu sudah disurvei dan dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Setelah dilakukan survei  lahan tersebut secara teknis tidak layak karena dari sisi anggaran akan membutuhkan dana lebih besar karena letaknya diatas bukit dan tingkat kemiringannya tidak sesuai dengan yang disyaratkan untuk pembangunan sekolah rakyat.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende, Mathilda Gaudensia Ilmoe menyampaikan saat dikonfirmasi Florespos.net, terkait progres sekolah rakyat, Senin (9/8/2026) siang.

Kadis Sosial mengatakan untuk penyediaan lahan pembangunan sekolah rakyat di Kabupaten Ende telah dilakukan survei di lima belas titik .lokasi termasuk di Desa Tiweria.

Baca Juga :  Keuskupan Maumere Gelar Komuni Serentak di 37 Paroki, Ini Alasannya

Dari lima belas lokasi tersebut pemerintah melalui Bupati Ende akhirnya menetapkan satu lahan atau lokasi yang  diusulkan ke Kementrian terkait.

Lahan tersebut di Desa Aemuri, Kecamatan Wewaria dengan luas delapan hektar lebih. Dari sisi ukuran sudah layak karena luas dari yang disyaratkan yaitu 6,8- 7,8 hektar.

“Kita sudah lalui dengan berbagai tempat dan waktu, dari 15 lokasi yang sudah disurvei ada satu yang sudah ditetapkan oleh Bupati untuk menjadi lahan  sekolah rakyat adalah Desa Aemuri di Kecamatan Wewaria,” kata Kadis Sosial.

Meski demikian, kata Mathilda, lokasi tersebut secara teknis sebenarnya belum memenuhi syarat tetapi karena di Kabupaten Ende lokasinya yang rata dengan luas 8 hektar sangat sulit didapatkan maka lahan tersebut harus diajukan ke pemerintah pusat.

“Kita hanya punya dua lokasi yaitu di Desa Welamosa dan Desa Aemuri, semuanya berada diatas bukit. Secara teknis tidak bisa tetapi setelah dilaporkan oleh tim Dinas Sosial ke Bupati dan dikatakan bahwa Ende susah dapat luas lahan seperti disyaratkan untuk sekolah rakyat.  Jadi kita coba usul lokasi ini dari sisi harga, dari sisi kelayakan lokasi Desa Aemuri lebih mendekati kelayakan dan sisi penganggarannya lebih murah”.

Baca Juga :  Unipa Maumere Siap Pasok Kebutuhan Bagi Dapur Gizi

Proses hibah dari pemilik lahan ke pemda sudah dilaksanakan.  Pemerintah daerah juga sudah mengajukan proposal untuk pembangunan ke semua Kementerian dan instansi yang menjadi stakeholder dari pembangunan sekolah rakyat (Kementerian Sosial dan Kementerian PU) dan ke Gubernur NTT, Dinas Sosial Provinsi dan Balai Sarana Prasarana NTT.

Setelah berkordinasi dengan Balai Sarana dan Prasarana Provinsi, lahan di Desa Aemuri berada di atas bukit maka kemungkinan pembangunan diprioritaskan di daerah rata di
Kabupaten lain seperti Sikka, Nagekeo dan Ngada.

“Lokasi yang kita ajukan itu diatas bukit sedangkan kabupaten lain lokasinya rata maka  pasti diprioritaskan. Kita belum pastikan kapan dibangun, kita tunggu saja jawaban dari Kementerian,” katanya.*

Penulis : Willy Aran

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Wabup Ngada Berni Dhey Harap Jaringan Irigasi Dapat Mendorong Peningkatan Produksi Pertanian
Peringatan Hari Keadilan Ekologis 2026: Dari Tapak Untuk Keadilan Antargenerasi, Merawat Masa Depan NTT di Tengah Bencana Ekologi (1)
Kopi Turajaji, Endemik Flores yang Wajib Dijaga dan Sudah Tembus ke 8 Negara
Skema Peternakan Sapi Berubah Jadi Sub Sentra, Bupati Flotim Anton Doni Ajukan Anggaran Baru untuk Penyiapan Sarana Prasarana Pendukung
Krisis Ekologi di NTT Bukan Takdir, Hentikan Pembangunan yang Mengorbankan Ruang Hidup Rakyat
Launching Taman Pembibitan Kopi Turajaji di Detusoko, Bupati Ende Katakan Pemerintah Dukung
Ngada Bangun Gudang Alsintan, Wabup Berni Dhey: Petani Dapat Manfaatkan Melalui Mekanisme Peminjaman Alsintan
Pelayanan Sejumlah Puskesmas di Manggarai Barat Masih di Tenda, Pasca Gempa Flores
Berita ini 446 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 11:14 WITA

Wabup Ngada Berni Dhey Harap Jaringan Irigasi Dapat Mendorong Peningkatan Produksi Pertanian

Rabu, 23 September 2026 - 11:02 WITA

Peringatan Hari Keadilan Ekologis 2026: Dari Tapak Untuk Keadilan Antargenerasi, Merawat Masa Depan NTT di Tengah Bencana Ekologi (1)

Rabu, 23 September 2026 - 10:38 WITA

Kopi Turajaji, Endemik Flores yang Wajib Dijaga dan Sudah Tembus ke 8 Negara

Selasa, 22 September 2026 - 21:00 WITA

Skema Peternakan Sapi Berubah Jadi Sub Sentra, Bupati Flotim Anton Doni Ajukan Anggaran Baru untuk Penyiapan Sarana Prasarana Pendukung

Selasa, 22 September 2026 - 19:46 WITA

Krisis Ekologi di NTT Bukan Takdir, Hentikan Pembangunan yang Mengorbankan Ruang Hidup Rakyat

Berita Terbaru