Saat Dunia Rasa di Pusaran Arus Gelombang (Tabur Seadanya seputar Manipulasi Perasaan)
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 03 Nov 2021, 09:12:22 WIB Opini
Saat Dunia Rasa di Pusaran Arus Gelombang (Tabur Seadanya seputar Manipulasi Perasaan)

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Sebuah Rumah Penuh Rasa

“Jangan baperan-lah! Jangan terlalu ber-halu dengan aneka perasaan yang bukan-bukan!” Inilah nasihat bijak bagi yang sering terpendam atau terungkap rasa sebegitu mudahnya! Yang begitu sentimental dan emosional. Dinasihati agar sering-seringlah gunakan akal sehat. Demi mencermati segala kata, sikap, tindak, dan aneka peristiwa yang datang mendera! Namun, apa mungkin dunia emosi sebegitu mudah ditaklukkan? Saat ia sungguh  nyata terasa, walau ia  tersembunyi di sudut hati terdalam? Dan tak terungkap jelas dan lugas? Perasaan itu milik semua!

Darwin pasti benar! ‘Perasaan manusia itu universal’ (1872). Itu karena di antara manusia ada kesanggupan saling menangkap dan menimbang rasa. Ungkapan emosi pun terbaca sama secara umum. Raut wajah akibat rasa marah, kecewa, atau putus asa, di mana-mana tentu tak ada hiasan berupa sebentuk senyuman manis di bibir. Tak ada orang yang lagi terpanah asmara penuh sukacita atau dapat kejutan penuh pesona, lantas punya ekspresi wajah sayu bernada minor. Sebaliknya, ia pasti berwajah sinar berbinar. Berbunga-bunga! Karena ‘telah berjumpa yang dicari, telah bersua yang dinanti…’

Baca Lainnya :

Tetapi, ber-perasaan itu sekian burukkah? Bahagia, sedih, marah, takut, kaget, dan jijik tetap jadi pengalaman emosional setiap manusia. Memang,  pemikir-pemikir sebelum Masehi seperti Konfusius, Plato, Aristoles atau Demokritus punya penilaian degradatif-peyoratif atas perasaan. Dunia rasa itu ada di kasta lebih rendah. Ia berbau arkais-primitif.  Karena itulah, hasrat-rasa harus dikekang untuk tidak memasung dan meracuni kedigdayaan peran akal budi.

Kedaulatan Emosi

Bagaimana pun, bukankah, sekali lagi, perasaan punya tempat dalam diri setiap manusia? Dunia rasa itu bisa bergejolak sejauh menjadi satu reaksi terhadap stimulus dari dunia luar (eksterior). “Jangan bikin orang emosi; hentikan lagak laku pun kata-kata yang hanya ‘mau kasih panas hati orang.’’ Tetapi, bukankah sekian banyak lukisan kata-kata motivasional juga berpengaruh untuk bangkitkan rasa penuh harapan dan menghibur? Sebuah puisi dan syair indah, misalnya,  punya kesedapan sendiri. Ia ibarat bumbu-bumbu di dapur percakapan yang terbitkan selera di rongga dada.

Dunia rasa, itu tadi, bertempat tinggal dalam diri setiap manusia. Bahkan, ia dapat menjadi standar ukuran untuk menilai tata kepribadian atau pembawaan seseorang. Sama sekali tak ada soal bila terdengar kalimat: ‘Udara di sini dingin, sebaliknya di sana panas.’ Pasti lain cerita andaikan sifat dingin atau panas ditempelkan pada pribadi tertentu. Repot dan bisa berujung kemelut jika kata ‘dingin’ dihubungkan dengan perangai bos-ku dan ‘panas’ bila dikaitan dengan penampilan sekretarisnya.

Para ahli, dalam berbagai kajian ilmiah, pada konklusinya, ingatkan betapa pentingnya kedaulatan emosi yang rasional. Citra emosi yang sehat itu dituntut, tidak hanya dari subjek yang merasa, melainkan juga dari siapa pun.  Tak boleh ada gelagat untuk mempermainkan perasaan sesama yang manipulatif sifatnya. Tak boleh ada riak-riak PHP (Pemberi Harapan Palsu) yang ayun-ayunkan perasaan orang. Memang, setiap individu diharapkan dan dituntun untuk mencapai takhta kecerdasan emosional yang sehat dan seimbang.

Relasi Penuh Gaung Rasa

Dunia rasa ternyata tak hanya bergelora di titik subjek diri semata. Ia punya kaitan erat dengan kualitas relasi. Perjumpaan dengan sesama bisa bangkitkan rasa. Rasa berbunga-bunga pastilah terbit bila punya relasi baik dengan, katakan, tetangga atau teman di kantor. Bayangkan, bila relasi buruk tengah dialami? Rasa hati tak karuan, tak nyaman, benci, pun geram meletup-letup, yang rasa-rasanya menekan kita untuk ‘pergi habok atau menghardik sesama itu.’ Maka, hati-hatilah dengan gejolak perasaan negatif.

Kecerdasan emosi lahir pula dari aura penuh kepekaan akan lingkungan sosial. ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’  dengan segala kebiasaan dan adat budaya. Iya, termasuk ungkapan dan kata-kata atau kelakuan yang mesti diseriusi. Serba terbuka, langsung, tak berbelit-belit dengan tesis-tesis yang masuk akal akan cepat dimengerti dalam konteks Eropa.

Tetapi, untuk seorang Afrika atau Asia, umumnya masih ada soal cara atau tata penyampaian yang tak boleh dianggap enteng. Karena hal itu amat berpautan dengan cara bagaimana ia bereaksi-nya sebagai pribadi yang terlahir dan besar dari ‘budaya-nya.’ Dan hal ini tentu bersinggungan telak dengan kewibawaan dunia rasa-nya sendiri.

Mari sejenak mengarah ke permainan rasa yang semakin santer terbaca kini. Katakan saja ini sebagai satu gaung atau strategi  politisasi emosi. Tentu ada emosi kolektif positif yang menuntun kepada alam kerja sama, gotong royong, rasa kekeluargaan, cinta kebersamaan dan persatuan. Semuanya bisa mengarah pada satu sikap dan tindakan luhur demi marwah persatuan dan kesatuan itu sendiri.

Saat Saling Sindir Tak Terelakkan

Tetapi, bukankah kini saling sindir telah jadi satu keterampilan pula dalam rana kemasyarakatan? Katakan begini praktisnya, kalah  itu sering sulit diterima sebagai keadaan objektif-faktual. Bahwa memang nyatanya kita kalah. Tetapi fakta kalah itu telah menyusup bebas hambatan ke dalam dunia rasa. Maka, jadilah suasana hati: ‘rasa atau merasa kalah.’ Ada musuh yang mengalahkan atau menghambat untuk memenangkan sesuatu. Maka, perang dan pertempuran tak terelakkan. Ini repotnya juga bila kita cuma punya cerita tentang kemenangan. Tanpa ada narasi kebesaran hati untuk mengakui kekalahan.

Lihatlah. Saling sindir di dunia maya bergaung bebas. Sering tak peduli lagi pada data, fakta, atau kenyataan yang sebenarnya. Di sini, imperium akal budi tak terlalu berarti. Tak diperlukan sejadinya. Gencarnya serangan ad hominem tak terelakkan. Intinya, merasa menang karena telah mengalahkan dengan sindiran dan permainan ‘apik dan tajamnya  kata-kata’ itulah yang  menjadi tujuan.

Jika permainan berbalas pantun penuh sindiran ini terkreasi oleh partai politik yang libatkan para officiales partai, tentu semuanya ada dalam kisi-kisi ad intentionem politis. Ini tak lepas bebas dari daya saing penuh sengit dan seru. Mengalahkan kompetitor adalah langkah pasti sebagai satu syarat mutlak demi mendulang simpati publik (vote). Dan pada titiknya, semua bermuara pada takhta atau setidaknya pada posisi dekat di lingkaran kekuasaan.

Dalam berbagai rana kehidupan, taktik permainan rasa juga dikobarkan. Dalam dunia olahraga, semisal sepak bola, menciptakan goal itu datangkan gestur rasa sukacita. Penuh ekpresi berseri. Namun, lihat saja bila lawan dianggap bermain kotor, ‘sentuh sedikit saja,’ ekspresi mengerang kesakitan tampak sejadi-jadinya. Tapi, semua rasa sakit berakhir segera saat lawan diganjar  kartu. Bukankah wasit pun bisa bereaksi di titik  rasa terhadap sebuah aksi ‘erangan kesakitan?’

Tetapi, mungkinkah sekian banyak dari kita yang ‘halu dan baperan karena ditikam rasa oleh berbagai tayangan sinetron di Televisi, namun tak cuma pada dunia hiburan? Tak dapat disangkal, pengahayatan agama pun tak kebal dari permainan rasa.

Agama di Balik Permainan Rasa

Mari, ambil misalnya, apa maksud di balik konten medsos bermuatan tentang ‘doktrin, tradisi, upacara, atau hari raya’ dari agama tertentu? Sekadar menambah wawasan di antara semua kaum beragama yang majemuk ini? Syukurlah bila semua ditanggapi dalam konteks dan tata pemahaman yang dewasa. Akan tetapi, betapa acapkali, informasi positif tentang agama tertentu bisa sebaliknya gelorakan rasa tak karuan bagi penganut yang lain.

Dalam banyak situasi, cita rasa-sentimen identitas berporos keagamaan tetap jadi andalan. Agama yang seharusnya  menjadi jalan agung menuju Tuhan dan mengakrabi sesama bisa berubah menjadi keranda jenazah yang membawa penganutnya ke alam penjara kegelapan makam.

Sepantasnya, sensus religiosus itu berpangkal dari depositum fidei (perbendaharaan iman) yang berakar-hidup dari Kitab Suci, Tradisi, Ajaran yang sah. Dan lagi, bahwa penghayatan agama itu pun mesti tiba pada suasana konsolatif yang tak terlukiskan. Saat rasa keberagamaan itu dihubungkan dengan misteri-sakralitas yang selalu membangkitkan kerinduan pada Yang Ilahi. Jika tidak, betapa isi dan cara penghayatan  keberagamaan itu masih sebatas dunia rasa yang baperan, cengeng, serta histeris. Penuh reaksi-sentimental seputar lintasan manusiawi belaka.  

Verbo Dei Amorem Spiranti.

Collegio San Pietro-Roma

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.