Umar Hamdan Urus Sampah Hingga Disebut Orang Gila
Penulis: Willy Aran/Editor: Anton Harus

By Editor Florespos 10 Okt 2021, 09:16:21 WIB Feature
Umar Hamdan Urus Sampah Hingga Disebut Orang Gila

Umar Hamdan.


Kalangan aktivis, pegiat, kelompok pemerhati lingkungan dan masalah sampah pasti mengenal sosok yang satu ini. Dia adalah, Umar Hamdan, putra asli Ende, Kabupaten Ende, kelahiran 47 tahun lalu. Sebagian waktu hidupnya didedikasikan untuk mengurus sampah, lingkungan, menggerakan literasi di Kabupaten Ende hingga kegiatan sosial kemanusian lainnya. 

Menggeluti kerja yang dipandang sebelah mata oleh orang lain dan sepak terjangnya mengurus sampah sejak tahun 2000-an di Kota Ende membuat dirinya sering dicap atau dibilang “orang gila”. Tetapi Umar Hamdan tidak menggubris, malah menjadi motivasi baginya karena ucapan itu muncul dari mulut- mulut yang belum paham tentang lingkungan dan sampah.

***

Baca Lainnya :

Sabtu (25/9/2021) malam, Flores Pos Net menyempatkan waktu bermalam minggu di pondok Anak Cinta Lingkungan (ACIL) Ende di Kelurahan Tetandara, Ende Selatan. Oraganisasi ini digagas dan menahkodai oleh Umar untuk mengajak anak - anak Endè mencintai lingkungan sejak usia dini yang sudah eksis sejak tahun 2012 lalu. 

Di pondok sederhana yang diisi dengan aksesoris hasil daur ulang sampah dan buku- buku tentang lingkungan dan sampah ini, Umar menceritakan sepak terjangnya terjun mengurus sampah, tantangan serta misinya mengubah prilaku warga agar bijak mengelola sampah dari sumber timbulnya yaitu rumah dan lingkungan.

Umar mengatakan mengurus lingkungan dan sampah itu adalah kerja sosial dan tanggung jawab terhadap Tuhan yang digelutinya sejak kecil. Peduli dan mengurus sampah itu juga bagian dari hobinya sebagai pencinta alam namun lebih kuat itu adalah panggilan jiwanya.

Mulai tahun 2003, ia bersama rekan- rekannya alumni gerakan Pramuka Ende membentuk Gerakan Muda Pencinta Alam (Gerdapala) di Ende yang bergerak melakukan penghijauan dan mengurus masalah sampah di Ende. “Buat saya mengurus lingkungan dan sampah itu adalah bagian dari rasa tanggung jawab kita terhadap Tuhan. Kerja ini saya geluti sejak kecil dan sudah menjadi aktivitas saya,” katanya.

Bentuk ACIL Ende 

Semangat Umar untuk melakukan kerja sosial ini tidak pupus meski sahabatnya di Gerdapala satu persatu pergi mencari kerja di luar Ende dan ada yang menjadi abdi negara (PNS). Umar malah tidak tertarik dengan PNS dan tetap menggeluti aktivitas ini.

Umar kemudian membentuk organisasi Ende. Organisasi ini dibentuknya karena perhatian dengan masalah lingkungan dan menggerakan serta menanamkan rasa peduli terhadap lingkungan dan sampah dalam diri anak - anak sejak usia dini. Aktivitas yang dilakukan pertama sejak organisasi itu lahir pada tahun 2012 lalu adalah gerakan tanam sejuta pohon, bank pohon dan mulai menggagas program bank sampah.

Rupanya anak - anak Endè banyak yang bergabung sehingga ACIL memiliki bank pohon yang selalu dimanfaatkan dalam kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh pemerintah dan kelompok peduli lingkungan.

Sejalan dengan itu pada tahun 2014, Pemerintah melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Ende mulai menggagas program bank sampah.

“Saya bentuk ACIL itu saat melihat anak - anak setelah pulang sekolah tidak ada aktivitas. Saya ajak mereka gabung dan kita memulai dengàn kegiatan- kegiatan kecil tanam pohon dan kumpul sampah dari rumah. Berawal dari itu dan sekarang ACIL sudah punya bank pohon dan bank sampah yang sering dijual dan bisa menghasilkan uang,” kata Umar.

Masalah Global dan Edukasi 

Umar mengatakan sampah yang ada di lingkungan sekitar adalah masalah global. Sejak awal dirinya bersama ACIL Ende melakukan gerakan peduli kebersihan lingkungan dan sampah. Selain aksi lapangan, kegiatan edukasi di sekolah serta kelompok masyarakat bahkan di instansi terus dilakukan. Targetnya adalah membangun prilaku warga agar bijak menangani sampah dari sumber timbulnya yaitu rumah dan lingkungan.

