Senat Mahasiswa STP Reinha Larantuka Gelar Seminar Moderasi Beragama
Penulis: Frans Kolong Muda/Editor: Wentho Eliando

By Editor Florespos 11 Nov 2021, 16:34:00 WIB Pendidikan
Senat Mahasiswa STP Reinha Larantuka Gelar Seminar Moderasi Beragama

Para mahasiswa dan dosen Lembaga STP Reinha Larantuka sedang mengikuti seminar hasil penelitian bertema "Moderasi Beragama" yang dibawakan empat peneliti mahasiswa/i lembaga tersebut di Auditorium STP Reinha Larantuka, Rabu (10/11/2021). Foto: Dok.Humas STP Reinha Larantuka


Larantuka, Florespos.net-Senat Mahasiswa (Sema) Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Reinha Larantuka yang alamat kampus di Kelurahan Waibalun, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Rabu (10/11/2021) menggelar seminar ilmiah dengan mengusung tema “Moderasi Beragama”.

Seminar tersebut menampilkan empat pembicara bertatus mahasiswa/i yang sedang mengenyam pendidikan di Lembaga STP Reinha Larantuka. Para pemateri mengupas hasil riset atau penelitian ilmiahnya masing dalam konteks Moderasi Beragama menurut bobot penelitian masing-masing.

Rilis yang diterima Florespos.net dari Seksi Humas Kampus yang juga sebagai Dosen STP Reinha Larantuka, Yosep Belen Keban, S.S, M.M,  Kamis (11/11/2021) menyebutkan, empat mahasiswa pemateri mempresentasekan hasil penelitian masing-masing dalam konteks Moderasi Beragama.

Baca Lainnya :

Pembicara I: Letitia Susana Beto Letek, mahasiswi semester V dengan hasil riset bertajuk: “Moderasi Beragama Berbasis Budaya Lokal dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SMP Negeri 1 Larantuka”.

Pemateri II:  Fransiskus Visarlan Suwarni, mahasiswa semester VI dengan materi bertajuk: “Komitmen Kebangsaan Mahasiswa STP Reinha Larantuka Melalui Ritual Keagamaan dalam Spirit Asian Youth Day 2017”.

Pemateri III: Yosep Doni Gokok mahasiswa semester V dengan materi bertajuk: “Membangun Budaya Damai di Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) St. Fransiskus Asisi Larantuka”.

Pemateri IV: Elisabeth Claudya Doren mahasiswi semester III mengupas topik diskusi hasil penelitian ilmiahnya: “Pengembangan Sikap Toleransi Beragama Melalui Budaya Sekolah bagi Siswa SMA Negeri 1 Larantuka”.

Seminar yang berlangsung di Auditorium STP Reinha Larantuka berlangsung dari pukul 10.00-12.30 Wita dipandu moderator tunggal, Ermelinda Lamapaha. Peserta seminar sebanyak 150 orang dari kalangan dosen dan mahasiswa STP Reinha Larantuka.

Yosep Belen Keban lebih lanjut melaporkan, seminar dibuka Ketua Program Studi Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik, STP Reinha Larantuka, Alfons Mudi Aran, S.Pd, M.M.

Alfons dalam sambutannya mengatakan, seminar Moderasi Beragama merupakan seminar hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa/i STP Reinha Larantuka dalam rangka mengikuti perlombaan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Perguruan Tinggi Agama Katolik.

Seminar seperti ini harap Alfons mesti terus dilakukan di masa mendatang dan menjadi program atau agenda tahunan lembaga.

“Sebab dengan seminar mahasiswa/i dibekali ilmu dan pengalaman yang memadai sehingga mampu berdaya saing dengan masyarakat umum lainnya,” tandasnya.

Alfons mewakili Sivitas STP Reinha Larantuka mengucapkan proficiat bagi keempat mahasiswa yang sudah mencurahkan inteligensinya melakukan penelitian dan menulis KTI dengan sangat baik.

Lembaga STP Reinha Larantuka mengharapkan kepada semua mahasiswa aktif berkontribusi dalam ajang karya ilmiah ini baik dalam lingkup kampus maupun di ajang Nasional di kemudian hari.

Peneliti Letitia Susana Beto Letek, dalam pemaparan materinya menggarisbawahi implementasi budaya lokal Lamaholot dalam sistem pembelajaran PAK berbasis budaya lokal dipandang sangat urger dan penting untuk diupayakan oleh lembaga pendidikan. Hal ini tandas Susana bertujuan menanamkan prinsip moderasi beragama bagi peserta didik sejak dini.

Pemateri Fransiskus Visarlan Suwarni dalam konteks hasil penelitiannya menegaskan kawula muda berandil menjaga dan merawat kebhinekaan yang ada di tengah pluralitas. “Spirit Asian Youth Day 2017 (AYD 2017) menjadi inspirasi bagi kaum muda dalam hal ini mahasiswa/i STP Reinha Larantuka dalam membangun sikap komitmen menjaga persatuan Indonesia”.

Yosep Doni Gokok, dalam paparan hasil risetnya menandaskan budaya damai di sekolah mesti diciptakan karena pada prinsipnya sekolah merupakan lokus disemaikan nilai-nilai kehidupan para peserta didik.

Elisabeth Claudya Doren, dalam pemaparan materinya mengatakan, sikap toleransi sejauh ini sudah dan sedang dihidupkan oleh peserta didik di lembaga  SMA Negeri 1 Larantuka. Toleransi semacam ini imbuhnya, sudah menjadi budaya sekolah tersebut.

Ketua Sema STP Reinha Larantuka, Ferdinand Daud kepada media ini menyampaikan rasa hormat dan bangga dibukanya ruang diskursus ilmiah yang diselenggarakan Sema.

Menurutnya ruang keilmiahan seperti ini menjadi sangat penting dan terus dihidupkan.

“Ruang ilmiah ini sangat penting dan tetap dihidupkan supaya melatih, mengasah, dan mempersiapkan masa depan para mahasiswa. Kegiatan ini tidak berhenti pada tema Moderasi Beragama semata. Kita semua mengharapkan masyarakat ilmiah dalam hal ini para mahasiswa berkontribusi dalam kegiatan penelitian ilmiah,” harap Daud.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.