Subsidiaritas, Distributisme, dan Korporasi Mondragon

By Admin Florespos 05 Des 2020, 09:24:24 WIB Kolom
Subsidiaritas, Distributisme,  dan Korporasi Mondragon

Oleh Silvester Ule

Ada sebentuk tuntutan bahwa filsafat dan teologi mesti mempunyai efek praktis; maksudnya berguna bagi kesejahteraan masyarakat, sekaligus dapat mengurangi kemiskinan. Walau tuntutan seperti ini wajar, namun pada hemat saya, kesejahteraan atau kemiskinan adalah kategori ekonomi, dan untuk mengatasinya tentu butuh suatu teori dan praksis ekonomi.

Menuntut seorang teolog yang menyibukkan diri dengan soal makna dan wahyu untuk menghasilkan sebuah teori ekonomi tentu saja tidak ada faedahnya. Justru seorang teolog yang mau menghubungkan teologi ke dalam perubahan ekonomi tanpa sebuah bahasan agak teknis tentang teori ekonomi, pada akhirnya sulit menghasilkan, baik teologi maupun teori ekonomi yang bisa dipertimbangkan, namun hanya menghasilkan sebentuk teriakan yang tidak akan bisa ditanggapi, karena memang tidak jelas maksudnya.

Baca Lainnya :

Di sini, saya juga tidak akan bicara ekonomi, tetapi hanya menganjurkan bagaimana dalam sejarah soal ekonomi ini telah menjadi perhatian Gereja dan selayaknya didalami bagi yang benar-benar ingin terlibat dalam perbaikan ekonomi. Perhatian Gereja pada soal ekonomi ini dimulai dengan tanggapan Gereja atas sistem kapitalisme dan sosialisme, dan menegaskan prinsip subsidiaritas, yang secara ekonomis salah satunya (ada yang lain juga) diterjemahkan ke dalam sistem ekonomi distributisme, dan secara praktis bisa diterapkan, salah satunya melalui korporasi Mondragon.  

Manakala bicara tentang subsidiaritas, lantas muncul keberatan, bahwa prinsip subsidiaritas adalah suatu prinsip etis semata, tanpa anjuran konkret. Namun, tentu saja tugas dan tanggung jawab Gereja sebagai lembaga adalah memberikan batasan etis bagi realitas sosial dan politik, sementara soal teknis politis dan ekonomis adalah medan penerapan konkret individu-individu beriman, berdasarkan prinsip etis tersebut. Tidak bisa dibayangkan bahwa Paus mesti mengatur juga siapa yang mesti memimpin sebuah negara, atau sistem pemilihan umum seperti apa yang mesti dipakai, atau menciptakan aplikasi virtual untuk menciptakan ekonomi yang adil. Sebagai pemimpin dengan wibawa etis, ia mesti menggagaskan suatu prinsip dasar yang berbeda dengan prinsip yang melatari sosialisme dan kapitalisme liberal, yang penerapannya menjadi tanggung jawab umat dan para pengikutnya.

Dengan prinsip etis ini, maka para imam atau awam yang dilandasi oleh prinsip ini mesti menggagaskan suatu sistem ekonomi yang sejalan dengan prinsip subsidiaritas yang digagaskan oleh Paus dalam Ensiklik “Rerum Novarum” tahun 1891. Ada banyak gagasan yang ditawarkan, dan salah satu yang pernah saya baca, misalnya, sistem ekonomi yang ditawarkan oleh Bernard Lonergan. Namun, karena belum pahami sepenuhnya dan butuh waktu lama untuk paham (mungkin karena kurang berminat dalam ekonomi), maka saya beralih pada sistem ekonomi yang sejalan dengan prinsip subsidiaritas (yang agak mudah dipahami), yang sudah lebih dahulu dikenal dalam sejarah; yaitu sistem “distributisme”. Sistem ini pertama kali dikembangkan oleh Hilaire Belloc dan G. K. Chesterton.

Pembahasan lengkap tentang sistem ini dengan pelbagai anjuran konkret bisa dilihat pada karya-karya mereka, terutama karya Hilaire Belloc “Economy for Helen”, “The Servile State”, dan karyanya “An Essay on the Restoration of Property”. Di sana terdapat pelbagai landasan filosofis, contoh, skema, dan anjuran yang digagaskan sesuai dengan prinsip subsidiaritas. Pendukung distributisme kemudian pada akhirnya bukan hanya kalangan Katolik, tetapi juga para penentang kapitalisme liberal di Inggris saat itu, termasuk para bekas pendukung sosialisme yang mengalami dan sadar akan pelbagai ilusi dari sosialisme historis.

Gagasan sistem ekonomi distributisme sendiri merupakan uraian sistematis dari pelbagai gerakan terpisah dan sporadis perjuangan ke arah kesejahteraan bersama, yang sudah dimulai di pertengahan abad ke-19. Di pedalaman-pedalaman Irlandia saat itu, terdapat upaya membendung rentenir dari sekelompok orang yang membeli barang dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga tinggi, dengan membentuk kerja sama di antara masyarakat dalam proses pembelian dan penjualan barang, yang kemudian terhitung sukses di masa itu. Selain itu, gagasan ini juga dilatari oleh terbentuknya koperasi Rochdale pada tahun 1844, lalu terbentuknya koperasi Kredit Union di Jerman yang juga mengalami sukses di negara-negara Skandinavia, sebelum tersebar di pelbagai belahan dunia (termasuk Indonesia, walau mungkin dengan penyesuaian sekadarnya). Semua gerakan tersebut diberi basis filosofis dan etis dalam sistem ekonomi distributisme.

Namun, sesudahnya, sistem ini memperoleh banyak pendukungnya. Sukses mencolok dari penerapan sistem ekonomi distributisme ini adalah sebentuk “korporasi” bernama Mondragon yang didirikan oleh seorang imam di Spanyol bernama Don Jose Maria Arizmendiarrieta. Setelah perang sipil di Spanyol, wilayah Basque merupakan salah satu wilayah yang kalah.  Penderitaan, kemiskinan, dan kemelaratan ada di mana-mana, dan masa itu dikenangkan kini sebagai “tahun-tahun kelaparan”. Bagaimana keluar dari penderitaan tersebut? Tentu dengan perjuangan ekonomi, bukan dengan perjuangan kelas (dua kategori berbeda yang dikacaukan Marx). Namun, apakah sistem ekonomi yang ingin dipakai?

Karena diikat oleh prinsip subsidiaritas, dan dengan inspirasi sistem ekonomi distributisme, Don Jose Maria Arizmendiarrieta kemudian memutuskan mendirikan koperasi Mondragon pada tahun 1956, yang sekarang tepat disebut “korporasi” Mondragon. Jika propaganda sosialisme Marxis menganjurkannya untuk curiga pada setiap usaha dan kepemilikan pribadi, maka Arizmendiarrieta ingin ciptakan pribadi-pribadi dan keluarga yang sejahtera, dengan sarana modal usaha. Di sini, kapital atau modal tidak dilihat sebagai musuh, namun sebagai sarana bagi kemajuan bersama. Namun, jika kapitalisme (liberal) yang ditentang Gereja dan juga dikritik Marx menciptakan sistem yang membuat kekayaan hanya terakumulasi pada beberapa pemilik modal, maka Don Jose Maria Arizmendiarrieta menciptakan sistem di mana semua anggota menikmati kekayaan dan kapital secara hampir merata. Maka, ia pun menciptakan semacam demokrasi dalam bisnis, di mana tiap anggota menentukan arah perusahaan (one man one vote), dan jumlah kekayaan dari pemimpin sementara perusahaan tidak terlalu berbeda dengan yang baru masuk perusahaan, dan jumlah saham terbagi hampir merata pada tiap anggota (dengan pelbagai detail lainnya yang diatur berdasarkan prinsip ini).

Perkembangan Mondragon sedemikian pesat. Dari sekelompok pengangguran pembuat lampu minyak di wilayah Basque, kini ia berkembang menjadi korporasi terbesar di Basque, ketujuh terbesar di Spanyol, dan salah satu yang diperhitungkan pada skala global. Ia juga bergerak di bidang manufaktur, distribusi perdagangan, dan sebagainya, yang mempekerjakan dan menyejahterahkan ratusan ribu keluarga, dan jutaan pekerja. Jika miliaran dolar asetnya juga sekaligus dibagi secara hampir merata kepada semua anggotanya, maka dapat dibayangkan kesejahteraan para anggota yang tentu sangat jauh berbeda dengan para pekerja di korporasi berdasarkan sistem kapitalisme liberal.

Tentu saja ada yang keberatan: bukankah sistem distributisme yang menghasilkan “korporasi” seperti ini justru masih merupakan sistem kapitalisme? Apakah ini namanya “kapitalisme” yang dijinakkan? Jika segenap usaha dan modal mesti dicurigai sebagai hal yang buruk, maka orang mungkin perlu kembali hidup di zaman batu. Dalam penderitaan konkret, orang perlu dimotivasi untuk berusaha menaikkan taraf kesejahteraan dengan usaha dan modalnya, dan dalam arti tertentu ada unsur kapital di sana. Namun, “kapitalisme” yang menjadi persoalan dan ditentang Gereja adalah “kapitalisme liberal”, yang tujuannya adalah memaksimalkan keuntungan untuk segelintir pemilik modal saja yang memonopoli sebagian besar kekayaan. Dalam arti ini, prinsip distributisme yang diterapkan dalam korporasi Mondragon justru menolak “kapitalisme liberal” dan mendepak individualisme, sambil mempromosikan perkembangan standar hidup berkelanjutan dari komunitas dan budaya yang terlibat di dalamnya.

Namun, ada juga kritik lain yang mengangap bahwa korporasi Modragon adalah sebentuk sosialisme, di mana kontrol produksi ada di tangan orang-orang dalam masyarakat. Namun, tetap ada perbedaannya, di mana sosialisme historis berhubungan dengan kepemilikan kolektif yang mendepak milik dan keuntungan privat. Tetapi, dalam korporasi Mondragon, justru sistem dibangun sedemikian rupa, sehingga individu-individu dan keluarga-keluarga mempunyai kepemilikan pribadi berdasarkan hasil kerjanya, dengan standar hidup dan kekayaan yang semakin tinggi seiring perkembangan perusahaan.

Pelbagai detail sistem kerja korporasi Mondragon tentu tidak sesederhana sketsa di atas. Namun, di masa ini, sistem kerja dalam korporasi Mondragon ini justru sering dikutip sebagai contoh penerapan sistem ekononomi yang tidak terjebak dalam ketamakan kapitalisme liberal dan utopia sosialisme historis. Richard D. Wolff, seorang ahli ekonomi Marxis, misalnya, mengutip korporasi Mondragon sebagai contoh konkret demokrasi dalam ekonomi. Namun, tentu saja Arizmendiarrieta, sang imam pendirinya, tidak pernah terinspirasi Marx; ia mengikuti prinsip subsidiaritas dan sistem ekonomi distributisme yang secara prinsipil menentang sosialisme historis Marx dan Engels.

Ini sekadar sketsa singkat mengenai bagaimana prinsip subsidiaritas diterapkan dalam ekonomi. Pelbagai detail atau bagaimana sistem kerja mereka bisa diterapkan dalam konteks kita kiranya masih butuh studi lebih jauh, yang sekaligus jadi sebentuk anjuran bagi yang berminat dalam soal ekonomi. Waktu, minat, perhatian dan stamina tentu dibutuhkan untuk mendalami soal ini, yang kiranya lebih luas, teknis, dan sama sekali berbeda dengan prinsip atau bidang perhatian teologi.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment