STFK Ledalero Gelar Seminar Otoritarianisme Digital dan Demokrasi di Indonesia
Penulis: Wall Abulat dan Irfan Bau/Editor: Wentho Eliando

By Editor Florespos 12 Nov 2021, 10:50:07 WIB Pendidikan
STFK Ledalero Gelar Seminar Otoritarianisme Digital dan Demokrasi di Indonesia

Inilah sebagian mahasiswa STFK Ledalero yang antusias mengikuti seminar secara online di Aula Santo Thomas Aquinas Ledalero, Rabu (10/11/2021). Foto Istimewa


Maumere, Florespos.net-Senat Mahasiswa (SEMA) Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero menggelar seminar online bertajuk “Otoritarianisme Digital dan Demokrasi di Indonesia”, Rabu (10/11/2021).

Para dosen, mahasiswa STFK Ledalero dan intelektual alumni dari beberapa kampus ternama di Indonesia mengikuti Seminar ini dengan penuh antusias. Mereka mengikuti jalannya seminar dan berapa di antaranya berdialektika dalam upaya memaknai jalannya diskusi.

Narasumber dalam seminar, yakni Direktur Center for Media and Democracy LP3ES, Dr. Wijayanto. Dia membawakan materi berjudul “Pasukan Cyber, Manipulasi Opini Publik dan Otoritarianisme Digital di Indonesia”. Selaku moderator, Staf SEMA STFK Ledalero, Petrus Fidelis Ngo.

Baca Lainnya :


Foto Direktur Center for Media and Democracy LP3ES, Dr. Wijayanto (tengah), Ketua Ketua Sekolah STFK Ledalero RP Dr. Otto Gusti Madung, SVD (kiri) dan  Staf SEMA STFK Ledalero selaku Moderator, Petrus Fidelis Ngo menjadi  latar belakang Aula Santo Thomas Aquinas STFK Ledalero-locus Seminar Online digelar, Rabu (10/11/2021). Foto Istimewa

Ketua Sekolah STFK Ledalero RP Dr. Otto Gusti Madung, SVD, dalam sambutan membuka Seminar Online ini antara lain mengemukakan, Indonesia saat ini mengalami “cacat” demokrasi.

Hal itu ditandai dengan adanya pengingkaran terhadap prinsip demokrasi, intoleransi dan anjuran kekerasan yang semakin menguat. Menyikapi hal demikian, lanjut Otto Gusti, maka dibutuhkan deliberasi publik.

“Deliberasi publik berperan penting dalam sebuah negara demokratis. Proses deliberasi publik mengandaikan adanya pertukaran argumentasi yang berpijak pada kebenaran fakta empiris dan normatif. Melalui deliberasi publik kebenaran menjadi unsur hakiki dalam demokrasi,” kata Otto Gusti.


Direktur Center for Media and Democracy LP3ES, Dr. Wijayanto dalam materinya antara lain menyentil fenomena yang terjadi pada tahun 2019, yakni adanya kemunduran demokrasi yang diakibatkan adanya propaganda politik di media sosial oleh pasukan cyber yang pro pemerintah maupun pro partai politik.

“Pasukan cyber memanipulasi opini publik secara online. Manipulasi ini tidak hanya terjadi menjelang pemilu, melainkan pada waktu pelemahan KPK,” kata Wijayanto.

Wijayanto menggarisbawahi bahwa pelemahan lembaga KPK sudah terjadi sejak menjelang pengesahan RUU KPK dengan beberapa indikasi. Diantaranya, adanya serangan terhadap KPK di media sosial yang dilakukan pasukan cyber.

Di saat yang sama, muncul gelombang opini publik yang mendukung revisi RUU KPK. Ruang publik yang semestinya menjadi diskursus untuk memperoleh kebenaran, malah dipakai atau dimanipulasi untuk menyebarkan berita bohong (manipulasi opini publik).

Wijayanto menyebut, ada tiga berita bohong/manipulasi opini publik yang mencuat waktu itu. Pertama berita banjir bandang atau tsunami percakapan yang secara tiba-tiba menyoroti suatu narasi dan topik tertentu.

Kedua, narasi yang diciptakan secara sengaja, yakni dukungan terhadap revisi RUU KPK dengan mempromosikan konten tertentu yang mendukung pentingnya revisi RUU KPK.

Ketiga, ada kuis yang mengajak massa untuk ikut mendukung revisi RUU KPK lewat konten-konten menarik agar orang-orang terpengaruh dan ikut memviralkannya.

Dengan demikian, lanjut Wijayanto, benar adanya temuan dari studi yang dilakukan Philip N. Howard dan Samantha Bradshaw dari Universitas Oxford.

Temuan itu menyebutkan, bahwa Indonesia merupakan satu dari 70 negara yang melakukan computational propaganda; sebuah propaganda menggunakan teknologi komputasi yang melakukan manipulasi di media sosial dengan tujuan propaganda politik.

“Ada perbedaan definisi dengan Oxford tentang pasukan cyber. Pasukan cyber menurut kami sebagai satu jaringan (internet) yang bersifat cair yang terdiri dari pendengung (buzzer), pesohor/pengaruh (influencer), koordinator (pembuat konten) yang bekerja sama untuk mengorkestrasi penggalangan di media sosial dengan menciptakan suatu narasi politik tertentu,” katanya.

“Di mana setiap matarantai dari jaringan itu tidak selalu saling mengenal satu sama lain, dan tidak selalu menyadari mereka bekerja bersama-sama untuk mendukung narasi tersebut. Sehingga, internet digunakan oleh rezim-rezim otoriter untuk memperkuat diri mereka dan semakin menjadi otoriter bagi negara-negara demokrasi, sehingga demokrasi mengalami kemunduran,” ujar Wijayanto.

“Dalam studi kami, internet untuk kasus cyber teror, pasukan cyber dan manipulasi opini publik telah mengarah kepada otoritarianisme digital. Otoritarianisme digital dipahami sebagai praktek represi dan control di ruang publik digital dalam bentuk pelanggaran privasi, penyebaran misi informasi (memasukan konten-konten yang manipulasi) atau penggunaan teknologi digital untuk mengawasi, merepresi, memanipulasi warga negara,” ucapnya.

Wijayanto mengakui bahwa, di Indonesia saat ini ada pada situasi kehabisan kreativitas dan imajinasi sehingga yang namanya korupsi, hoax dan ujaran kebencian sering dianggap sebagai satu hal yang normal setiap hari.

“Kita tidak boleh melangkah ke belakang menuju otoritarianisme digital dengan tidak meneguhkan untuk berpikir kritis, kreatif dan imajinatif,” katanya mengingatkan.


Ketua SEMA STFK Ledalero, Fr. Sarnus Joni Harto, SVD

Apresiasi

Ketua SEMA STFK Ledalero, Sarnus Joni Harto yang dihubungi terpisah menyampaikan apresiasi atas antusiasme para mahasiswa, dosen STFK Ledalero, dan intelektual muda alumni STFK Ledalero dari pelbagai kampus di Indonesia yang terlibat aktif dalam seminari online dan diskusi secara virtual.

“Pertama-tama, saya menyampaikan terima kasih kepada narasumber, Ketua STFK Ledalero. Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para mahasiswa dan dosen STFK Ledalero, serta para intelektual muda dari pelbagai Kampus di Indonesia yang antusias mengikuti seminar secara online ini,” katanya. *




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.