Pengakuan ODHA: Saya Pernah Diperlakukan Diskriminatif
Kontributor: Avent Saur/Editor:Anton Harus

By Editor Florespos 04 Des 2021, 15:06:29 WIB Nusa Bunga
Pengakuan ODHA: Saya Pernah Diperlakukan Diskriminatif

Sejumlah Bruder SVD di Biara Santo Konradus Ende dan Komisi Penanggulangan AIDS Kabuapten Ende serta para simpatisan menggelar Doa Seribu Lilin dalam rangka memaknai Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2021, di Pelataran Gua Maria BSK Ende.


Ende, Florespos.net-Penyintas HIV/AIDS di Kabupaten Ende, Provinsi NTT, Maria Goreti, mengaku pernah diperlakukan diskriminatif oleh orang-orang terdekatnya saat diketahui terinfeksi HIV/AIDS pada beberapa tahun silam.

Dirinya terinfeksi HIV/AIDS saat mengandung buah cinta, usia 5 bulan.

“Saya alami keguguruan dan pendarahan. Badan saya kurus sekali. Usai diperiksa, saya didiagnosis terinfeksi HIV/AIDS,” tuturnya.

Baca Lainnya :

Saat itu, Ibu asal Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende ini, menuturkan, saat itu dirinya tinggal bersama suami di Kefamenanu, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

“Saya memang rasa biasa saja. Tanggung saja. Namun keluarga di Kefamenanu pernah perlakukan saya diskriminatif,” tuturnya.

“Saya ditempatkan di sebuah kamar. Makanan-minuman diberikan melalui lubang kecil. Mereka kucilkan,” lanjutnya.

Hal ini disampaikan Maria Goreti dalam testimoni acara Doa Seribu Lilin yang digelar para bruder Komunitas Biara Santo Konradus (BSK) Ende dalam rangka memaknai Hari AIDS Sedunia yang setiap tahun jatuh pada 1 Desember.

Penyalaan lilin dilakukan di pelataran Gua Maria BSK pada Rabu (1/12/2021), pukul 18.15-19.30 Wita.

Hadir dalam kegiatan ini, para postulan dan bruder yuniores, serta Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPS) Kabupaten Ende Maria Imaculata Dete dan Staf KPA Kabupaten Ende Valen Rhaki.

Hadir juga para mahasiswa simpatisan dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende.

Setelah dirawat di Kefamenanu, dirinya terbang ke Ende, untuk selanjutnya ke kampung.

“Staf Puskesmas Nangapanda jemput saya di Bandara Ende. Di kampung, saya diterima secara adat. Keluarga memeluk dan menangis,” katanya.

Namun, menurut Maria Goreti, dirinya sempat diperlakukan diskriminatif di kampung. Ketika tampak pulih dan badan segar, diri sudah berbaur dengan keluarga dan masyarakat.

“Kini orang-orang di kampung merasa saya sudah sembuh. Saya baik-baik saja, tetap minum obat,” katanya.

Bagaimana Penularan HIV?

Sekretaris KPA Kabupaten Ende, Maria Imaculata Dete, mengatakan, penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seks bebas, jarum suntik saat pembuatan tato, dan lain-lain.

“Tularnya bukan melalui udara, bukan pelukan. Itu salah,” katanya.

Menurut Dete, kasus infeksi HIV banyak menyasar para ibu rumah tangga. Setelah suaminya jajan seks di luar, kemudian berhubungan istrinya, menularkan virus tersebut.

“Kita tidak tahu, apakah seseorang terinfeksi HIV, jika belum diperiksa. Jangan berhubungan seks dengan orang yang kita tidak tahu kondisi kesehatannya. Jangan seks bebas,” tegasnya.

Doa Seribu Lilin

Upacara Doa Seribu Lilin yang dipimpin Koordinator JPIC Komunitas BSK, Pater Avent Saur SVD tersebut diisi dengan doa-doa puitis yang dibawakan oleh para bruder Yuniores.

Tuhan, sadarkanlah mereka. Ketuklah pintu hati mereka agar mereka dapat mencium derita sesama,” doa Bruder Mindo Atok SVD untuk pemangku kebijakan.

“Ya Allah ya Rabi, anugerahilah hamba-hamba-Mu, dalam Serikat Sabda Allah, yang selalu memeluk kasih dan kemuliaan-Mu untuk kepentingan Kerajaan Allah,” doa Bruder Verry Manek SVD untuk para pastor dan bruder SVD yang menaruh kepedulian pada masalah HIV/AIDS dan para ODHA.

“Kami mohon, Tuhan, semoga Roh Kudus-Mu membimbing masyarakat kami agar lebih utamakan cinta kasih dalam setiap langkah hidup mereka,” doa Melky Baok SVD untuk masyarakat agar para ODHA tidak diperlakukan diskriminatif.

“Tuhan, semoga doa kami membumbung ke hadirat-Mu,” doa Bruder Saver Aki Bay SVD untuk para sukarelawan yang peduli pada masalah HIV/AIDS dan para ODHA.

“Hanya dengan sebait doa yang kami panjatkan untuk melewati segala ujian yang Kau berikan. Hanya dengan sebait doa agar orang-orang dengan HIV-AIDS mampu memikul beban salib yang Kau berikan,” doa Bruder Fabi Kapitan SVD untuk para ODHA.

Para peserta Doa Seribu Lilin untuk ODHA menyalakan lilinnya pada garis berbentuk hati.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment