Servant Leadership dan Muspas VIII KAE (Catatan Pinggir MUSPAS VIII KAE, Bajawa: 27-30 Oktober 2021
Oleh Rm. Dr. Rofinus Neto Wuli, Pr., M.Si (Han)

By Editor Florespos 28 Okt 2021, 19:46:43 WIB Opini
Servant Leadership dan Muspas VIII KAE (Catatan Pinggir  MUSPAS VIII KAE, Bajawa: 27-30 Oktober 2021

Rm. Dr. Rofinus Neto Wuli, Pr., M.Si (Han), Dosen & Kepala LPMAI Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa, Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende, dan Ketua DPD IKAL-LEMHANNAS Provinsi NTT periode 2021-2026.


Karakteristik Servant Leadership Larry C. Spears, mantan Direktur Robert K. Greenleaf Centre for Servant Leadership, menulis sepuluh karakteristik pemimin pelayan yang ditulis Robert K. Greenleaf yang sangat penting dan merupakan inti dari pemimpin pelayan. Spears sendiri menyebut 10 karakter utama yang harus dipenuhi pemimpin dengan semangat pelayanan (Spears dalam Blanchard & Broadwell, 2018: 15-17), yaitu: Pertama, Pemimpin yang mendengarkan (Listening). Pemimpin harus bisa mendengarkan orang lain dengan penuh ketulusan. Pemimpin membuka hatinya untuk mendapatkan masukan konstruktif dari para anggotanya. Kedua, Pemimpin yang berempati (Empathy). Pemimpin yang melayani akan menempatkan diri dalam situasi orang lain. Dengan empati, pemimpin menjadikan dirinya sebagai bagian dari anggota-anggotanya. Ketiga, Pemimpin yang menyembuhkan (Healing).

Pemimpin dapat menjadi teladan untuk bangkit dari kegagalan. Ia dapat membantu diri sendiri dan orang lain keluar dari penjara emosionalnya, bangkit dari kesulitan hidup.

Keempat, Pemimpin yang memiliki kesadaran diri (Awarenes). Pemimpin memiliki kemampuan rasional untuk bisa mengamati isu-isu aktual yang berkembang dan mampu melakukan kontrol terhadap diri sendiri. Inilah tipikal pemimpin yang membekali diri dengan kontrol emosi dan nilai-nilai etika kepemimpinan.

Kelima, Pemimpin yang persuasif (Persuasion). Pemimpin meyakinkan atau mengajak orang dengan cara persuasif; tidak dengan cara menekan. Ia tidak memaksakan kehendak secara otoriter dalam organisasi.

Baca Lainnya :

Keenam, Pemimpin yang cerdas melakukan konseptualisasi (Conceptualization). Pemimpin harus berpikir melampaui realitas konkret, membaca baris-baris tak terlihat dalam geliat organisasi. Ia dapat membuat konsep yang realistik dan elegan, bukan nihilistik.

Ketujuh, Pemimpin yang visioner (Foresight). Pemimpin memiliki kemampuan untuk membaca visi organisasi di masa depan. Ia akan melakukan analisis dengan cermat, tajam. Kontekstual, dan antisipatif terhadap masa depan organisasi. Hal ini akan membuatnya dapat merencakan dengan matang langkah antisipatif organisasi di masa yang akan datang.

Kedelapan, Pemimpin yang kapabel untuk melayani (Stewardship). Pemimpin yang melayani orang lain karena ia percaya terhadap orang yang lain dalam pelayanannya. Di sini ditekankan aspek kepedulian terhadap orang lain.

Kesembilan, Pemimpin yang mau membangun orang lain lain (Commitment to the growthof the people). Pemimpin demikian tidak egosentris, tetapi mengusahakan agar setiap orang dapat sama-sama bertumbuh dalam layanan. Pemimpin tidak mengekang pertumbuhan anggota, tetapi memberi kesempatan kepada anggota untuk berkembang dan matang dalam kediriannya. Pemimpin yang memberdayakan orang lain.

Kesepuluh, Pemimpin yang membangun komunitas (Building Community). Pemimpin yang melayani selalu berhubungan dengan komunitas. Ia dapat bekerja dalam tim, namun pada saat serentak memelihara keugaharian. Komunitas memungkinkan pemimpin membangun budaya organisasi yang saling melayani.

Demikianlah beberapa telaah teoretis terhadap kepemimpinan yang saling melayani. Kepemimpinan yang melayani mengutamakan adanya nilai-nilai di sekitar pelayanan seperti sikap saling mendengarkan, saling menghargai, empati, keterbukaan, dan lain-lain. Pemimpin yang melayani berkarakter suportif-partisipatif, terbuka, dan menjadikan orang lain sebagai subjek. Pemimpin yang melayani menekankan intersubjektivitas atau pertemuan antara setiap orang sebagai subjek yang setara. Ketika setiap orang diberdayakan dalam komunitasnya, ia dapat menjadi sosok pemimpin kuat yang dihormati.

Role Models The Servant Leader

Dalam sejarah peradaban umat manusia terbukti secara amat meyakinkan bahwa kepemimpinan yang melayani yang terinspirasi dari Yesus Kristus ternyata bisa diwujudkan dalam praksis nyata kehidupan sehari-hari. Dia bukan sekedar slogan atau tagline-tagline indah servant leadership. Ada banyak role models the servant leader, seperti Mahatma Gandhi: Pemimpin ugahari dari India menerapkan kelemahlembutan dan tidak melawan dengan jalan kekerasan. Ahimsa salah satu praktik hidupnya. Ia fokus pada kepentingan banyak orang, selfless.

Martin Luther King Jr: Memang pemimpin umat Kristen di Amerika, namun apa yang ia lakukan melintas batas dan menembus sekat. Menginspirasi dunia dengan karya dan tindakan nyatanya di bidang penegakan hak-hak sipil.

Bunda Teresa: seorang ugahari, biarawati dari Calcutta, India. Misionaris yang menjadi pelayan bagi semua kalangan. Tidak membeda-bedakan asal usul, kelompok, agama dan golongan. Sepanjang hayatnya, Teresa bekerja untuk kemanusiaan.

St. Paus Yohanes Paulus II: Di masanya menjadi pemimpin umat Katolik sedunia, ia berkeliling dunia menyerukan persaudaraan dan kemanusiaan. Pemimpin yang melayani ini memang disebut juga sebagai “servus servorum Dei (pelayan dari para pelayan Tuhan). Ia menerapkan dengan sungguh dan berkanjang dengan ajaran servant leader dari Yesus.

Paus Fransiskus: Paus menjalankan kepemimpinan yang melayani atas dasar inspirasi imannya akan Allah yang maharahim (miserando atque eligendo = karena kerahimanNya, memilihnya bdk Mat 9:9). Konsernnya dalam pelayanan bukan hanya pada diri manusia, tetapi efek positif dari perilaku manusia terhadap alam lingkungan hidupnya (ensiklik Laudato Si). Paus Fransiskus sebagai servant leader bahkan bisa me-manage dan meresolusi konflik di Sudan Selatan dengan nilai-nilai Servant Leadership, Ia dengan berani melakukan resolusi konflik menuju terciptanya rekonsiliasi damai di Sudan melalui tindakan kerendahan hati dengan mencium kaki para faksi dan para diplomat Sudan Selatan yang berkonlik pada 12 April 2019.

Sikap yang tampak hina dan rendah justru memberi pesan dahsyat dan kuatnya servant leadership sehingga mampu “menyapa” hati para faksi yang berkonlik di Sudan Selatan yang akhirnya membuahkan rekonsiliasi dan damai yang lestari dan tetap (reconciliation and sustainable peace).

Servant Leadership dan Muspas VIII: Impian Gereja KAE Sebagai Persekutuan Komunitas Umat Basis Yang Berspirit Komunio dan Miss

io Dari booklet putih “Menuju Musyawarah Pastoral VIII Keuskupan Agung Ende” yang dikeluarkan Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Ende (KAE) tahun 2021, Musyawarah Pastoral (Muspas) dimaknai sebagai kegiatan pastoral lima tahunan KAE, sebuah gerakan pastoral bersama umat KAE membangun Gereja Keuskupannya. Sebagai perhelatan pastoral, Muspas sudah dikenal luas sejak lebih dari 30 tahun silam, saat pertama kali digelar di Ende pada tahun 1987 pada era kepemimpinan mendiang Mgr. Donatus Djagom SVD, Uskup Agung Ende kala itu.

Kegiatan yang melibatkan peranserta seluruh umat se-Keuskupan ini telah terjadi selama tujuh kali.

Gereja Keuskupan Agung Ende selalu menyadari panggilan perutusannya sebagai persekutuan komunitas umat basis (communion of communions) yang bermisi di tengah arus zaman. Sebuah kesadaran yang kemudian diwujudkan dalam pelaksanaan karya pastoral yang membebaskan dan memberdayakan. Sejak Muspas I tahun 1987 melalui berbagai bidang keprihatinan, segenap umat bersama para fungsionaris pastoral terus bahu membahu menjalankan misi pembebasan dan pemberdayaan ini.

Oleh karena alasan terpaan badai pandemi covid-19 yang dahsyat, Muspas ke-8 yang seharusnya dilaksanakan tahun 2020, ditunda penyelenggaraannya pada tahun 2021 ini sebagai ajang membarui panggilan perutusan untuk terus bermisi.

Tahun 2020 diputuskan menjadi tahun “evaluasi komprehensif” yang diisi dengan berbagai kegiatan evaluasi secara utuh dan menyeluruh terhadap hidup dan karya Gereja KAE selama ini. Perhelatan Muspas VIII KAE tahun ini dilaksanakan tepatnya tanggal 27-30 Oktober 2021 di Bajawa yang dengan pertimbangan situasi khusus pandemi covid-19 penyelenggaraannya diselenggarakan di tiga rayon yakni di Kemah Tabor Mataloko, Rumah Retret Sang Timur Bejo, dan Biara OCD Bongenga.

Betapa urgen dan strategisnya peran Muspas, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Uskup Agung Ende, dalam Surat Gembala Prapaskah 2015 mengingatkan umat tentang kehadiran Musyawarah Pastoral dalam perjalanan pastoral KAE.

Dikatakan , Muspas demi Muspas telah digelar. Setiap Muspas merumuskan butir-butir keprihatinan tertentu yang kemudian ditanggapi dengan berbagai program dan kegiatan pastoral demi pembangunan sebuah Gereja Lokal yang semakin terlibat dan kontekstual, tetapi yang tidak mengeliminir diri dari hakikat Gereja sejagad, dari substansi perutusan Gereja Kristus yang satu dan sama (Puspas, 2021: 7).

Sungguh diyakini Muspas merupakan ajang refleksi bersama untuk menentukan strategi atau cara kerja baru demi membawa perubahan. Sejak Muspas 1 tahun 1987 hingga Muspas 7 pada tahun 2015 lalu telah ditemukan sejumlah masalah yang menjadi akar persoalan pastoral. Sederet permasalahan yang muncul dalam setiap Muspas hampir selalu sama dan berkisar pada masalah keluarga (relasi suami-isteri: kawin pintas, single parent, perceraian, selingkuh, KDRT, dll; Pendidikan anak: putus sekolah, kenakalan; masalah kaum muda: lapangan kerja, minim ketrampilan dan inovasi; migrasi anggota keluarga; beban sosial berupa belis serta berbagai kewajiban sosial, dll), masalah ekonomi (kemiskinan yang dipengaruhi minimnya lapangan kerja, kurang trampil, minim modal, dll), masalah kepemimpinan (leadership), dan berbagai masalah sosial lain seperti kriminalitas, tenaga kerja ilegal/perdagangan manusia (human trafficking), dan lain-lain. Selama kurang lebih 30 tahun, KAE telah menerapkan berbagai strategi dan kiat untuk mengentaskan sejumlah akar masalah. Namun dalam realitasnya, permasalahan seakan terus beranak pinak dan terkesan tidak terjamah para fungsionaris pastoral baik tertahbis (klerus) maupun terbaptis (Awam) (Puspas, 2021:111).

Kegiatan-kegiatan persiapan Muspas KAE ke-8 selain doa menyongsong Muspas yang didaraskan umat seantero Keuskupan, diawali dengan mengevaluasi kegiatan pastoral Komisi/Lembaga dan Paroki-paroki se-KAE lewat Focus Group Discussion (FGD) dan Katekese Umat (KU). Setelah dianalisis oleh Tim Khusus, hasil kedua kegiatan evaluatif tersebut diperbincangkan lanjut dalam Sidang Lintas Perangkat (SLP) Istimewa di awal bulan Januari 2021 sebagai Pertemuan Pra-Muspas VIII.

Hasil telaahan SLP Istimewa atau Pra muspas VII mengerucut pada keprihatinan atas situasi keluarga dan keprihatinan atas mekanisme kerja pastoral, dengan dua kesimpulan akhir yakni: perlunya Desain Pendampingan Keluarga dan Desain Pembenahan Struktur dan Mekanisme Kerja Pastoral.

Kedua keprihatinan utama Pendampingan Keluarga dan Pembenahan Struktur Mekanisme Kerja Pastoral inilah yang akan digumuli dalam hari-hari Muspas VIII di Bajawa yang berjalan di dalam Pola Proses (Pola Muspas) dengan menghayati gaya suportif-partisipatif (Gaya Muspas). Peserta Muspas VIII akan tersebar dalam empat kelompok diskusi dan pendalaman dalam tuntunan Roh Kudus mendalami: 1) Strategi Pendampingan Anak dan Remaja, 2) Strategi Pendampingan Orang Muda Katolik (OMK), 3) Strategi Pendampingan Pasutri, dan 4) Strategi Pembenahan Struktur Mekanisme Kerja Pastoral, lalu meningkat pada Pleno Desain Pendampingan dan Pembenahan, yang pada akhirnya sampai pada Rangkuman dan Pernyataan Pastoral.

Memaknai ajakan Yesus Kristus Sang Servant Leader melalui ayat-ayat suci Firman Tuhan (Markus 10: 42-45-Bacaan Injil Minggu Biasa ke-29 dua Minggu lalu & Matius 20:25-28) di atas dalam konteks perhelatan Musyawarah Pastoral VIII KAE hendaknya kita menjalani hari-hari Muspas dengan menghayati gaya suportif-partisipatif di mana di dalamnya segala prakarsa yang datang dari siapapun didukung, tidak ditolak atau dibabat hanya karena tidak dimunculkan melalui jalur dan perangkat pastoral Keuskupan yang ada. Dalam gaya Muspas ini mari kita sungguh-sungguh mengikuti contoh tauladan dari Sang Guru Agung kita Yesus Kristus dengan style Servant Leadership-Nya yang datang ke tengah dunia ini bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan diri-Nya menjadi kurban tebusan bagi banyak orang.

Kepemimpinan yang melayani berkarakter suportif-partisipatif, terbuka, dan menjadikan orang lain sebagai subjek, kiranya mewarnai atmosfir hari-hari Muspas VIII bermomentum penuh berkat dan bermartabat ini. Hendaknya kita sebagai Fungsiuonaris-Fungsionaris Pastoral baik Terbaptis maupun Tertahbis bersikap melayani, bukan menguasai. Kita melayani sebagai seorang “pelayan” pastoral yang berusaha menghidupi karakteristik servant leadership: saling mendengarkan, berempati, menyembuhkan, memiliki kesadaran diri, persuasif, cerdas melakukan konseptualisasi, visioner, kapabel untuk melayani, mau membangun dan memberdayakan orang lain sebagai implementasi nyata pastoral pembebasan dan pemberdayaan KAE, serta yang membangun komunitas umat basis (KUB) yang Injili, mandiri, solider dan misioner sebagai fokus dan locus berpastoral kita yang selaras zaman dalam spirit komunio dan misio.

Semoga impian dan mimpi kita melalui Muspas sebagai sarana ampuh penyadaran diri untuk kembali pada gerakan Roh yang benar menuntun kepada kesadaran Gereja akan dirinya sebagai Gereja Komunio yaitu Gereja sebagai persekutuan umat beriman yang percaya akan Yesus Kristus dan bersemangat Misio yaitu Gereja yang selalu menyadari mission perutusannya di tengah tata dunia.

Kiranya Impian dan harapan melalui Muspas demi Muspas dan kini Muspas ke-8 yaitu terwujudnya suatu “masyarakat baru” Keuskupan Agung Ende dapat tercapai.

Sebuah masyarakat baru KAE yang saling mendengar dan saling menerima; di mana di dalam masyarakat baru itu Komunitas Umat Basis (KUB) menjadi perangkat Gereja yang ampuh menjalin perdamaian dan suasana kasih lintas bantas, sebuah masyarakat baru KAE yang menghayati universalitas keselamatan; KUB sebagai suatu cara hidup baru bergereja yang pertama-tama mesti menampilkan suasana kehidupan bersama. Gereja Keuskupan Agung Ende yang menampakkan hidup sebagai suatu persekutuan (Koinonia) dalam bentuk yang paling kecil namun mendasar di Keluarga sebagai Ecclesia Domestica dan KUB , yang merayakan iman melalui doa dan peribadatan (Leiturgia), mewujudkan pelayanan (Diakonia) melalui pekerjaan, dan memberi kesaksian (Martyria) dalam pergaulan, yang kesemuanya itu menjadi sarana penginjilan (Kerygma) yang baru (Puspas, 2021:101).

Kiranya dari kebersamaan kita di hari-hari pergumulan Muspas VIII ini dapat menghadirkan keprihatinan bersama yang menjadi titik pijak kebijakan dan strategi karya pastoral KAE yang terpadu (integral dan holistik), terarah dan sistemik. Kita percaya dalam kuat kuasa berkat dan jamahan kasih Tuhan Yesus sang servant leader, seluruh peserta Muspas bersama Panitia dan Puspas KAE, berdasarkan keprihatinan bersama tersebut dapat menyusun rancang bangun program dan kegiatan strategis dengan prinsip-prinsip manajemen pelayanan terukur untuk menjawabi keprihatinan-keprihatinan sekaligus mewujudkan mimpi Gereja yang membebaskan dan memberdayakan menurut kehendak dan penyelenggaraan Allah (providentia Dei), demi terciptanya tatanan kehidupan dan suasana dunia baru (bdk.Yoh.10:10). Dengan demikian, peran dan fungsi setiap sumber daya, serta kehadiran dan partisipasi aktif setiap kita dalam Muspas VIII yang digelar dalam situasi extra ordinary di tengah pandemi covid-19 dengan protokol kesehatan ketat ini, sesungguhnya merupakan sebuah kontribusi pelayanan. (bagian kedua/habis)*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.