Ende adalah salah satu kota destinasi wisata maka masalah sampah harus ditangani dan sehingga mendukung program pembangunan pariwisata. “Sampah itu masalah global dan jadi momok di kota saat ini, bukan saja masalah kebersihan tetapi bisa menimbulkan penyakit dan masalah sosial. Aksi lapangan saja tidak cukup mengubah prilaku orang karena saya sendiri butuh 4 tahun baru bisa mengubah prilaku ini,” katanya.

“ACIL mulai tergerak melakukan edukasi dan membentuk unit bank sampah di sekolah - sekolah, melatih manejemen pengelolaan hingga menjemput sampah dari rumah warga," kata Umar.

Panggilan Jiwa dan Dicap "Orang Gila"

Ternyata mengurus sampah dan peduli terhadap lingkungan itu adalah kerja sosial yang ia geluti tanpa instruksi dari siapa pun. Umar bukan pegawai pèmerintah dan bukan juga dari instansi swasta yang dimodali. Umar menjalani pekerjaan ini tanpa digaji karena panggilan jiwanya untuk melakukan pekerjaan kecil yang dipandang sebelah mata oleh orang lain tetapi berdampak besar. 

“Ini panggilan jiwa saya berawal dari rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar kita. Lalu  kerja-kerja seperti  ini juga adalah hobi saya maka walaupun tidak digaji juga tetap saya lakukan. Konsep yang saya bawa itu adalah jika kita kelola sampah dengan baik maka lingkungan bersih dan sampah masih ada nilai ekonomisnya,” katanya.

Dalam kiprahnya mengurus sampah, Umar Hamdan sering mendapat cibiran dari orang- orang sekitarnya. Mereka melihat pekerjaan itu tidak ada guna dan tidak menghasilkan uang sehingga Umar dicap atau kadang dibilang “Orang Gila”. Tidak ada pilihan lain bagi Umar yaitu tetap melakukan dan memberikan edukasi meski dibilang “orang gila”. 

“Saya pernah dibilang orang gila dan tidak ada kerjaan, hari- hari hanya urus sampah.  Saya memahami itu dan tetap melakukan karena mereka yang bilang itu belum mengerti tentang sampah dan dampaknya. Kendala paling berat yang kita hadapi itu adalah mengubah cara pikir dan prilaku orang lain untuk menjaga kebersihan dan merawat lingkungan,” katanya.

Inovasi dan edukasi tetap ia lakukan untuk mengubah cara pandang dan prilaku masyarakat. Konsep dua arah dalam mengelola sampah yaitu kebersihan lingkungan dan sampah masih memiliki nilai ekonomis jadi modalnya terjun ke lembaga pendidikan dan lingkungan masyakarat.

Di Pondok ACIL Ende sampah yang dibuang ìtu bisa diolah jadi tas, keranjang, dompet, paving, batu bata dan sofa serta barang- barang lainnya. Bank sampah ACIL membuat gebrakan tukar sampah dengan token listrik, peralatan dapur menjadi salah satu program untuk mengurangi sampah dan memanfatkan sampah menjadi nilai ekonomis.

Bersama ACIL, Umar Hamdan bekerja sama dengan pemilik warung dan tokoh agar sampah dari rumah makan dan tokoh tidak dibuang sembarang tetapi disimpan untuk dipilahkan. “ACIL sudah punya bank sampah dan sampah itu dari nasabah yang kita bentuk bahkan kita pergi jemput sendiri. Sampah itu kita pilah dan dijual ke pengepul yang ada di Kota Ende,” katanya. 

Rupanya puluhan tahun menggeluti pekerjaan ini pada awalanya, Umar mendapat tantangan dari sang istri dan keluarga. Pada awalnya istri tidak setuju dan sering ngomel saat Umar ke lapangan memungut sampah dan melakukan edukasi tentang sampah.  

“Awalnya sangat berat dalam rumah karena saat itu saya sudah berkeluarga maka harus ada pekerjaan pasti untuk hidupi keluarga. Istri saya menolak dan saya harus membutuhkan waktu satu tahun untuk memberikan pemahaman kepadanya bahwa apa pun pekerjaan yang digeluti dengan tekun maka ada hasil. Rejeki itu pasti datang,” katanya.

Pria yang bertekad memiliki tempat pengolahan sampah ini mengajak warga Ende agar bijak dengan sampah dari sumber timbulnya yaitu rumah dan lingkungan. Tempat Pembuangan Sampah (TPA) tidak penuh secepatnya dan tidak terjadi banjir seperti terlihat pada musim hujan jika membuang sampah pada tempatnya dan bijak mengolah sampah dari sumbernya. *




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment