Pesta Adat Koko Bale, Direktur Masyarakat Adat Kemendikbud Apresiasi Masyarakat Lewotala
Penulis: Wentho Eliando/Editor: Anton Harus

By Editor Florespos 26 Sep 2021, 18:45:08 WIB Nusantara
Pesta Adat Koko Bale, Direktur Masyarakat Adat Kemendikbud Apresiasi Masyarakat Lewotala

Puncak pesta rumah adat Koko Bale di Lewotala, Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT, Sabtu (25/9/2021).


Larantuka, Florespos.net-Direktur Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (KTYE) dan Masyarakat Adat-Direktorat Jendral (Dirjen) KTYE dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek Republik Indonesia, Samsul Hadi menghadiri puncak pesta adat Koko Bale (rumah adat) Lewotala, di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi NTT, Sabtu (25/9/2021).

Samsul Hadi mengatakan Kemendikbud dan Ristek sangat mengapresiasi berbagai usaha-usaha pemajuan bidang kebudayaan di Indonesia termasuk di Kabupaten Flotim.

Salah satu usaha itu melalui pesta adat Koko Bale yang hingga saat ini masih dipertahankan nilai-nilai adat, budaya dan warisan leluhur oleh masyarakat adat setempat.

Baca Lainnya :

“Salam dari bapak Mendikbud dan Ristek, serta Dirjen Imam Syarif. Saya mewakili menyampaikan, salam dan mengapresiasi Masyarakat Adat Lewotala dalam berbagai usaha-usaha pemajuan bidang kebudayaan, salah satunya melalui pesta adat dan budaya Koko Bale ini,” katanya.

Samsul Hadi mengatakan, sesuai amanat UU Pemajuan Kebudayaan, terdapat 10 obyek kebudayaan masyarakat adat.

Dia menyebut beberapa di antaranya, yakni tradisi lisan masyarakat adat, manuskrip, adat istiadat dan ritus.

Tradisi lisan, manuskripsi, adat istiadat, ritual dan ritus, kata Samsul Hadi, semuanya ada di Kabupaten Flotim umumnya, dan Masyarakat adat Lewotala, khususnya.

“Di Flotim ini ada 1001 ritus dan ritual adat. Kita sangat mengharapkan bisa ditemukenali bersama generasi muda dan anak-anak di lembaga pendidikan formal, ritual adat pada hari ini berkelanjutan. Mari bersama kita angkat nilai-nilai tradisi dan ritus masyarakat adat,” katanya.


Samsul Hadi mengatakan, dengan digelarnya acara adat Koko Bale, masyarakat, kaum perempuan, orang muda, anak-anak dan para tetua adat terus menerus memajukan kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan masyarakat adat Lewotala di Kabupaten Flotim.

Kebudayaan, katanya, perlu terus menerus diangkat dan dilestarikan karena kebudayaan mengangkat harkat dan martabat suatu daerah atau bangsa.

Saat ini, sesuai amanat UU Pemajuan Kebudayaan, masyarakat adat mempunyai ruang ekpresi yang sangat terbuka. Pemerintah mendorong dan mendukung terselenggaranya kegiatan adat dari masyarakat adat.

“Kita berharap ritual adat pada hari ini terus berkelanjutan. Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud dan Ristek mendorong dan mendukung pemajuan kebudayaan melalui terselenggaranya kegiatan adat dari masyarakat adat seperti di Lewotala,” kata Samsul Hadi.

Samsul Hadi mengharapkan Masyarakat Adat Lewotala terus mengangkat kekuatan sandang seperti tradisi tenun ikat, pangan tradisi lumbung dan papan melalui pembangunan secara gorong-royong seperti pembangunan rumah adat.

Pesta Adat Koko Bale

Masyarakat Adat Lewotala menggelar puncak pesta adat Koko Bale atau pesta rumah adat yang berpusat di lokasi Koko Bale, di Lewotala, Desa Bantala, Jumat dan Sabtu (24-25/9/2021).

Pesta rumah adat Koko Bale ini tidak berlangsung setiap tahun. Pesta ini bisa dilangsungkan, jika ada kesepakatan adat dari suku-suku dan melihat kondisi rumah adat, apa perlu atau tidaknya diperbaiki.

“Pesta adat Koko Bale ini terakhir kali dilangsungkan oleh masyarakat adat Lewotala pada tahun 2006. Hari ini, seluruh masyarakat adat di sini menggelar kembali Koko Bale," kata Lambertus Hurit, orang tua yang menggarisbawahi peristiwa Koko Bale, pada puncak acara, Sabtu (25/9/2021).

"Koko Bale adalah identiftas masyarakat adat. Urat nadi dan menyimpan hal-hal positif masyarakat adat. Segala yang berkaitan masyarakat adat ada di Koko Bale,” kata Lamber Hurit.


Silvester Petara Hurit, tokoh masyarakat adat Lewotala, kepada Florespos.net, Jumat (24/9/2021) malam, mengungkap beberapa tahapan puncak pesta adat Koko Bale, yakni dimulai dari Hugur, Belu Atu Mera, Ho’i Laga Ume, Ume El’a, Belo Ume dan Huke Nuke.

Menurut dia, proses pesta adat itu berlangsung sejak dua pekan yang dimulai dari persiapan bahan-bahan bangunan, seperti kayu dan atap yang disiapkan oleh masing-masing suku.

Proses persiapan dan pengerjaan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat adat setempat. Setelah proses pengerjaan selama dua pekan selesai, masyarakat adat lalu menggelar puncak acara di Koko Bale.

Sebagaimana tahapan, puncak acara di Koke Bale dimulai dari ritus dan ritual adat oleh tetua adat untuk ucapan syukur, memanggil leluhur, dewa-dewi datang bersama dalam acara tersebut.

“Ini berlangsung sepanjang malam hingga subuh hari. Masyarakat adat menari dan menyanyi sampai tahap berikutnya ke esokan hari,” kata Silvester Hurit.

Selanjutnya, kata Silvester Hurit, suku-suku masyarakat adat setempat membawa hewan kurban, pemotongan hewan korban, pembagian daging kurban dan makan bersama di Koko Bale. Selain itu, ada juga pemotongan hewan kurban persis di atap Koko Bale.

Silvester Hurit yang juga Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flotim ini mengatakan, ada 8 tiang utama dan secara keseluruhan terdapat 16 tiang di Koko Bale.

“Tiang-tiang itu, sesungguhnya melambangkan suku-suku yang ada di Masyarakat Adat Lewotala,” katanya.

Pada puncak pesta adat Koko Bale, Sabtu (25/9/2021) itu, Direktur KTYE dan Masyarakat Adat, Samsul Hadi hadir didampingi Bupati Flotim, Antonius Hubertus Gege Hadjon, Ketua TP PKK Kabupaten Flotim, pimpinan dan staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flotim. Hadir juga masyarakat adat setempat.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment